Orang membuang toga
Ilustrasi: Rifad Rizki/Youth Proactive

Keringat yang Berbeda: Medalis Sains yang Tak Dihargai

Perhelatan akbar Asian Games 2018 purna sudah. Kerja keras para atlet berbuah manis dengan total perolehan 98 medali emas, perak maupun perunggu. Apresiasi yang luar biasa datang dari pemerintah pusat, dengan memberikan bonus untuk semua perebut medali berupa uang, rumah hingga pengangkatan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Selain Asian Games, Indonesia pun sebetulnya berprestasi gemilang di ajang kompetisi mancanegara lain. Sebutlah Olimpiade Sains International (OSI) atau International Science Olympiad. Seperti halnya Asian Games, harusnya para pemenang diganjar dengan apresiasi yang pantas. Namun realitas yang terjadi pada medalis OSI berbanding terbalik.

Setidaknya begitulah yang dialami Ivan Kurniawan, silver medalist of International Chemistry Olympiad (2012) dalam menjejaki jalan terjal di negerinya sendiri.

Pada unggahannya di Facebook 7 September lalu, Ivan menjelaskan peliknya proses pencairan beasiswa.  Ivan masih harus mendaftar beasiswa lain selagi menunggu beasiswanya cair. Hal ini akibat tidak adanya titik terang dan sosialisasi detail bagi para medalis.

Setelah cair pun, ternyata uang beasiswanya tak cukup untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT). Sebagai medalis OSI Ivan pun tak menerima subsidi. Proses ini pun berlangsung alot hingga akhir masa jenjang Sarjananya di ITB 2017 lalu.

Tak hanya Ivan, Ardi medalis IESO (2013) dan Yudho medalis IOAA (2008) hingga kini masih memperjuangkan nasib beasiswanya. Mereka merupakan tiga orang yang masih berupaya dari ratusan medalis OSI yang pasrah. Menurut Ivan, beasiswa bukan hanya janji yang harus ditepati tetapi peraturan yang telah disahkan.

Sebagaimana termaktub dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) nomor 34 tahun 2006, tentang pembinaan prestasi peserta didik, setiap siswa yang berprestasi dalam ajang Internasional seharusnya mendapatkan penghargaan berupa beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Berikut pula dimuat dalam peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 120 tahun 2014, pasal 5 ayat 1, peraih medali emas diberikan beasiswa jenjang pendidikan tinggi sampai program doktor, peraih medali perak memperoleh beasiswa jenjang pendidikan tinggi sampai program magister, dan peraih medali perunggu memperoleh beasiswa jenjang pendidikan tinggi program sarjana.

Untuk mewakili Indonesia di ajang OSI sendiri melalui proses yang tidak mudah. Para peserta olimpiade harus melewati seleksi tingkat sekolah, kabupaten, provinsi hingga nasional. Kemudian ditempa selama berbulan-bulan hingga benar-benar siap berlaga di tingkat Internasional.

Selain nama yang sudah disebutkan, Indonesia punya banyak prestasi lain di OSI. DI waktu yang hampir bersamaan dengan penutupan Asian Games 2018, Indonesia berhasil meraih 3S1B dalam International Olympiad In Informatics 2018 di Tsukuba, Ibaraki. Dengan raihan 3 medali perak oleh Steven Wijaya, Abdul Malik Nurrokhman dan Ahmad Haulian serta satu medali perunggu oleh Muhammad Salman Al Farisi.

Bertepatan dengan hari kemerdekaan 17 Agustus 2018, pelajar Indonesia meraih 3 medali emas, 2 medali perak dan 3 medali perunggu dalam kompetisi “12nd International Earth Science Olympiad (IESO) 2018 di Mahidol Kanchanaburi, Thailand. Dengan ini Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia dalam ajang OSI yang diikuti oleh 39 negara.

Memang, sebetulnya prestasi Indonesia di ranah sains sangat apik. Perihal ini seharusnya menjadi perhatian penuh pemerintah. Karena tidak sedikit medalis OSI yang harus menunda impiannya untuk melanjutkan studi, sebab tidak adanya jaminan masa depan. Seperti halnya Syailendra Karuna Sugito medalis IBO (2017) yang gagal di tahap SNMPTN.

Ini menunjukkan belum meratanya penghargaan bagi anak-anak negeri. Ini tentu jauh berbeda jika dibandingkan dengan kesigapan pemerintah dalam mengapresiasi para medalis Asian Games 2018, yaitu memberikan bonus berlimpah yang direalisasikan menyeluruh “sebelum keringat mengering.”

Jangan sampai karena kurang banjir keringat, para medalis OSI jadi tak diapresiasi.

Sharing is caring!
Share on Facebook2Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *