Atta Halilintar diajak Kamisan
Ilustrasi: Emira Salma/Youth Proactive

Jika Atta Halilintar Mengajak Milenial pada Hal-hal Substansial

Nama Atta Halilintar mencuat beberapa waktu belakangan. Cowok bernama lengkap Muhammad Attamimi Halilintar, usia 24 tahun, dan berzodiak Scorpio ini menasbihkan dirinya sebagai “The King of Youtube in Indonesia”.

Bukan tanpa alasan, klaim itu dibanggakannya setelah meraih nomor satu jumlah subscriber YouTube terbesar se-Asia Tenggara. Angkanya fantastis. Pada saat artikel ini ditulis, jumlah subscriber Atta adalah 11.034.386 dengan koleksi 394 video.

Penasaran dengan berapa penghasilan dari monetisasi kanal YouTube yang dimilikinya? Mari kita hitung secara kasar. Dari 394 video yang dimiliki Atta, total views yang diperoleh adalah 820.915.641. Jika kita kalikan dengan angka CPM (cost per thousand/impression) YouTube Indonesia, yaitu 0,68 USD per view maka setidaknya penghasilan Atta adalah: 558.223 USD atau setara dengan 7,8 miliar rupiah.

Tapi apa saja sebetulnya konten yang Atta produksi dalam kanalnya? Sebagian adalah prank, eksperimen sosial, menyambangi rumah artis, tutorial, dan sejenisnya.

Konten-konten yang, menurut saya, agak jauh (kalau tidak tega dibilang jauh banget) dari konten-konten substansial. Maksudnya substansial, setidaknya berfaedah menjawab kebutuhan riil penonton, atau lebih spesifiknya lagi, substansial bagi generasi milenial.

Menjawab kebutuhan riil generasi milenial

Di tengah tenggat skripsi atau tugas kuliah, tontonan YouTube yang dihadirkan Atta Halilintar bisa jadi pilihan. Sekadar refreshing atau mungkin saat mulut ingin berkata kotor, well you choose.

Berdasarkan sejumlah hasil lembaga riset, kebutuhan riil generasi milenial saat ini adalah: kepastian kerja, upah, dan fasilitas pelayanan publik seperti pendidikan dan kesehatan. Ada kecemasan para milenial: saat gelar pendidikan tinggi sudah di tangan, kepastian pekerjaan belum juga datang. Maka jangan heran, meskipun identik dengan hura-hura bergembira, percayalah masih ada belas kasih mama-papa untuk keriaan itu.

Lain halnya dengan milenial yang sudah mendapat pekerjaan dan (setidaknya) memiliki penghasilan tetap (ini belum yang termasuk freelancer, loh). Ada kesulitan dalam menyimpan sisa penghasilan di tiap bulannya.

Literasi mengenai keuangan juga jauh dari ideal. Gaji sekadar lewat; mendekati akhir bulan semua serba cekak. Hal ini karena upah yang diterima pun serba pas. Dipas-pasin untuk ongkos, makan, jajan, nongkrong, kuota, kosan, dan mengulang terus tiap bulan. Jangankan memikirkan kepemilikan aset (seperti rumah atau kendaraan), tidak berutang sama teman saja sudah lebih baik.

Milenial, menurut saya, punya ragam pilihan yang mestinya lebih substansial dalam mewarnai faedah hidupnya. Ekspektasi ini setidaknya saya harapkan bisa diproduksi oleh para content creator. Tentu saja, ada kanal-kanal yang bisa dibilang substansial, tapi eksistensinya jauh dari sorotan dan angka subscriber yang jutaan.

Lantas, apakah mungkin mengkolaborasikan inisiatif substansial tadi bersama para maha-content creator YouTube seperti Atta Halilintar? Mengapa tidak.

Sebuah gagasan konten untuk Atta Halilintar

Bagi yang ingin berjulid, iri, dengki pada penghasilan Atta Halilintar–dan mungkin Ria Ricis–ya sah-sah saja. Tetapi, kita perlu lebih jeli memposisikan mereka sebagai mitra strategis dalam menyuarakan isu-isu substansial.

Mungkin kah kita lebih berpikir positif: jangan-jangan Atta buat konten soal prank bukan cuma karena konten semacam ini laku, tapi bisa jadi juga karena Atta nggak tahu kalau Indonesia adalah negara dengan tingkat korupsi yang memprihatinkan dibandingkan negara Asia lainnya? Negara saja sudah melakukan prank terhadap kita. Mestinya konten itu bisa lebih substansial, bukan?

Saya membayangkan Atta tidak perlu menjadi gembel demi meraup view pemirsa YouTube. Karena gembel bisa kita temui dalam realitas hidup sehari-hari. Hal ini dikarenakan kesenjangan sosial begitu tinggi dan akses terhadap sumber daya demikian timpang.

Mungkin Atta kurang informasi, dan substansi ini tidak diketahui Atta. Ingat: saat Atta menginjak usia 13 tahun, penghasilannya lewat YouTube mencapai 1 milyar. Bagaimana dia bisa tahu bahwa ada gembel-gembel seusia dia di luar sana yang kepanasan, kehujanan, dan dikejar aparat?

Atta sudah begitu berjarak dengan isu sosial nan substansial. Atta bisa membuat konten yang lebih menyentil empati milenial mengenai kesenjangan ini–tentu janganlah yang berujung pada: “Jika Aku Menjadi”. Sungguh, jangan.

Atta juga tidak perlu sibuk membuktikan orientasi seksual, ekspresi gender, dan penampilan Lucinta Luna yang dijualnya menjadi konten dan ditonton lebih dari 2 juta viewers. Atta bisa mengangkat konten mengenai apa itu diskriminasi yang dialami oleh kawan-kawan kita dikarenakan orientasi seksual, ekspresi gender, dan pilihan mereka.

Jika Atta melihat itu konten yang rentan dan berisiko, setidaknya Atta tidak perlu mengeksploitasi dan mengobjektifikasi pihak-pihak tertentu karena identitas gendernya. Eh sebentar, Atta ngerti ‘kan ya maksud paragraf ini?

Mengangkat konten dan topik menyambangi rumah artis-artis kenamaan memang menarik. Entah apa motivasinya. Sebuah inspirasi agar milenial bekerja-kerja-kerja bagai kuda sehingga rumah milyaran itu terbeli? Atau ajang pamer semata karena milenial di balik layar hanya bisa gigit jari?

Alih-alih, sebuah gagasan substansial bisa terwujud bila menghadirkan konten mengenai persoalan lahan (tanah) yang hanya dimiliki/dikuasai segelintir orang, beserta fakta dan datanya. Hal miris yang sedang dan akan dialami milenial kelas menengah adalah sulitnya kita memiliki rumah dikarenakan penguasaan lahan serta harga spekulan yang kurang ajar. Atta sangat mungkin memoles konten itu di kanal kebanggaannya.

Jika saja artikel ini sampai pada Atta Halilintar, saya pikir kita siap berkolaborasi untuk menyiapkan konten-konten substansial bagi generasi milenial.

Bagaimana, Atta? Semoga jawabannya: Ahsiaaaapp!!!

Sharing is caring!
Share on Facebook83Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

2 responses to “Jika Atta Halilintar Mengajak Milenial pada Hal-hal Substansial

Leave a Reply to Dimas Muharam Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *