Sumber: UNE is Ubiety/Confess the Talks
Sumber: UNE is Ubiety/Confess the Talks

Dari Selatan Jawa Timur Yang Tak Pernah Diam

Dua tahun terakhir sejak diadakannya “Women’s March” di pusat kota Malang yang dihiasi oleh poster-poster bertuliskan seruan-seruan seperti “Stop Cat-Calling”, “My Body, My Choice”, “EQUALITY”, menjadi salah satu warna baru yang hadir di kota ini. Women’s March sendiri, merupakan sebuah aksi demonstrasi yang bertepatan dengan Hari Perempuan Sedunia, dimana orang-orang turun ke jalan dan menuntut hak-haknya sebagai perempuan, atau yang memiliki perhatian terhadap isu perempuan kepada masyarakat luas, dan pemangku kebijakan. March ini dilaksanakan pada waktu yang tidak selalu sama, namun serempak di seluruh dunia.

Aksi ini kerap diidentikkan dengan kaum feminis, walaupun memang aksi ini lahir dari inisiatif pegiat gerakan feminisme itu sendiri. Dalam aksi ini terdapat pro dan kontra akan substansi yang melekat pada pesan-pesan yang dibawakan. Berbekal spidol dan medium tulisnya seperti karton dan papan untuk menyerukan tuntutannya, namun apakah sang demonstran paham betul akan substansi dari pesan-pesan tersebut? Ataukah hanya dikaburkan oleh pengetahuan yang baru mereka kenal, terutama di Kota Malang?

Feminisme, merupakan sebuah ideologi, dan gerakan sosial yang memperjuangkan kesetaraan hak untuk perempuan dalam berbagai hal. Persamaan hak dalam hal politik, ekonomi, individu, sosial dan budaya. Maryam Jameela, pendiri Resister Indonesia, mengatakan bahwa feminisme merupakan suatu gerakan yang ingin menyuarakan kesetaraan dari perspektif perempuan, dari pengalaman ketubuhan perempuan, karena bagaimanapun laki-laki takkan pernah merasakan pengalaman ketubuhan seperti yang dirasakan oleh perempuan. Sementara feminis adalah orang-orang yang mempercayai feminisme atau bahkan kelompok yang dikaitkan dengan gerakan tersebut.

Aku Ini Feminis, Ngertiin Dong!

UNE is Ubiety, sebuah komunitas yang berfokus pada isu kesehatan mental dan isu sosial di Kota Malang, menggelar ruang bicara pertamanya, Confess The Talks, di salah satu coworking space di Kota Malang, Ngalup.co. Bertepatan dengan perayaan Hari Perempuan Sedunia, Confess The Talks kali pertama ingin turut serta berjuang dalam memberikan ruang diskusus dalam bentuk diskusi terbuka untuk terus mengembangkan pengetahuan akan gerakan perempuan. Pada pembuka sesi diskusi pertama, Fira, Ketua Pelaksana Women’s March Malang 2019, membicarakan tentang perkembangan pergerakan perempuan di Kota Malang, progresivitas, serta ruang-ruang aspirasi yang membangun pengetahuan akan feminisme yang bisa kita temui di selatan Jawa Timur ini.

 

AUDIENS CONFESS THE TALKS

 

Setelah itu, Palupi Anggeraeni, Dosen HI Universitas Muhammadiyah Malang, yang bertindak sebagai moderator mulai melontarkan beberapa pertanyaan yang lebih spesifik akan stigma yang melekat pada gerakan di Malang ini langsung kepada Fira,

“Apakah ada pelabelan tertentu terhadap para aktivis yang turun langsung ke lapangan, Mbak?”

“Ada, kebanyakan dari mereka menganggap bahwa gerakan feminisme ini adalah ilmu Barat, atau tidak cocok diterapkan di sini. Gerakan ini bertujuan untuk memberdayakan perempuan, untuk memberikan pengetahuan-pengetahuan kepada perempuan di sekitar kita. Para pemberi label ini mungkin merasa insecure, ya. Mereka merasa bahwa gerakan ini ada untuk menyalahi kodrat kita sebagai perempuan.”

Fira juga menegaskan bahwa banyak korban pelecehan maupun kekerasan bahkan menyalahkan dirinya saat ini. Seharusnya setiap individu, memiliki pemahaman untuk berani bicara, jangan takut dengan adanya pelabelan karena kita berjuang bersama-sama. Di tanah ini masih kerap terdengar bahwa ada yang mengatakan bahwa feminisme itu ilmu baper. Maksudnya adalah, gerakan ini berisikan perempuan yang sakit hati kepada laki-laki. Hal fundamental tersebutlah, yang menjadi kesulitan memperjuangkan gerakan itu di sini. Padahal, gerakan-gerakan ini muncul karena adanya ketimpangan gender, pemikiran masyarakat yang masih patriarkal, bukan semata-mata untuk menggugurkan peran laki-laki ataupun mendominasi laki-laki. Perempuan bukanlah sebuah “pelengkap” apalagi “peran pengganti”, setiap gender punya peran yang sama, untuk berkontribusi kepada masyarakat luas.

Setelah membicarakan mengenai hal-hal fundamental, dan latar belakang dari gerakan perempuan di Kota Malang, Palupi mulai menggali pandangan lain dari seorang penulis perempuan muda, Sophia Mega. Karya-karyanya cukup berpengaruh terhadap pengembangan diri pada generasi milenial khususnya di Kota Malang.

“Awalnya saya tidak tahu, namun saya coba cari tahu untuk menyambut hal baik ini. Namun, ada yang bilang bahwa itu menyalahi kodrat, sejak saat itu saya mulai berhenti untuk membicarakan hal tersebut. Karena saya takut untuk membicarakan hal yang saya kurang pahami. Itu yang terjadi sekitar tahun lalu pada saya,” Mega menyampaikan kalimat pembukanya.

“Kebetulan tahun lalu ada poster mengenai cara berpakaian hijab bagi perempuan. Lalu seorang lelaki bilang, bahwa memang salah kalau berpakaian terbuka. Nah, saat itu saya tidak tahu rasanya disalahkan karena cara berpakaian, ya saya tidak mau masuk ke dalam perdebatan, karena tidak terlalu paham. Namun pada akhirnya saya menghadapi sendiri. Akhirnya saya disalahkan karena cara berpakaian saya (berhijab casual),” tambah Mega.

Hal itulah yang membuatnya tersadar, bagaimana rasanya disalahkan atas cara berpakaian. Bahkan pada titik ini saja, orang-orang yang berpendapat seperti itu tidak punya kesadaran bahwa dia tengah melakukan pelecehan. Menurutnya, isu ini harus semakin diangkat, paling tidak orang tahu dulu, perempuan tahu apa yang sedang diperjuangkan. Mega, memberikan pandangan melalui mata seorang perempuan muda yang mulai menaruh perhatiaannya pada isu ini, akhirnya. Mega mengemukakan bahwa ia menjadi lebih peduli, karena dia adalah seorang perempuan yang memiliki kesadaran akan pengetahuan, dan wajib mencari tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi. Hal ini juga didasari oleh banyaknya postingan yang berseliweran pada kanal media sosialnya, tentang kegiatan Women’s March Malang. Mega berkata, bahwa sebagai perempuan kita harus berani membela hak individu kita sebagai manusia, berani untuk menolak, berani untuk berbicara, dan bertindak kemudian.

Dalam perbincangan kurang lebih 45 menit ini, baik Fira dan Mega juga menambahkan bahwa tidak selalu perempuan yang menjadi korban kekerasan bahkan pelecehan seksual. Laki-laki pun juga ada dan banyak, namun tak terekspos oleh media. Hal ini menegaskan bahwa persoalannya bukan terletak pada perempuan melawan laki-laki, tapi bagaimana kita semua harus mengkritisi kultur patrialkal. Palupi juga membenarkan hal tersebut dengan memberikan informasi temuannya dari KPAI, bahwa dari total korban tercatat 177 orang siswa SD dan SMP pada tahun 2018, 135 korbannya adalah anak laki-laki. Pergerakan di Malang pun juga memperjuangkan hak-hak dan penyelesaian permasalahan isu yang serupa, terlepas dari gender yang melekat pada individu yang mengalaminya.

 

SESERAHAN TERIMA KASIH UNE KEPADA NGALUP_KIRI KE KANAN

 

Isu yang baru pada daerah yang sudah berdiri lama ini memang memiliki beberapa perbedaan, dalam proses persebaran gerakan feminisme. Bahkan tak sering perbedaan pandangan yang kontras akan isu ini sering terlontar dari berbagai macam kalangan masyarakat. Perbedaan pola pikir, adat istiadat, juga masih cukup kental di kota ini. Perbedaan jumlah pada setiap aksi di Balai Kota yang tak sebanyak di kota besar, diskursus-diskursus yang tak semasif di kota besar menjadi beberapa hal yang patut diperhatikan, bahwa kota ini tidak diam. Waktu akan memberikan kesempatan pada para pegiat gerakan feminisme untuk tumbuh, karena kami bersama-sama melawan dan berjuang.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *