Lepas Pemilu, Indonesia Jadi Destinasi Wisata Halal Nomor Satu di Dunia
Ilustrasi: Emira Salma/Youth Proactive

Lepas Pemilu, Indonesia Jadi Destinasi Wisata Halal Nomor Satu di Dunia

Ajang kontestasi politik Indonesia mencapai puncaknya pada bulan April ini. Khusus untuk kampanye pilpres, dari awal mula diadakannya pilpres secara langsung pada tahun 2004 lalu hingga 2019 ini isu yang diangkat cenderung sama.

Padahal ada satu isu kekinian yang masih sangat kurang untuk dibahas yaitu pariwisata. Lebih khususnya lagi adalah wisata halal di Indonesia.

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Dengan populasi penduduk muslim yang lebih dari 220 juta atau sekitar 87% dari total penduduk.

Namun, fakta ini tidak lantas menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata halal nomor satu di dunia.

Nah, berbekal dari kenyataan tersebut maka sungguh rugi apabila isu ini tidak diangkat ke publik. Padahal potensi pariwisata di Indonesia begitu luas namun para elit politik beserta simpatisannya malah lebih menghabiskan energinya membahas hoax dan SARA siang dan malam.

Pada tahun 2015, Indonesia menempati peringkat 6 destinasi wisata ramah muslim versi Global Muslim Travel Index (GMTI). Dari tahun-ketahun peringkat Indonesia terus membaik, ditandai dengan naiknya peringkat Indonesia ke nomer 3 pada tahun 2017. Dan pada tahun 2018 lalu, Indonesia berhasil menempati peringkat kedua destinasi wisata halal versi GMTI bersama UEA dibawah Malaysia.

Lepas Pemilu 2019, Indonesia Jadi Destinasi Wisata Halal Nomor Satu Di Dunia

Tahun 2019 ini, Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan, pemerintah menargetkan Indonesia berada di peringkat pertama destinasi wisata ramah muslim versi GMTI mengungguli Malaysia.

Jika kita telaah, potensi pariwisata Indonesia sangatlah besar bahkan beberapa wilayah masih menyimpan potensi yang belum dieksplorasi. Dan lagi di era digital ini, masyarakat sudah semakin melek dengan lingkungan dan potensi wisata di daerahnya masing-masing.

Jadi, memang layak apabila Indonesia harus bisa mencapai target sebagai destinasi wisata halal nomor satu di dunia versi GMTI.

Lalu, faktor apa saja yang diperlukan agar Indonesia layak didaulat menjadi destinasi wisata halal nomor wahid?

Masih mengacu pada sumber yang sama, kriteria yang digunakan Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index adalah ACES (Access, Communications, Environment and Services).

Access

Kriteria ini intinya menilai seberapa baik dan mudahnya akses masuk ke destinasi tujuan. Utamanya meliputi akses VISA dan sarana transportasi yang ada.

Communications

Kriteria ini menilai seberapa lengkap informasi yang disediakan negara tujuan wisata dan seberapa mudah mendapatkan informasi destinasi wisata tujuan. Kemudahan informasi dan komunikasi juga harus mudah didapatkan di platform-platform digital, mengingat kini zamannya sudah serba digital bukan.

Environment and Services

Services

Kriteria ini intinya menilai seberapa mudahnya wisatawan mendapatkan akomodasi kebutuhan umat islam seperti tempat ibadah dan sholat. Juga dinilai seberapa unik pengalaman yang ditawarkan bagi wisatawan dan berbagai pilihan tempat makan halal yang ditawarkan.

Environment

Sesuai namanya, kriteria ini menilai seberapa nyaman iklim di negara tujuan bagi wisatawan muslim dan seberapa menariknya negara tujuan sebagai pasar bagi wisatawan muslim dunia. Uniknya, kriteria ini juga menilai apakah di negara tujuan telah mengembangkan level institusi, pendidikan, dan teknologi.

***

Berkaca pada kriteria di atas, setidaknya ada dua permasalahan yang perlu segera diselesaikan.

Pertama adalah ketersediaan infrastruktur transportasi untuk menunjang wisatawan muslim. Ya, infrastruktur transportasi Indonesia masih kurang merata dan terkesan sentralistik.

Jika ingin menjadikan Indonesia menjadi destinasi wisata halal nomor satu, maka kemudahan transportasi wajib disediakan pemerintah. Pelabuhan, bandara, stasiun, dan terminal sudah sepatutnya saling terintegrasi, sehingga memudahkan akses wisatawan ke destinasi wisata tujuannya.

Kedua, sertifikasi halal bagi restoran-restoran dan berbagai produk makanan dan minuman di Indonesia. Karena mayoritas penduduknya muslim, masyarakat kita merasa belum perlu mencantumkan label halal pada produk makanan atau minuman mereka. Padahal hal ini sangat krusial untuk mendatangkan wisatawan mancanegara.

Pemerintah harus bisa membuat suatu kebijakan sertifikasi halal bagi restoran-restoran di Indonesia utamanya yang berada di daerah wisata. Dengan adanya sertifikasi halal, kekhawatiran wisatawan muslim akan kehalalan makanan dan minuman di Indonesia menjadi terjamin sehingga semakin menarik minat wisman muslim.

Dengan penduduk mayoritas muslim sudah menjadi suatu modal yang sangat baik untuk Indonesia mencapai peringkat 1 GMTI. Hal tersebut masih didukung dengan kultur agama dan sosial masyarakat yang kondusif. Masjid-masjid pun mudah dijumpai, termasuk adanya tempat ibadah di berbagai stasiun dan bandara yang telah tersedia.

Sehingga sangat disayangkan apabila target sebagai destinasi wisata nomer satu di dunia dirusak oleh oknum-oknum politik yang saling gaduh menggoreng isu agama sehingga menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat.

Pada akhirnya, hal ini harus menjadi fokus bersama untuk dapat mencapai target sebagai destinasi wisata halal nomor satu dunia.

Banyak hal yang perlu segera dibenahi sehingga janganlah energi dihabiskan untuk membahas pemilu 2019, tapi selepas pemilu semuanya lantas diam tanpa suara. Sudah selayaknya pariwisata menjadi isu yang wajib dibahas karena potensinya yang besar namun kesiapan Indonesia masih kurang apabila dinobatkan sebagai destinasi wisata halal nomer satu.

Bangsa ini patut optimis dan membuang jauh-jauh pesimismenya. Menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata halal bukanlah cita-cita menteri pariwisata saja, namun hal tersebut juga harus dicita-citakan oleh seluruh warga negara Indonesia termasuk elit-elit politik yang berkontestasi di pemilu 2019 ini.

Kalau potensi sudah mumpuni, target telah dicangkan, lantas kenapa isu pariwisata halal Indonesia malah tenggelam dalam kampanye hoax dan SARA? Miris bukan? Seperti yang sudah diterangkan diawal, kegaduhan politik dan agama justru bisa merugikan cita-cita yang baik ini.

Marilah kita berdoa bersama, saling bahu-membahu, dan mengawasi bersama perubahan positif ini sehingga menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata ramah muslim nomor satu di dunia.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *