Lelaki menghadang perempuan menangis
Ilustrasi: Narada News

Bukan Cuma UGM: Kasus-kasus Pelecehan Seksual di Kampus

Pemberitaan mengenai kekerasan seksual yang dialami seorang mahasiswi UGM yang diterbitkan oleh pers mahasiswa UGM, Balairung (5/11), seketika menarik perhatian publik.

Terang saja, mencuatnya kasus ini membawa kita untuk mengingat kembali lembaran-lembaran kelam mengenai pelecehan dan kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan akademis. Berkaitan dengan itu, kami tergelitik untuk menelusuri kasus-kasus pelecehan dan kekerasan seksual di kampus yang pernah terjadi dalam kurun waktu 2007-2018 secara daring.

Kapan dan di mana saja sih, kasus-kasus pelecehan dan kekerasan seksual di lingkungan kampus pernah terjadi?

Bimbingan akademik berujung pelecehan (2007—2016 di Kampus UI Depok)

Berdasarkan berita Kompas.com (31/10), seorang dosen di Fakultas Hukum UI yang berinisial N dinonaktifkan pada 22 Oktober 2008 karena terlibat kasus pelecehan seksual di kampus atas mahasiswi bimbingan skripsinya, Ind (inisial penyintas) pada tahun 2007.

Tidak hanya kepada Ind, N juga dilaporkan telah melakukan pencabulan sebanyak tiga kali pada seorang mahasiswi lainnya yang bernama Niken (nama samaran). Dilansir melalui hukumonline.com (21/4), Niken mengalami kejadian tersebut sebanyak dua kali pada tahun 2000 di kampus dan satu lainnya di kantor N.

Tidak berhenti sampai di situ, rekam jejak pelecehan dan kekerasan seksual di lingkungan kampus kuning masih berlanjut. Seorang budayawan sekaligus dosen di Fakultas Ilmu Budaya UI, Sitok Srengenge, dilaporkan oleh seorang mahasiswinya, RW, ke Polda Metro Jaya pada 29 Oktober 2013 atas tindakan perkosaan yang dilakukan Sitok beberapa bulan sebelumnya (Kajian Kastrat BEM FIB UI 2015 dalam Kompasiana.com, 26/10).

Pada Oktober 2014 Sitok dinyatakan sebagai tersangka. Kemudian, pada April 2015 kejaksaan mengembalikan berkas ke penyidik dan pada Agustus 2015 berkas kembali dilimpahkan karena dianggap tidak lengkap. Kasus ini ditanggapi lambat sehingga pada 2018 masih belum ada kepastian hukum.

Selain kasus-kasus di atas yang diketahui secara jelas oleh publik, terdapat kasus-kasus lainnya yang belum “rapi” secara pendataan.

HopeHelps menghimpun 30 kasus pelecehan seksual di kampus UI selama 2015—2016 dengan lebih dari 10 kasus yang terjadi dalam setahun terakhir (Tirto, 4/7). Namun, dikatakan oleh Salsa, koordinator utama HopeHelps, bahwa data-data tersebut belum diklasifikasi berdasarkan laporan mana yang datang dari UI dan mana yang datang dari pelapor dari luar UI.

Diundang untuk membuat laporan keuangan tapi malah dilecehkan? (2015—2016 di UNJ)

Seorang dosen Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) di Universitas Negeri Jakarta, Andri Rivelino, melakukan perkosaan kepada seorang mahasiswinya, FN (inisial penyintas).

Berdasarkan laporan dari lembaga pers mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Didaktika (12/5), Andri melangsungkan tindakannya pada 8 Februari 2015 dengan cara mengundang FN (inisial penyintas) ke tempat kosnya untuk membuat laporan keuangan FIS Mart.

Setelah diproses dengan jalan mempertemukan keluarga penyintas dengan pelaku, pihak UNJ mengeluarkan Surat Keputusan No. 257/5.FIS/SK/2015 pada 16 April 2015 yang menetapkan sanksi moral kepada pelaku.

Tapi ternyata, pasca menerima SK, Andri ‘menyerang’ penyintas dengan melaporkan kembali ke pihak kepolisian atas dasar pencemaran nama baik. Selain itu, pada 2 Juni 2015, Andri juga masih menggugat keputusan Dekanat FIS.

Aku ingin lulus tanpa pelecehan dan kekerasan seksual (2016—2018 di UGM)

Kasus kekerasan seksual yang dialami Agni saat KKN pada pertengahan 2017 lalu, bukanlah satu- satunya kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang melibatkan sivitas akademika UGM.

Melalui reportase The Jakarta Post (2/6) pada Juni 2016 lalu, disingkap sebuah kasus pelecehan seksual di kampus oleh seorang dosen UGM berinisial EH.

Penyintas yang bernama Maria (nama samaran) mengalami pelecehan seksual di kampus ketika diundang oleh EH untuk mengonsultasikan makalahnya di sebuah pusat studi dalam kampus pada pukul 8 malam.

Atas perbuatan tersebut, pihak UGM menjatuhkan tiga sanksi kepada EH, yaitu membebastugaskannya dari kewajiban mengajar serta membimbing skripsi dan tesis, membatalkan usulan EH sebagai kepala pusat kajian, dan mewajibkannya untuk mengikuti program konseling dengan Rifka Annisa Women’s Crisis Center.

Berdasarkan catatan kasus yang ditangani oleh Rifka Annisa Women’s Crisis Center Yogyakarta melalui Liputan6.com (7/11), dalam kurun waktu 2000—2015 terdapat 214 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan oleh dan terhadap sivitas akademika.

Penyintas melawan bungkam (2018 di salah satu kampus di Bali)

Tirto (6/11) meluncurkan seri laporan tentang pelecehan seksual di kampus yang kali ini mengangkat kisah seorang mahasiswi di Bali yang berani terbuka untuk menceritakan pengalamannya dalam menegakkan keadilan sebagai penyintas perkosaan oleh seorang asisten dosen di kampusnya.

Berbagai upaya dilakukan oleh penyintas, seperti memberanikan diri membawa kasusnya ke polisi, mengumpulkan dukungan dan bukti seorang diri, bertahan dari ancaman pelaku, berdamai dengan depresi dan bayang- bayang bunuh diri, tekanan sosial, hingga keberaniannya untuk membawa kasus ini ke media sosial guna menghimpun dukungan.

Alih- alih didukung, penyintas dan keluarga semakin ditekan oleh pihak pelaku. Hingga Tirto menerbitkan laporan ini (6/11), kasus tersebut juga belum mencapai titik terang. Namun, penyintas berharap pengalamannya dapat menjadi pelajaran bagi orang lain.

Sesulit itukah untuk tidak bungkam?

Di sudut sana, masih banyak suara penyintas yang masih terbungkam dan terancam. Berdasarkan pemantauan Rifka Annissa, kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan di lingkungan kampus seringkali merupakan kasus yang melibatkan lebih dari satu penyintas.

Namun, tidak banyak penyintas yang berani untuk melaporkan pengalaman buruk yang dialami karena adanya relasi kuasa yang timpang antara penyintas dengan pelaku. Pelaku kerap kali orang yang berkuasa (misalnya: dosen) sehingga pelaku rentan terancam jika melaporkan kasusnya.

Di sisi lain, pihak kampus masih minim perhatian akan regulasi yang melindungi penyintas pelecehan dan kekerasan seksual serta ketidakjelasan sanksi bagi pelaku.

Hasilnya ya begini, kasus kekerasan dan pelecehan seksual hanya timbul lalu tenggelam, seiring dengan arah sorotan media atau suara-suara sayup anonim di ruang- ruang maya.

Bagaimana tanggapanmu, Youth?

Sharing is caring!
Share on Facebook27Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *