Hafizal Indra: Apa Yang Ingin Kamu Lihat Berubah Karena Pemilu 2019?
Ilustrasi: Emira Salma/Youth Proactive

Apa Yang Ingin Kamu Lihat Berubah Karena Pemilu 2019?

Sudah pasti terlalu klise kalau jawabannya: ingin melihat adanya perubahan yang lebih baik. Lebih biasa lagi dengan menjawab ingin melihat ada perubahan harga bahan pokok, harga gas, harga bensin, dan harga gedung pernikahan menjadi lebih murah. Ditambah keinginan melihat ada perubahan tanpa kejelasan perubahan yang dimaksudkan.

Pokoknya berubah! Gimana, gimana?

Menjadi lebih baik adalah keinginan setiap orang. Cuman bentuknya masih mengawang di bumi pertiwi. Jika ditanya maksud lebih baiknya seperti apa, ya jawabnya, “lebih baik lah!” Jadi ngegas.

Beberapa pihak punya harapan Pemilu 2019 masing-masing soal “jadi lebih baik”.

Misalnya, nelayan, yang ingin semakin diperhatikan soal harga bensin yang mahal untuk berangkat melaut di saat hasil tangkapannya dibeli murah. Guru ingin kenaikan gaji. Ojek online ingin keadilan karena tidak terima dengan naiknya tarif turunnya bonus.

Ada juga keinginan sakral dari beberapa komunitas yang ingin Wiji Thukul ditemukan. Hidup atau mati.

Masing-masing memiliki keinginan sendiri untuk melihat adanya perubahan dari pemilu ini dan harus tercapai sesegera mungkin. Keinginan ini hanya menggacu pada kepentingan masing-masing. Jika digambarkan, maka akan ada banyak sekali keinginan dan harapan Pemilu 2019.

Saya sendiri ingin Aksi Kamisan berhenti dan Greenpeace Indonesia tutup.

Sampai saat ini Aksi Kamisan sudah berlangsung 12 tahun, berdiri di depan Istana Negara setiap Kamis. Bukan karena doyan nongkrong depan istana, tetapi karena masih banyak tanggung jawab negara yang belum selesai dalam menangani kasus HAM.

Tentu saya tidak bisa menyebutkan semua kasusnya, karena selalu ada kasus baru yang berbeda yang digiring ke depan Istana di setiap Kamis. Permasalahannya, setiap ada kasus baru untuk dituntut keadilannya di depan Istana, kasus-kasus yang lama belum juga diproses. Jadi butuh berapa tahun Aksi Kamisan hadir supaya negara tergerak hatinya untuk memproses segala kasus yang masih menggantung?

Aksi Kamisan hanya diam berdiri di depan Istana. Tidak melakukan tindakan yang arogan. Apa yang ditakutkan?

Lain lagi dengan Greenpeace yang sering kali terliput karena melakukan tindakan ekstrem supaya protes mereka mendapatkan perhatian. Salah satu aksinya ialah anggota Greenpeace perlu melaut beriringan dengan kapal boat mendatangi kapal kargo bermuatan hasil olah kelapa sawit, menuntut perusahaan kelapa sawit tersebut menghentikan perusakan hutan.

Akibatnya, para aktivits itu ditahan karena aksi penyampaian pendapat mereka. Meskipun sudah diinfokan sebelumnya bahwa mereka akan melakukan aksi damai terkait protes tersebut, tapi tetap diabaikan.

Greenpeace juga melakukan aksi protes untuk menuntut negara segera melakukan proses hukum kepada perusahaan yang melakukan perusakan hutan secara sengaja demi pembukaan lahan sawit. Ditambah lagi isu-isu lain seperti illegal logging, pekerja anak, eksploitasi pekerja, dan perampasan tanah yang tujuannya untuk kepentingan produksi perusahaan.

Greenpeace ingin adanya proses hukum yang sesuai untuk perusahaan yang melakukan pelanggaran ini dan adanya tindak lanjut negara kepada warga yang terkena dampaknya.

Keinginan-keinginan ini memang terlalu berat untuk mendapatkan jawaban “iya” atau “baik akan kami tindak.” Butuh perjuangan 12 tahun bagi Aksi Kamisan. Perlu melakukan hal ekstrem bagi Greenpeace supaya aktivis mendapatkan perhatian. Keinginan ini murni sebuah kekhawatiran dengan hukum yang ada di Indonesia.

Apa negara hukum ini lemah untuk bertindak hukum secara adil? Atau memang hukum hanya berlaku untuk kepentingan negara tapi tidak untuk warganya? Atau memang benar bahwa hukum di sini tajam ke bawah tumpul ke atas?

Saya ingin lihat di depan Istana setiap Kamis itu kosong. Tidak ada orang-orang berpakaian hitam berdiri menyampaikan pendapat mereka mendesak negara untuk segera bekerja menuntaskan kasus pelanggaran HAM yang ada.

Saya ingin lihat Greenpeace lebih sibuk melakukan penghijauan daripada melakukan aksi protes dan membuat petisi untuk perusahaan yang merusak lingkungan dan negara yang tidak melakukan tindakan tegas untuk perusahaan tersebut. Greenpeace tidak perlu memiliki dua peran, sebagai aktivis lingkungan dan aktivis legal.

Untuk mengatasi Aksi Kamisan dan Greenpeace tersebut, mudah saja bagi negara untuk melakukan diskusi dan melakukan reboisasi. Sehingga keluarga korban di Aksi Kamisan mendapat harapan dari negara dan merasakan negara benar-benar peduli dengan kasus-kasus HAM yang terjadi di dalam negeri. Greenpeace pun hanya perlu melakukan pengawasan terhadap hutan hujan negara yang tengah hijau lebat dan kualitas udara kota demi kepentingan kesehatan warga.

Apakah perjuangan keduanya akan terus berlanjut setelah Pemilu 2019 bahkan berlanjut hingga periode selanjutnya?

Tentu saya ingin keduanya segera berhenti dengan mendapatkan hasil yang maksimal. Seperti dendam, kasus HAM perlu diselesaikan dengan tuntas. Hukum bukan hanya sekedar menghukum, bukan bertindak adil kepada oknum, tetapi sama rata untuk negara dan warganya.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “Apa Yang Ingin Kamu Lihat Berubah Karena Pemilu 2019?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *