1567514177131_YP x Kamisan (Meika) web

#SuratUntukPresidenJokowi – Surat Terbuka Untuk Bapak

Dear Pak Jokowi,

 

Salam hangat dari saya untuk Bapak.

Pak, saya mengerti tugas Bapak sangat banyak. Terlebih, di akhir periode pertama ini. Ditambah lagi, persiapan untuk tugas berat dalam lima tahun kedepan. Saya juga mengerti, jika Bapak sibuk urus sana urus sini. Tapi, beberapa kejadian belakangan ini perlu Bapak respon dengan tepat agar tak menjadi PR fisika dengan rumus yang rumit.

Pak, polemik pencalonan pimpinan KPK perlu direspon dan tindakan dari Bapak. Memilih calon yang memiliki catatan buruk, atau tidak taat dalam laporan LHKPN, atau pernah terlibat pelanggaran kode etik, terlebih pernah menjadi penghalang pemberantasan korupsi, atau diduga pernah menerima gratifikasi, dan memiliki catatan buruk di masa lalu, hanya akan menyulitkan Bapak dalam memimpin negara ini lima tahun ke depan. Atau bahkan, akan menghalangi tujuan Bapak untuk melaksanakan revolusi mental yang Bapak janjikan saat itu, memberantas korupsi dan tidak mentolerir sedikitpun potensi korupsi. Tombak ada ditangan Bapak, kemanakah sasaran tertuju, bergantung pada Bapak yang mengarahkan.

Pak, urusan Papua bukan hanya sekedar jatuhnya bendera merah putih, melainkan perasaan masyarakat yang semakin perih melihat saudara kandungnya dikepung dengan berbagai dalih. Perhatian dari berbagai penjuru dunia mengawal kasus ini dengan menggaungkan “Kemerdekaan bagi Rakyat Papua”. Akankah masalah ini selesai dengan ‘saling memaafkan’? Sudah jatuh tertimpa tangga, sudah dihina dan dianiaya, sekarang masyarakat Papua kehilangan hak untuk mempertahankan dirinya. Mempertahankan diri? Bahkan akses untuk tahu surat ini pun diberangus, internet padam tanpa sempat untuk paham, dan lagi-lagi masyarakat seolah tak berdaya dan hanya bisa diam.

Pak, berbagai pelanggaran HAM di masa lalu, orang-orang tua yang selalu menyuarakan hatinya di depan istana, bukan hanya sekedar teriak-teriak berpeluh keringat, tapi mereka mengharapkan kejelasan dan ketegasan dari Bapak, mengungkapkan kebenaran, pelaku, yang telah merampas jiwa-jiwa tak berdosa.

Pak, janji dalam nawacita yang Bapak lontarkan 2014 lalu, masihkah menjadi acuan Bapak menjadi nahkoda bangsa? Ataukah sudah menguap begitu saja? Kepercayaan masyarakat kepada Bapak begitu besar hingga Bapak dihantarkan kembali ke meja Bapak. Tapi, bukan hanya sekedar menghantarkan Bapak hingga singgasana, banyak titipan yang perlu Bapak buka, tangani, dan tindak lanjuti.

Pak, jangan biarkan rasisme menjadi biasa, jangan biarkan intoleransi membumi, jangan biarkan dendam menghiasi hati para korban Semanggi, Trisakti, hingga Talang Sari. Kami, rindu pada Indonesia yang bersatu, rindu pada Indonesia yang menyatu, rindu pada Indonesia yang berkesatuan.

Hidup Korban! Jangan Diam! LAWAN!!!

Dari, anakmu yang berharap Indonesia lebih baik.

Meika Arista.

Sharing is caring!
Share on Facebook4Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *