Demokrasi
Ilustrasi: Emira Salma/Youth Proactive

Masyarakat Berdaulat, Negara Kuat: Cita-cita Pemilihan Umum 2019

Demokrasi merupakan alat bukan tujuan. Demokrasi adalah alat bagi masyarakat untuk mewujudkan tanggung jawab bersama dalam mewujudkan cita-cita bangsa.

Masyarakat sebagai pemberi mandat dan kepercayaan terhadap penguasa melalui perwakilan-perwakilan aspirasi di partai politik. Dalam sistem demokrasi saat ini memungkinkan seluruh elemen masyarakat untuk ikut ambil bagian dalam pembangunan bangsa.

Memilih dan dipilih tak beda halnya dengan hubungan timbal balik dimana para penguasa diberikan kepercayaan oleh masyarakat yang jumlahnya lebih besar untuk membawa nasib mereka pada arah yang lebih baik.

Pemilu sebagai instrumen berjalan beriringan dengan cita-cita demokrasi. Pemilu yang cerdas akan memberikan efek yang baik pada pemikiran masyarakat. Menunjukkan pemilih dewasa yang mampu menyaring elit-elit penguasa buruk untuk dapat bergerak leluasa mengembangkan kepentingan mereka.

Pemilih yang cerdas mampu menempatkan diri mereka kapan menjadi voters dan kapan saatnya mereka harus menjadi seorang demos. Menjadi voters di saat mereka berada di dalam kotak bilik suara yang menjadi hak mereka untuk memberikan pilihan mereka terhadap calon penguasa.

Sebagai demos, masyarakat menempatkan posisi mereka sebagai pengawal kebijakan pemerintah. Di saat kebijakan pemerintah dirasa membawa dampak positif maka dukung itu, disaat kebijakan pemerintah dirasa kurang membawa manfaat baik pada masyarakat maka berikan saran yang membangun, disaat arah kebijakan dirasa merugikan masyarakat maka kritik habis kebijakan tersebut dan berikan jalan lain yang dirasa lebih baik.

Masyarakat demos menjadi penting dalam mewujudkan pemilu yang aman dan damai. Sebagai masyarakat demos maka mereka akan berpikir bahwasanya kemajuan dan keberhasilan suatu negara mereka tuangkan dalam pemberian hak suara mereka terhadap wakil-wakil rakyat yang telah mereka pilih.

Demos menjadi penting sebagai suatu bentuk dari kedewasaan peradaban manusia yang menginginkan perubahan ke arah lebih maju. Yang terjadi saat ini menjelang pemilu 2019 adalah masih banyaknya masyarakat yang terprovokasi isu-isu pemecah belah bangsa.

Mulai dari isu PKI, negara khilafah, hoax merajalela, isu politisasi agama, etnosentrisme yang masih tinggi; semua adalah cerminan budaya politik masyarakat kita saat ini masih terjebak sebagai seorang voters, bukan sebagai demos.

Membudayakan masyarakat demos mampu meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan kita dalam sebuah civic nationalism yang menunjang negara untuk memberi pemenuhan kewajiban sebagai warga negara bukan sebagai bagian dari pemenuhan kewajiban bagi kelompok kepentingan tertentu.

Masyarakat demos mempunyai peradaban dan pengetahuan mengenai toleransi. Yang mereka tuju adalah negara ini mampu adil dan memberikan kesejahteraan terhadap rakyatnya. Dengan pemahaman masyarakat sebagai bagian dari civic nationalisme mampu menyingkirkan konflik-konflik pemecah belah bangsa.

Masyarakat demos akan menempatkan diri mereka seusai pemilu untuk mengawal pemerintah, mengacuhkan konflik-konflik pemecah belah bangsa dan mewujudkan toleransi.

Pemilu bukan hanya persoalan 01 dan 02 ataupun koalisi yang saling sikut menyikut memperebutkan kursi tapi lebih dari itu diharapkan masyarakat mampu dewasa dalam menyikapi pemilu sebagai masyarakat demos.

Masyarakat dan elit politik harus berjalan bersamaan membawa dan mewujudkan masyarakat demos. Maka dengan mewujudkan masyarakat demos melalui pemilu akan menciptakan tatanan kehidupan bernegara menuju peradaban yang lebih baik.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *