Pendukung sepak bola berseru

Fanatisme, Ancaman Kah?

Baru-baru ini dunia persepakbolaan Indonesia lagi-lagi dirundung duka atas berpulangnya salah satu pendukung klub sepak bola asal DKI Jakarta, Persija. Hal ini akibat pengeroyokan yang dilakukan oleh oknum-oknum bobotoh, begitu panggilan akrab bagi pendukung klub bola Persib Bandung.

Ini bukan kejadian yang pertama, tapi saya harap ini jadi yang terakhir.

Batin saya terkoyak ketika melihat video amatir yang beredar di masyarakat. Inikah yang mereka sebut ‘pendukung’? Beginikah bentuk dukungan atas klub sepak bola yang mereka cintai? Sebegitu biadabnya mereka memukul, menendang, menginjak, saudara sebangsa dan setanah air mereka yang pada saat itu keadaannya tak berdaya, sendirian, dan kesakitan.

Tertutupkah hati nurani dan mata batin mereka ketika melihat darah yang mengalir dari tubuh saudara mereka? Tertutupkah telinga dan pikiran mereka ketika mendengar jeritan lemah saudara mereka yang meringis kesakitan meminta pertolongan?

Tidak pernahkah mereka membayangkan, bagaimana jika mereka menjadi orang tua kelak dan anak yang mereka besarkan, didik, dan kasihi sejak kecil, direnggut paksa dari sisi mereka dengan cara yang sebegitu kejinya? Tidak pernahkah mereka membayangkan, bagaimana jika MEREKA yang ada di posisi itu?

Tak seharusnya siapa pun yang datang di acara pertandingan sepak bola atau olahraga lainnya merasa was-was dan harus awas. Tak seharusnya siapa pun yang hidup merasa takut. Semua manusia memiliki hak yang sama atas apa-apa yang ada di dunia ini.

Semua berhak mencintai olahraga, semua berhak memilih klub sepak bola favoritnya, semua orang berhak fanatik atas hal-hal yang disukainya—tapi dengan satu syarat, jangan sampai kefanatikan itu menutup mata, telinga, hati, dan pikiran kita atas norma-norma kehidupan yang berlaku. Jangan sampai kefanatikan itu merugikan diri sendiri, apalagi orang lain. Jangan sampai kefanatikan itu merenggut hak orang lain—apalagi sampai membuat orang lain harus kehilangan haknya untuk hidup.

Pada dasarnya fanatisme tidak dilarang, yang dilarang adalah perilaku radikalisme dan vandalisme yang timbul dan cenderung merusak serta merugikan. Fanatisme, asalkan masih dalam taraf wajar, seharusnya tidak bersifat mengancam. Fanatisme, seyogyanya, asalkan memberi kesenangan bagi orang yang menganutnya dan tidak memberi dampak buruk bagi sekitar, saya rasa bukan menjadi sebuah masalah.

Mengutip omongan mantan kapten Timnas Indonesia, Bambang Pamungkas, yang membuat saya terenyuh, “Tidak ada satu kemenangan pun yang SEBANDING dengan nyawa.” Ucapan ini semakin menegaskan bahwa bahkan pemain yang tergabung dalam klub sepak bola pun tidak menyetujui adanya kekerasan antar pendukungnya.

Dengan gugurnya pendukung-pendukung sepak bola yang diakibatkan oleh rivalitas antar klub sepak bola, sudah saatnya kita bersama-sama mulai melakukan revolusi mental. Hentikan kebencian yang sudah mendarah daging. Jangan biarkan kebencian itu terus mengalir pada darah kita. Jangan ada kata balas dendam. Jangan biarkan kita terbutakan oleh amarah dan nafsu sesaat. Jangan lagi ada cacian dan makian.

Maafkan. Maafkan. Maafkan.

Kita mungkin dibedakan oleh preferensi-preferensi, kita mungkin dibedakan oleh warna kulit, kita mungkin dibedakan oleh pilihan politik, kita mungkin dibedakan oleh keyakinan, kita mungkin dibedakan oleh logat, tapi kita masih menghormati bendera merah-putih yang sama.

Jadikan kejadian memilukan dan keji ini sebagai momentum yang mengakhiri kekerasan dalam sepak bola, karena sepak bola pada hakikatnya diciptakan sebagai olahraga pemersatu bangsa, dan sejatinya sepak bola, sama seperti olahraga lainnya, tak semestinya meminta tumbal.

Sharing is caring!
Share on Facebook7Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

3 responses to “Fanatisme, Ancaman Kah?

    1. Gak abis pikir sama orang orang kayak gini. Ada musibah kayak gini masih bisa bisa nya ngasih pertanyaan gak berbobot. Contoh2 orang yang mentalnya harus di revolusi ya kayak gini.

  1. tulisan nya bagus sangat menginspirasi..
    semoga kejadian ini adalah terakhir..
    jaya lah sepakbola negeri ku!!

    terima kasih kpd penulis yg sangat inspiratif!
    keep up the good work!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *