YP x Kamisan (Dimas) web

#SuratUntukPresidenJokowi – Sebuah Pengingat Untuk Presiden

Kepada Yth Bapak Presiden Joko Widodo,

Assalamu’Allaikum Waramatullahi Wabaraktuh, Salam Sejahtera, Om Swastyastu, Namo Buddhaya dan Salam Kebajikan untuk kita semua masyarakat Indonesia. Saya sengaja menulis salam dari beberapa agama untuk kembali mengingatkan bahwa kita adalah bangsa yang beragam. Berbicara soal keragaman, kita tentu tahu hal itu adalah sebuah berkah yang tersamar. Keragaman, menyitir Amartya Sen adalah juga berarti adanya ruang-ruang besar untuk tindakan intoleransi dan kekerasan. Hal itu kita dapati juga di Indonesia kan, Pak?

Saya tidak ingin menjelaskan dan memberikan pemahaman soal toleransi kepada Bapak di surat ini. Tapi saya akan sedikit bawel untuk mengingatkan kembali soal penuntasan pelanggaran HAM berat di Indonesia kepada Bapak Presiden yang saya liat sudah mulai tergerus demensia soal itu. Saya coba pelan-pelan untuk menuntun bapak mengingatnya ya?

Saya yakin bapak tidak lupa terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia. Wong jelas-jelas itu tertulis dalam NawaCita yang selalu bapak bangga-banggakan setiap bapak pergi kampanye ke daerah-daerah untuk pencalonan Presiden RI pada tahun 2014 silam. Bapak sendiri yang menyebut dengan jelas bahwa Peristiwa Kerusuhan Mei 1998, Peristiwa Trisakti, Semanggi I dan Semanggi II, Peristiwa Penghilangan Paksa 1997-1998, Peristiwa Talangsari di Lampung 1989, Peristiwa Tanjung Priok dan Peristiwa Pembantaian 1965 harus segera diselesaikan dengan bermartabat. Lalu, mana realisasinya, Pak? Jangan bilang bapak lupa, seperti halnya seorang kawan yang kerap bilang demikian jikalau ditagih hutangnya.

Bapak Presiden masih ingat kah ada kejadian apa pada tanggal 31 Mei 2018? Masak bapak nggak inget, orang bapak aja inget kok, kasus apa yang menimpa Pak Prabowo 21 tahun silam waktu bapak ungkit-ungkit di debat Capres-Cawapres perdana pada tanggal 17 Januari 2019 lalu . Tanggal 31 Mei 2018, Bapak mengundang para korban dan keluarga korban pelanggaran HAM berat di Indonesia untuk bertemu dengan Bapak dan jajaran menteri-menteri serta institusi negara lainnya. Tapi yang membuat saya mengernyitkan dahi lebih adalah ketika Bapak bilang bahwa ternyata kasus-kasus pelanggaran HAM banyak. Dalam pertemuan itu, sikap Bapak juga tidak setegas tulisan NawaCita Bapak yang bilang akan segera melakukan penyelesaiannya sepanjang Bapak menjadi Presiden. Bapak hanya diam, sesekali mengangguk, dan mungkin lebih banyak bengongnya. Di ujung pertemuan, Bapak bahkan terlihat sedikit takut dan bergidik ketika Ibu Sumarsih menyodorkan secarik kertas. Kertas itu adalah permintaan dari para korban dan keluarga korban untuk mendapatkan komitmen tertulis dari Bapak selaku Presiden untuk segera memprioritaskan penuntasan kasus pelanggaran HAM. Bapak malah dengan konyolnya bilang bahwa, hendaknya kasus tersebut segera dicari jalan keluarnya oleh Komnas HAM dan Kejaksaan Agung. Yahhh, Pak, kalo pernyataan seperti  itu, saya juga yakin pedagang tahu bulat juga bisa berbicara seperti itu.

Jangan beranjak dulu dari surat ini, Pak. Ini poin yang terakhir kok. Janji. Poin ini yang menurut saya paling penting, yang saya yakin kalau Bapak terserang “lupa” Bapak tinggal melongok keluar jendela Istana Presiden setiap Kamis petang. Aksi Kamisan. Yah, Pak, Aksi Kamisan yang sudah semenjak 12 tahun lalu berlangsung itu juga masih tetap berlangsung dan bahkan semakin kuat. Aksi ini tidak berusaha kenes untuk mendapatkan penghargaan apapun dengan eksistensinya yang sangat lama. Pun, Kamisan juga tidak hendak menjadi aksi selamanya. Kamisan hanya ingin mengingatkan ke setiap Presiden bahwa penuntasan kasus pelanggaran HAM berat harus segera dilakukan. Jadi, ya kalau bapak “lupa” mungkin bisa bergabung dengan Kamisan daripada hanya lewat begitu saja memakai pengawalan yang ketat dan penjagaan yang norak.

Bagaimana, Pak? Sudah cukup ingat? Saya harap surat ini akan sedikit berkontribusi menyembuhkan penyakit lupa yang Bapak alami perihal penuntasan kasus pelanggaran HAM. Sebenarnya, ada satu lagi obat ampuh untuk menyembuhkan penyakit “lupa pelanggaran HAM” yang Bapak alami. Obatnya disebut “Vetting”. Obat ini kurang lebih bertujuan untuk menghalau orang-orang yang tersangkut pelanggaran HAM berat seperti Pak Wiranto, Pak Ryamizard, Pak Agum, Pak Prabowo dan lainnya untuk tidak menduduki posisi vital dalam pemerintahan. Tujuannya, Pak, agar mereka tidak lagi menghambat kerja-kerja dan maksud baik Bapak untuk segera menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Eh, apa jangan-jangan, selama ini ternyata orang-orang itu yang mengancam Bapak untuk lupa ya?

Hidup Korban! Jangan Diam! Lawan!!!

Jakarta, 4 September 2019

Sharing is caring!
Share on Facebook6Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *