YP x Kamisan (Jali) web

#SuratUntukPresidenJokowi – Jokowi Mengukir Sejarah Yang Tak Humanis

“Payung kita satu, komitmen HAM kita yang tak sama…”
Halo Pak Jokowi,

Saya memulai surat ini dengan gubahan lirik dari lagu fenomenal karya Marcell Siahaan, berjudul Peri Cintaku. Fenomenal bagi mereka yang mengalami kesenjangan antara harapan dan realita. Dalam konteks lagu ini ialah sulitnya bersama menjalin relasi cinta karena halangan perbedaan agama. Jika belum pernah mendengar lagunya, saran saya sempatkan waktu sejenak untuk bisa mengerti salah satu keresahan banyak warga di Negara yang Bapak pimpin. Tragis.

Selanjutnya saya akan menyampaikan hal tragis lainnya yang terjadi di kehidupan kita sebagai bangsa. Yakni begitu kelamnya sejarah bahkan masih berlangsung dengan skala tertentu di hari ini terkait kemanusiaan di Indonesia. Hak dasar seperti kehidupan yang seharusnya dijamin dan dilindungi Negara justru kerap dilanggar dan berwujud menjadi pelanggaran HAM berat. Perampasan hak tersebut mendapat predikat berat karena ada relasi kuasa antara Negara dengan segala sumber dayanya yang merugikan warganya. Sialnya, alih-alih merasa bersalah, meminta maaf kepada para korban, menyelenggarakan pengadilan serta hukuman bagi para pelaku dan menyebarkan informasi terhadap seluruh warga, Negara justru lari dari runtutan tanggungjawabnya.

Ibarat tertimpa tangga setelah jatuh, Negara yang hari ini Bapak pimpin justru membuat berbagai hal yang merupakan kebalikan dari yang saya sebut di atas. Absennya hukum alias impunitas atas pelanggaran HAM berat di Indonesia adalah sumber masalahnya dari ini semua, Pak. Para jenderal militer yang pelurunya menewaskan, taktiknya mampu memenjarakan, melenyapkan identitas kewarganegaraan, menghilangkan paksa dan berbagai huru-hara yang menyengsarakan warga tidak juga dipanggil perangkat hukum untuk mempertanggungjawabkan dosanya. Lucunya mereka masih eksis berkat yang katanya hak prerogatif Bapak.

Para keluarga korban harus melanjutkan hidup dalam derita yang mendalam karena tidak pernah ada kebijakan yang bisa Negara wujudkan sebab status yang kabur dari peradilan yang tanggung. Meski sebagian dari mereka yang paling penting ialah keadilan itu tersendiri. Saya dan ratusan juta warga lainnya juga punya hak yang berkaitan dengan pelanggaran HAM.

Kami berhak atas informasi yang utuh dan benar dari peristiwa demi peristiwa berdarah yang pernah tercipta. Dan yang terpenting ya jaminan akan ketidakberulangan sesuatu yang terjadi di kekisruhan Mei 2019 kemarin misalkan, tokoh yang terlibat mirip dengan sejarah kericuhan 1998. Bedanya pemetaan aktor berada di sisi yang berbeda. Saya juga mengecam dengan keras pilihan untuk metode militeristik yang Negara tempuh di Papua persis dengan apa yang Orde Baru pernah tempuh di Timor Timur dulu.

Saya yakin Bapak (atau setidaknya ada beberapa pihak di sekeliling Bapak) paham akan ini semua. Kalian kan pernah merumuskan ini menjadi janji kampanye hitam di atas putih bahkan meningkat menjadi program di RPJMN. Apa karena hanya di dua kali pilpres yang Bapak ikuti pesaingnya adalah nama yang diduga terlibat pelanggaran HAM berat?. Toh setelah berakhir pun dirinya mesra kembali dengan Bapak dan partai yang seolah gontok-gontokkan dulu.

Terakhir, saya ingin memberitahu bahwa sesaat lagi Aksi Kamisan sebagai sarana warga menuntut penuntasan kasus HAM berat di Indonesia akan memasuki penyelenggaraan yang ke-600. Sejak 18 Januari 2007, kami sudah menuntut penerapan Pancasila dan UUD 1945 yakni Negara yang berperikemanusiaan. Waktu Bapak tinggal 5 tahun untuk menunaikan itu semua. Sebab kami tidak akan ragu mencatat dan menyiarkan bahwa Joko Widodo adalah seorang pemimpin yang mengabaikan pelanggaran HAM berat. Dan oleh karena itu, Bapak juga bisa abadi dikenang sebagai salah satu nama yang berlumur dosa. Pilihlah bagaimana Bapak mau dikenang. Kami tunggu keberaniannya!

Hidup Korban! Jangan Diam! LAWAN!!!

 

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page
Ahmad Sajali

Tentang Ahmad Sajali

Belajar antikorupsi di @youthproactive. Belajar kemanusiaan di @aksikamisan. Belajar menjadi warganet yang baik di @jolayjali. Baca tulisan lain dari penulis ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *