Membuka jaket ojek online
Ilustrasi: Yasmina Wulandari/Youth Proactive

#UninstallGojek atau #UninstallGrab? Opresi Terhadap Kelompok Marjinal

Gema tagar #UninstallGojek dan #UninstallGrab yang menduduki peringkat dua teratas trending topic di Twitter membuat saya terkejut. Ketika saya membuka isi cuitan dari tagar keduanya, alhasil saya tersenyum miris.

Terdapat dua isu yang dipikul kedua tagar ini, #UninstallGojek dengan kegelisahan dan kontra warganet terhadap isu LGBT dan #UninstallGrab dengan sikap yang tidak tepat perihal penanganan sexual harassment yang dialami penumpangnya. Yang menarik adalah terhitung pada Sabtu (13/10) lalu, berdasarkan perhitungan dari Spredfast (BBC Indonesia, 14 Oktober 2018), cuitan yang memuat tagar #UninstallGojek menang besar dengan membawa 30.000 cuitan, sedangkan #UninstallGrab dengan 1.600 cuitan yang telah muncul sejak Kamis (14/10) siang.

Mengapa cuitan dengan tagar #UninstallGojek lebih banyak ‘peminat’-nya daripada #UninstallGrab? Mengapa isu kontra LGBT lebih digaungkan oleh warganet daripada penyikapan sexual harassment yang dialami penumpang perempuan?

Bukan hanya perihal jumlah cuitannya yang layak dibandingkan, namun bagaimana dua isu ini menarik perhatian, dukungan, dan penolakan yang berbeda dari warga dunia maya. Satu hal yang menjadi poin penting pada fenomena ini adalah subjek pada kedua isu tersebut berada pada situasi yang sama, yaitu dimarjinalisasi, didominasi, dan diopresi.

#UninstallGojek x #UninstallGrab

Isu dukungan Go-Jek pada kelompok LGBT mencuat setelah sebuah unggahan Facebook dari seorang karyawan Go-Jek pada 11 Oktober. Dia mengemukakan kebahagiaannya atas kampanye internal, GOinALLin, yang menunjukkan penghargaan terhadap keberagaman dan inklusivitas melalui pengadopsian kebijakan non-diskriminatif atas keberadaan kelompok LGBT yang berkarya di Go-Jek.

Dalam sekejap, unggahan status Facebook tersebut menarik perhatian warganet dengan tagar #UninstallGojek. Menanggapi hal tersebut, pada 13 Oktober 2018 melalui akun Twitter, Go-Jek melakukan konfirmasi yang menyatakan bahwa pihak Go-Jek sangat menghargai keberagaman. Respons pro dan kontra dari warganet masih berdatangan, seperti mengaitkannya dengan ajaran agama mayoritas, keburukan akhlak, hingga tudingan antar warganet mengenai logical fallacy dan close-minded.

Menjadi menarik ketika membandingkan respons warganet mengenai pro-LGBT Go-Jek dengan kasus sexual harassment yang dialami oleh penumpang Grab Indonesia.

Berdasarkan beberapa laporan media massa, seperti Vemale.com, Tempo.co, Tribunnews.com, The Jakarta Post, dan cuitan di Twitter, terdapat lima kasus pelecehan seksual pada tahun 2017 dan tujuh kasus pelecehan seksual pada tahun 2018 yang dilakukan oleh pengemudi Grab Indonesia.

Dari beberapa kasus tersebut, terdapat tiga kasus pelecehan seksual yang menjadi perbincangan hangat masyarakat daring dan luring pada Oktober 2018 ini karena ketiganya terjadi dalam waktu yang berdekatan.

Laporan- laporan tersebut disampaikan melalui unggahan Instagram, salah satunya dilakukan oleh Indonesia Feminis yang mengunggah di Instagram mengenai seorang pengemudi GrabCar yang memaksa penumpangnya untuk berciuman.

Menanggapi hal tersebut, pihak Grab Indonesia menawarkan mediasi dengan mempertemukan korban dengan pelaku. Mengetahui hal itu, lantas warganet geram dan menilai sikap yang diambil oleh Grab Indonesia tidaklah tepat karena mediasi dengan mempertemukan langsung kedua pihak bukanlah cara yang tepat, melainkan merugikan dari sisi korban yang mengalami trauma.

Maskulinitas di ruang maya

Melalui hasil bacaan saya pada beberapa cuitan warganet di kedua tagar tersebut, adanya suara-suara yang menyebarkan bibit kerangka berpikir maskulinitas menyebabkan kepekaan terhadap hak-hak penyintas pelecehan seksual tidak tersampaikan dengan maksimal.

Respons yang muncul didominasi oleh sikap taken for granted dan menganggap pengalaman pelecehan seksual yang dialami oleh penumpang perempuan adalah hal lumrah di dunia yang bias heteroseksual. Seolah-olah perempuan adalah benda mati dan suaranya adalah angin lalu.

Meskipun interaksi sosial di ruang maya tidak serta merta merefleksikan secara keseluruhan interaksi sosial di ruang nyata, namun bagaimana para penggunanya menampilkan diri dan menyatakan pendapat tentang suatu isu dapatlah dipahami wacana seperti apa yang diproduksi dan menghegemoni.

Tweet kekecewaan terhadap Grab
Kekecewaan atas respon buruk dari pihak Grab ID atas laporan pelecehan seksual yang dialami oleh seorang pengguna layanan.

Vasiliadou (2005:8) menyatakan bahwa media melakukan opresi pada perempuan karena mendapatkan dukungan dari negara yang memiliki regulasi pada sumber daya dan ruang. Selain itu, perempuan yang memiliki keterbatasan akses untuk masuk ke ranah media juga mendukung pembangunan stereotip yang melemahkan perempuan dan opresi eksistensi dari sudut pandang maskulinitas yang terus diproduksi oleh media.

Dengan kata lain, media dan wacana maskulinitas saling membangun satu dengan yang lainnya untuk mengukuhkan stereotip, stigma, dan diskriminasi terhadap perempuan yang dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perempuan di dalam jaringan tetapi juga di luar jaringan.

Media melakukan penguatan melalui konstruksi pra-anggapan yang mengatakan bahwa manusia yang utuh adalah manusia yang bertindak dan berpikir layaknya laki- laki yang maskulin (Tong, 2004:44).

Selanjutnya, stereotip femininitas yang dilekatkan oleh kerangka berpikir maskulinitas tersebut semakin diopresi secara sistematis oleh kerangka-kerangka berpikir yang juga maskulin di berbagai institusi, seperti keluarga, tempat kerja (perusahaan), dan negara.

Dalam hal perusahaan, kita bisa lihat sikap manajemen perusahaan Grab Indonesia dalam menanggapi laporan traumatis pengguna jasa dan penindakan secara legal terhadap mitra kerja terkait.

Keputusan Grab Indonesia dalam mengambil mediasi sebagai cara menyelesaikan kasus pelecehan seksual tanpa menggunakan cara legal untuk melindungi penumpang, memperlihatkan cara pandang yang melemahkan posisi perempuan sebagai korban. Dia menganggap pelecehan seksual hanya sebuah kesalahpahaman sehingga dapat diselesaikan dengan saling berbicara.

Di luar jangkauan: upaya inklusi yang dieksklusi

Ternyata, tidak hanya perempuan yang suaranya ditekan. Kelompok LGBT juga menghadapi tekanan dan fluktuasi sinisme jika eksistensi mereka muncul di hadapan publik.

Tagar #UninstallGojek menduduki peringkat cuitan lebih banyak daripada ‘tetangga’-nya. Mengapa hal ini terjadi? Beberapa pengguna tagar mengatakan eksistensi kelompok LGBT berbahaya dan  tidak sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa. Tapi tidak sesuai versi siapa?

Meningkatnya sentimen publik terhadap eksistensi kelompok LGBT memicu berbagai upaya untuk mengeksklusi kelompok LGBT dari kehidupan masyarakat yang juga mengarah pada upaya persekusi.

Pada konteks legal hak asasi manusia, persekusi adalah salah satu jenis kejahatan kemanusiaan sebagaimana dimaksud pada Pasal 7 ayat (2) huruf G Statuta Roma. Persekusi sebagai bentuk perampasan secara sengaja dan kejam terhadap hak-hak dasar yang bertentangan dengan hukum internasional dengan alasan yang berkaitan dengan identitas suatu kelompok atau golongan tertentu.

Hak-hak dasar yang kerap dilarang untuk didapatkan oleh kelompok LGBT adalah kegiatan diskusi di ruang akademik, diskriminasi di tempat kerja, pendidikan, ruang publik, hingga upaya secara sengaja untuk mengkriminalisasi LGBT melalui jalur peradilan dan legislasi.

Dua buah unggahan warganet yang kontra LGBT.
Dua buah unggahan warganet yang kontra LGBT.

Tentu saja, ketika mereka tampil di hadapan publik, sebagian besar respon yang didapatkan adalah pertentangan dan stigma. Berdasarkan data dari LBH Masyarakat, praktik stigma terbesar yang disematkan pada kelompok LGBT adalah penyimpangan, bertentangan dengan agama, dan mengancam bangsa (Zakiah, 2018:10).

Stigmatisasi semacam itu dapat mengarahkan pada kesalahpahaman  mengenai apa, siapa, dan bagaimana LGBT hadir. Kelompok LGBT tidak dipandang sebagai manusia, melainkan sebagai sebuah isu, ideologi, bahkan penyakit.

Sayangnya lagi pemahaman yang keliru ini diteruskan dengan tindakan yang keliru pula, seperti melakukan pelecehan dan kekerasan terhadap kelompok LGBT hanya karena dinilai berbeda tampilan fisik dan perilakunya.

Dalam hal ini, upaya coming out yang dilakukan oleh seorang karyawan Go-Jek, direspons oleh respons mayoritas yang kukuh di alam pikir mereka, yaitu maskulinitas. Sebagaimana dinyatakan oleh Connell, “Hegemonic masculinity is always constructed in relation to various subordinated masculinities as well as in relation to women” (Connell, 1987:183).

Dengan kata lain, maskulinitas mengonstruksikan unsur-unsurnya sebagai sesuatu yang berbeda dari unsur-unsur yang dianggap feminin; kemudian unsur tersebut digunakan untuk mengatur unsur-unsur yang dianggap tidak maskulin (other). Akibatnya, ekspresi seksual yang tidak masuk ke dalam dikotomi maskulin-feminin tersebut mengalami pengabaian, tekanan, dan diskriminasi. Seolah-olah mereka bukanlah manusia. Ini yang terjadi pada kelompok LGBT.

Konsep ‘hegemoni’ di dalam ‘hegemoni maskulinitas’ bermakna sebuah kekuasaan sosial yang dicapai dari sebuah permainan penekanan sosial, yang merambat pada pengaturan kehidupan sosial (Connell, 1987:184).

Kekuasaan dalam artian ini tersemat dalam doktrin dan praktik, konten media massa, struktur upah, desain tempat tinggal, kesejahteraan, kebijakan, dan sebagainya (Connell, 1987:184). Dalam hal ini, penggunaan tagar di Twitter dan pengunggahan laporan di Instagram, menjadi alat ajaib yang secepat kilat menarik perhatian massa.

Pilihan meng-uninstall atau tidak salah satu maupun kedua aplikasi transportasi di atas adalah hak setiap individu. Sah-sah saja untuk tidak menggunakan atau tetap menggunakan berbagai jasa yang inklusif terhadap kelompok LGBT dan/atau tidak ramah terhadap penyintas pelecehan seksual.

Yang menjadi point penting adalah: manusia eksis dengan mode dan pengalaman hidup masing-masing. Sehingga, tetap perlakukanlah setiap dari mereka dengan manusiawi. Buka mata, hati, dan telinga.

***

Daftar referensi

BBC Indonesia. 2018    ‘Tagar #UninstallGojek dan tuduhan ‘dukungan’ pada kelompok LGBT’, dilansir melalui https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-45854127, pada 18 Oktober 2018.

Connell, R.W. 1987    Gender and Power: Society, the Person and Sexual Politics. Great Britain: Page Bros (Norwich) Ltd.

Tong, Rosemarie Putnam. 2010    Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Aliran Utama Pemikiran Feminis: Yogyakarta: Jalasutra.

Valisidou, Myria. 2005    The Gender and Media Handbook: Promoting Equality, Diversity, adn Empowerment. Nicosia: Mediterranean Institute of Gender Studies.

Zakiah, Naila Rizqi. 2018    Seri Monitor dan Dokumentasi 2018: Bahaya Akut Persekusi LGBT. Jakarta: Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat.

Sharing is caring!
Share on Facebook19Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page
Sofiatul Hardiah

Tentang Sofiatul Hardiah

Bisa main Super Star BTS di mode normal sambil jalan cepat dan tepat. Masih aktif sebagai mahasiswa di Program Sarjana Departemen Antropologi Universitas Indonesia. Hobinya olahraga dan meditasi demi mencapai kesadaran akan eksistensi diri. Defaultnya: ketika jiwa dan raga bersatu lalu saling menjaga maka membaca, menulis, dan aktif di berbagai kegiatan sosial-budaya adalah sarana yang dilakukan untuk berbicara dengan, melalui, dan untuk semesta. Kata banyak orang, anaknya pendiam. Tapi jangan salah, bidikan matanya menggetarkan valuta. Baca tulisan lain dari penulis ini

One response to “#UninstallGojek atau #UninstallGrab? Opresi Terhadap Kelompok Marjinal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *