Pamer Data Berbasis Fakta
Ilustrasi: Emira Salma/Youth Proactive

Pamer Data Berbasis Fakta

Debat pemilihan presiden (pilpres) keempat yang diadakan KPU RI telah selesai. Tidak jauh berbeda dengan debat-debat sebelumnya, banjir data mengalir sepanjang debat berlangsung. Ada yang tepat, ada pula yang keliru. Begitu muncul kekeliruan data, berbagai komentar di media sosial bertebaran. Ada yang menghujat, ada pula yang memaklumi.

Masih dalam suasana euforia pilpres, jagat dunia maya juga sempat dihebohkan dengan pernyataan CEO Bukalapak, Ahmad Zaky, mengenai minimnya dana Research and Development (R&D) Indonesia dan harapan terhadap ‘presiden baru’ agar dapat meningkatkan dana R&D Indonesia.

Zaky menyebut bahwa Indonesia pada 2016 hanya memiliki dana R&D sebesar US$2 miliar, namun ternyata nominal tersebut merupakan dana R&D Indonesia pada tahun 2010. Lagi-lagi kesalahan data yang jadi musababnya.

Setelah ramai diperbincangkan di Twitter dan media sosial lainnya, tak lama berselang unggahan tersebut menghilang dan Zaky lekas menemui Presiden Republik Indonesia, Bapak Joko Widodo, untuk menyampaikan permohonan maaf.

Namun nasi sudah menjadi bubur. Pernyataan Zaky sudah diunggah di media sosial. Menghapus unggahan tersebut tidak serta merta menghapus memori masyarakat, karena tangkapan gambar unggahan tersebut sudah sempat disimpan oleh segelintir pihak. Kejadian ini bahkan sempat membuat tagar #uninstallbukalapak menjadi trending di berbagai media sosial.

Pemimpin pertama Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Mao Zedong, pernah mengemukakan istilah shíshì qiúshì. Artinya mencari kebenaran berdasarkan fakta.

Ujaran Mao tersebut kemudian menjadi prinsip universal yang terus dijunjung tinggi pemimpin-pemimpin RRT selanjutnya, mulai dari Deng Xiaoping hingga Xi Jinping. Sebuah prinsip yang singkat, hanya terdiri dari empat karakter, tapi berperan besar bagi kemajuan RRT saat ini. Tidak peduli apapun desas-desus yang berkembang, fakta yang berbicara.

Lalu apa kaitannya ‘mencari kebenaran berdasarkan fakta’ dengan debat pilpres 2019?

Debat pilpres 2019 sejatinya memberikan sebuah pembelajaran bahwa kita semua harus cermat ketika berbicara tentang data. Pastikan bahwa data yang dipaparkan adalah tepat. Maka prinsip ‘mencari kebenaran berdasarkan fakta’ adalah kuncinya, memaparkan segala sesuatu sesuai fakta.

Pada forum debat pilpres, kesalahan data menjadi sorotan publik karena data tersebut disampaikan oleh calon presiden maupun wakil presiden yang nantinya akan memimpin bangsa Indonesia.

Mungkin saja ada kekhawatiran bahwa kesalahan data menunjukkan kurangnya pemahaman capres dan cawapres terhadap kondisi bangsa Indonesia saat ini. Pada kasus debat pilpres, kekhawatiran tersebut cenderung dipengaruhi oleh besarnya tanggung jawab yang akan diemban pasangan calon terpilih nantinya sebagai pemimpin bangsa.

Lalu apakah memastikan data sesuai fakta hanya perlu dilakukan oleh para tokoh penting bangsa?

Tentu saja tidak!

Apakah penduduk sipil atau masyarakat biasa tidak perlu memverifikasi data? Bayangkan jika ada seorang influencer terkenal yang memiliki banyak pengikut setia tiba-tiba membuat konten berbasis data yang ternyata salah besar.

Di Indonesia, para influencer terkenal rata-rata bisa memiliki 1 juta pengikut bahkan lebih, seperti Youtuber Atta Halilintar dan Ria Ricis yang bahkan subscribers– nya mencapai lebih dari 10 juta! Jika mereka membuat konten berbasis data yang keliru, bagaimana nasib para subscribers-nya yang akhirnya menerima informasi yang salah?

Oleh karena itu, siapa pun perlu berhati-hati dalam memamerkan data baik di media sosial maupun media informasi lainnya.

Kekeliruan data yang terjadi dalam debat pilpres 2019 sejak putaran pertama hingga putaran keempat memberikan pembelajaran bahwa literasi informasi sangatlah penting. Kecanggihan teknologi saat ini amat membantu masyarakat dalam mengakses informasi dan memastikan segala informasi yang diperoleh.

Kejadian dalam debat pilpres dapat menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat Indonesia agar tidak mudah mempercayai informasi yang didapat begitu saja tanpa memastikan kembali kebenarannya. Semoga kesadaran masyarakat Indonesia akan literasi informasi semakin meningkat!

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *