Ilustrasi: Merdeka.com
Ilustrasi: Merdeka.com

Mei ’98, Sebuah Renungan Kaum Muda

Sudah 21 tahun sejak kejadian itu berlangsung. Saya belum dilahirkan masa itu. Mendengar cerita dari kebanyakan orang sudah membuat bulu kuduk saya merinding. Gambar-gambar yang terlintas di kepala membuat tidur nyenyak tak datang. Kengeriannya tak bisa saya lupakan.

Sebagai salah satu anak generasi ‘muda’ (meskipun saya kurang setuju dengan ungkapan itu), kejadian Mei 1998 hanya bisa dipahami sebagai lembaran sejarah belaka. Tidak ada dari kami, yang lahir setelah tahun 1998, benar-benar merasakan apa yang dialami korban. Kami hanya tahu dua hal mengenai insiden itu: Reformasi dan kerusuhan.

Mengenai reformasi, tertulis jelas dalam buku sejarah sekolah kalau pergerakan mahasiswa meruntuhkan rezim Orde Baru. Tragedi Semanggi dan Trisakti diceritakan secara jelas. Ini saya simpulkan berdasarkan pengalaman ketika bersekolah dahulu.

Namun saya tidak melihat adanya penjelasan mengenai orang-orang hilang pada masa 1998 dan tahun-tahun sebelumnya. Setahu saya, mereka juga termasuk dalam organisasi yang memperjuangkan Reformasi.

Sempat saya bertanya kepada guru sejarah saya, “Di mana Widji Thukul pak?” Beliau sedikit ragu. Dijelakannya bahwa Widji Thukul adalah salah satu orang yang hilang–atau dihilangkan? Guru saya lahir sebelum tahun 1998. Saya sedikit bingung, mengapa beliau tak terlalu tahu mengenai Reformasi secara terperinci.

Jika generasi pra-’98 saja masih simpang siur soal sejarah Reformasi, bagaimana dengan kami yang belum dilahirkan waktu itu?

Dapatkah kita mendengar informasi-informasi mengenai pergerakan mahasiswa angkatan ’98 yang hanya sekedar bergerak tapi kurang penjelasan? Saya rasa perlu adanya perluasan pengetahuan akan sejarah yang sudah terjadi, seberapa kecil pun itu. Apabila “Mei 1998” hanya diartikan sebagai momen Reformasi belaka, ketidakpahaman akan sejarahnya akan melunturkan perjuangan Reformasi itu sendiri.

Fakta sejarah tragedi 1998 perlu diperdalam lebih lanjut. Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa Kerusuhan (TGPF) 1998 pernah dibentuk. Namun hasil yang didapatkan belum menyeluruh sampai ke akarnya. TGPF 1998 membagi korban menjadi empat kategori: (1) kerugian material, (2) korban kehilangan pekerjaan, (3) korban meninggal dunia dan luka-luka, dan (4) korban penculikan.

Korban yang meninggal dunia disebutkan berasal dari masyarakat biasa. Benar adanya nama para korban tidak bisa disebutkan satu per satu, dan privasi tetap harus dijaga (terutama korban pemerkosaan). Tetapi bagaimana dengan nama Teddy Wardhani Kusuma (Tragedi Semanggi), Meyer Ardiansyah (Tragedi Lampung), Elang Mulia Lesmana (Tragedi Trisakti), Ita Martadinata Haryono (Penyintas Kerusuhan 98), dan banyak nama lainnya? Mereka pergi dan terus dikenang.

Laporan tersebut juga hanya menyebutkan nama empat korban penculikan: Yadin Muhidin, Abdun Nasir, Hendra Hambali, Ucok Siahaan. Di mana Petrus Bima Anugrah, Herman Hendrawan, Suyat, Yani Afri, Sonny, Dedi Hamdun, dan Widji Thukul? Mereka hilang dalam laporan dan juga kenyataan.

Para korban tidak berasal dari satu etnis, satu suku dan ras, atau satu agama. Kita semua adalah korban, dengan cerita kita masing-masing. Beberapa orang dirampas harta dan martabatnya. Sekelompok lainnya kehilangan sanak keluarganya.

Saya sendiri merupakan korban dari suatu penggelapan kebenaran. Saya tidak membenarkan bahwa sejarah yang ditulis sekarang adalah salah, dan tidak juga mempercayai sepenuhnya. Masih ada bab yang kosong. Setidaknya itu perlu diisi. Kini bab itu masih belum terisi, dibakar, atau mungkin diculik kesuciannya.

Kita tetap melihat ke belakang sejenak, lalu ingin melupakannya. Nasib sial tetap menghantui mereka yang tidak bisa melupakannya. Inilah yang sebenarnya perlu dilakukan oleh kaum muda, yang katanya lebih lihai dan kritis: mengizinkan pemikiran kuno (baca: bebal) lenyap dan paham-paham sebelum Reformasi ditinggalkan. Dengan begini kita membuka pintu baru–suatu penguakan fakta yang baru.

Orang-orang hilang menunggu penantian. Para korban melihat mata kita dalam senyap.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *