Ke Manakah Sampah Sesudah Pemilu?
Ilustrasi: Emira Salma/Youth Proactive

Ke Manakah Sampah Sesudah Pemilu?

Saat ini setiap melintasi jalan ibu kota, bahkan jalan di gang-gang sempit perumahan, terpampang spanduk-spanduk dengan konteks kompetisi. Ya! Selamat datang di zona pemilu. Zona tempat pamflet para calon lebih menguasai jalanan dibandingkan dengan jumlah ojek pangkalan yang ada di pos ronda.

Fenomena ini sudah berlangsung hampir tiga bulan lamanya. Tidak dapat disalahkan bahwa sistem konvensional ini memang ampuh untuk mempromosikan diri para calon sehingga mampu menggaet suara para rakyat.

Namun, setelah pemilu nanti, di mana para calon yang wajahnya sudah hadir di tembok-tembok rumah untuk bertanggung jawab? Hilang ditelan bumi. Sudah menjadi cerita usang bahwa agenda lima tahunan ini menimbulkan sampah pemilu menggunung luar biasa. Mereka terpilih, tapi atribut kampanye mereka terlupakan.

Harus ada berapa pemilu lagi untuk melihat bahwa fenomena ini terus berulang-ulang? Sudahlah bro, ini zaman modern. Katanya apa-apa bisa dilakukan dengan genggaman jari. Negara ini katanya berniat mengurangi sampah. Begitu jelang pemilu, para calon berbondong-bondong memperbanyak sampah-sampah dengan wajah. Entah dengan atau tanpa izin warga yang temboknya ditempeli.

Saya belum pernah mendengar ada seorang calon pemimpin yang bertanggung jawab merapikan sampah dengan wajah ini. Jika bertanggung jawab untuk diri sendiri saja belum bisa, bagaimana mereka bertanggung jawab terhadap daerah atau wilayah yang lebih luas lagi? Sesulit itukah? Terpilih atau tidak, minimal sampah pemilu tersebut menjadi tanggung jawab yang harus diselesaikan dahulu sebelum mengemban tugas lain.

Ingat, tiap orang adalah pemimpin untuk dirinya sendiri. Ya, minimal, perilakunya bisa dipertanggungjawabkan di mata Tuhan.

Masih banyak media yang memberikan dampak besar yang bisa digapai untuk menggaet suara rakyat. Berinovasilah wahai calon pemimpin. Kalian sudah berjuang, tapi perjuangan kalian jangan terlalu monoton. Jangan cuma menggunakan template salah yang terus berulang. Keberanian kalian akan saya acungi jempol ketika kalian bisa bertanggung jawab terhadap sampah pemilu kalian sendiri. Itu bedanya pemimpin dari pemimpi.

Sejatinya orang baik akan selalu dipertemukan dengan orang baik, begitupun sebaliknya orang buruk akan selalu dipertemukan dengan orang buruk. Sampai jumpa di pemilu selanjutnya—pemilu bebas portofolio calon wakil rakyat yang bukan cuma menguras uang tapi juga menguras ruang.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *