Ilustrasi: Rifad Rizki, Freepik
Ilustrasi: Rifad Rizki, Freepik

Love is Human Right: Tentang Cinta yang ‘Berbeda’

Cinta punya banyak bentuk dan setiap manusia berhak memilih. Lalu, bagaimana cinta yang banyak bentuknya itu bekerja? Bagaimana jika berbeda? Apakah ada penerimaan tentang bentuk cinta yang berbeda di setiap manusia?

Sebuah hubungan 13 belas tahun dari Phoon dan Yuke, dalam film Fathers yang disutradarai oleh Palatpol Mingpornpichit, menunjukkan salah satu bentuk cinta yang beragam itu. Fathers adalah salah satu film yang ditayangkan dalam Festival Film 100% Manusia di Goethe-Institut Jakarta (16/9).

Phoon dan Yuke adalah pasangan gay yang memiliki cinta yang tulus dan manis untuk anak semata wayang mereka, Butr. Represi sosial tidak menjadi halangan untuk menjadi dua orang ayah yang baik untuk Butr.

Hidup di tengah-tengah heteronormativitas membawa hubungan mereka pada tantangan, terlebih lagi ketika Butr memasuki bangku sekolah. Ketika berangkat sekolah, teman-teman Butr selalu diantar oleh ibu dan ayah atau salah satunya, sedangkan Butr selalu diantar oleh kedua ayahnya atau salah satunya.

Ketika Hari Ibu tiba, Butr diminta untuk membawa ibunya ke peringatan Hari Ibu di sekolah. Namun, Butr sadar bahwa dia hanya punya dua orang ayah di sisinya. Butr yang bingung, bertanya kepada kedua ayahnya, “Di mana ibuku? Apakah aku punya ibu?”

Di Hari Ibu itu, Yuke datang ke acara di sekolah Butr. Yuke adalah satu-satunya lelaki di saat semua ibu yang duduk dan disimpuh oleh anak-anak mereka adalah perempuan. Sosok perempuan yang tak pernah hadir dalam hidup Butr pun jadi perbincangan besar di mulut teman-teman Butr. Butr dikucilkan. Ini membawa Yuke dan Phoon ke dalam masalah dengan Butr, masyarakat, dan status hubungan mereka.

Cinta dan rahasia

Thailand, latar tempat dari film ini, adalah negara yang menjamin kesetaraan bagi semua orang. Disebutkan dalam Konstitusi Thailand B.E. 2550 tahun 2007 (Suriyasarn, 2014) yang berbunyi, “All persons are equal before the law and shall enjoy equal protection under the law” (Sec.30, para.1). Selanjutnya, disebutkan juga, “Men and women shall enjoy equal right” (Sec.30, para.2).

Ketentuan mengenai kesetaraan umum tersebut juga dilengkapi dengan adanya pelarangan perlakuan diskriminasi atas dasar jenis kelamin dan unsur- unsur lain,

Unjust discrimination against a person on the grounds of the difference in origin, race, language, sex, age, disability, physical or health condition, personal status, economic or social standing, religious belief, education or constitutionally political view, shall not be permitted” (Sec. 30, para.3).

Dengan kata lain, melalui Section 30, kelompok LGBT di Thailand mendapatkan perlindungan secara umum perihal identitas seksual, jenis kelamin, dan keragaman seksual. Pada Intentions of the Constitution of the Kingdom of Thailand B.E. 2550 tahun 2007 juga dinyatakan,

The state has an obligation to eliminate obstacles and promote the exercises of rights and freedom by persons [of sexual diversity] as enjoyed by others. This is not considered unjust discrimination as it is an important principle of human dignity” (Suriyasarn, 2014).

Sebab itu, kelompok LGBT di Thailand dapat menampilkan diri mereka dengan lebih aman, meskipun secara tradisional, kondisi LGBT tidak diterima di masyarakat (UNDP dan USAID, 2014). Melalui Fathers, sutradara Palatpol Mingpornphicit, menunjukkan proses coming out (mengaku seksualitasnya) yang dilakukan pasangan Phoon dan Yuke kepada kedua orang tua mereka. Namun belum kepada masyarakat.

Praktik coming out kepada pihak- pihak di luar diri laki-laki gay adalah sesuatu yang luar biasa dan beragam praktiknya. Praktik tersebut disesuaikan dengan konteks ruang dan keamanan eksistensi dari yang melakukannya.

Di Indonesia sendiri, praktik coming out adalah hal yang luar biasa (Oetomo, 2013 dalam McNally dkk, 2018). Proses coming out bagi laki-laki gay di Indonesia berbeda dengan tahapan yang terjadi di Barat (Howard, 1996 dalam McNally dkk, 2018).

Salah satu contoh coming out di Indonesia dilakukan oleh pendiri Lambda Indonesia pada tahun 1982 dengan memunculkan artikel- artikel pada majalah Lambda Indonesia, yaitu “G: Gaya Hidup Ceria”. Artikel ini mendorong para gay dan lesbian untuk mengungkapkan identitas seksual mereka. Homoseksualitas bukanlah gangguan jiwa atau penyakit dan perbuatan homoseksualitas bukanlah suatu bentuk kejahatan menurut KUHP (UNDP dan USAID, 2014).

Upaya coming out ini harus dibarengi dengan membangun hubungan kepada komunitas setempat. Heteroseksualitas dalam masyarakat sebagai bentuk ‘normal’ dunia mengharuskan para laki-laki gay di Indonesia menegosiasi dan membentuk tiga dunia, yaitu ruang gay murni, ruang gay yang berada di tempat heteronormatif, dan ruang yang dominan heteronormatif (McNally dkk, 2018).

Ruang-ruang tersebut digunakan berkaitan dengan tempat, ruang, dan relasi yang hadir. Laki-laki di sini sangat menyadari pada konteks seperti apa mereka harus bertingkahlaku seperti apa (kontekstual), berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait siapa yang dapat dipercaya, dan secara terus-menerus memonitor diri mereka di dunia ‘normal’ (McNally dkk, 2018).

Hemat saya, praktik memonitor diri dan memilih situasi untuk coming out tercipta dari tidak adanya undang-undang anti-diskriminasi yang didasarkan pada orientasi seksual atau identitas gender.

Secara teori, terdapat jaminan perlindungan terhadap praktik diskriminasi atas dasar apapun, yang diatur dalam Undang-Undang Dasar dan Undang-Undang Hak Asasi Manusia (UU No. 39/1999). Demikian pula, Undang- Undang Tenaga Kerja (UU No. 13/2003) melarang diskriminasi dalam hubungan kerja. Namun, hal ini sangat sedikit diketahui di lingkungan komunitas LGBT dan belum pernah diterapkan di pengadilan dalam perkara yang menentang diskriminasi terhadap kelompok LGBT.

Peraturan Undang-Undang Indonesia hanya menetapkan dua gender saja, yaitu laki- laki dan perempuan, sesuai dengan penafsiran UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 dan ketentuan pengisian kartu penduduk pada UU Administrasi Kependudukan Nomor 23 Tahun 2006. Hal-hal semacam ini menjadi dasar sulitnya inklusivitas kelompok LGBT untuk memunculkan diri di masyarakat.

Ditambah lagi mayoritas masyarakat Indonesia menganggap mereka sebagai ‘penyakit’ sosial. Maka dari itu, mempertahankan cinta yang ‘tidak biasa’ di Indonesia adalah tantangan besar: pasangan dapat memilih untuk diungkapkan atau dirahasiakan?

Tidak seperti Phoon dan Yuke yang dapat menikah dan mengadopsi Butr sebagai anak mereka, pasangan gay di Indonesia tidak dapat melakukan hal serupa karena Indonesia memiliki aliran hukum kodrat irrasional.

Hal ini dapat dilihat pada pembukaan UUD NKRI Tahun 1945 dan dikukuhkan dalam Pasal 29 ayat (1). Tidak diterimanya perkawinan sesama jenis di Indonesia bukan karena homophobia, sentimen, atau berdasarkan perasaan suka atau tidak suka, maupun arogansi mayoritas terhadap minoritas LGBT. Dasar rasionalnya adalah perkawinan sesama jenis bertentangan dengan moral Ketuhanan YME dalam konstitusi (Sirait, 2017).

Pada sesi diskusi yang dilaksanakan setelah penayangan film, Pak Kim sebagai narasumber diskusi yang mewakili Arus Pelangi, menyatakan bahwa hal yang mendasar untuk diperjuangkan bagi kelompok LGBT di Indonesia saat ini adalah memberantas kekerasan dan diskriminasi publik.

Perihal memperjuangkan legalisasi perkawinan sesama jenis dan adopsi masih jauh dari target mereka sebagai kelompok advokasi LGBT. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan adanya pasangan sesama jenis yang mengadopsi anak dengan hak anak yang berada di salah satu pasangan.

Keluarga: ayah, ayah, aku

Butr yang dibesarkan oleh dua orang ayah sebagai pasangan gay, menyisihkan satu perhatian khusus tentang perkembangan psikologisnya sebagai seorang anak.

Hidup di tengah-tengah masyarakat mayoritas yang komposisi keluarganya terdiri dari ayah, ibu, dan anak, mengembangkan pola asuh keluarga menjadi tantangan bagi Phoon dan Yuke. Sebuah keluarga adalah tempat cinta disebarkan kepada para anggotanya, tidak memandang siapa dan bagaimana sosok yang memberikan cinta itu dipandang di masyarakat.

Cinta di dalam keluarga tidak hanya berbicara mengenai hubungan biologis, tetapi juga hubungan emosional yang berproses. Kehidupan Butr yang diapit oleh dua ayahnya itu menggambarkan sebuah keluarga yang indah karena cinta dan seharusnya begitulah aroma yang hadir di setiap keluarga.

Paragraf terakhir ini adalah sisa-sisa manisnya cinta yang saya lihat dari keluarga Phoon dan Yuke.

Cinta itu tidak hanya sekadar status, tetapi persetujuan dan kepedulian. Cinta itu tentang penerimaan, menerima siapa diri kita, menerima seperti apa yang kita pilih untuk dicintai. Bentuk cinta itu banyak dan semuanya layak dihargai.

Manusia dengan cintanya tidak hidup sendiri. Manusia lain juga hadir dengan versi cinta masing-masing. Lalu, bagaimana sesama manusia di dunia ini dapat bertahan dengan cinta masing- masing dan bersepakat dengan cinta yang beragam? Manusia dan cintanya hidup diapit oleh hukum negara dan norma sosial. Keduanya berkontestasi untuk mengatur manusia yang punya cinta, mengurung, dan mengubur eksistensi cinta minoritas dengan cara yang lukanya membekas. Padahal, cinta minoritas juga cinta dari manusia yang menginginkan inklusivitas.

***

Daftar referensi

Suriyasarn, Busakorn.

2014    Gender Identity and Sexual Orientation in Thailand. ILO

UNDP dan USAID.

2014    Laporan LGBT Nasional Indonesia: Hidup sebagai LGBT di Asia. UNDP Asia Pasifik.

McNally, Stephen, Jeffrey Grierson, dan Irwan Martua Hidayana.

2018    “Belonging, Komunitas, dan Identitas Laki- Laki Gay di Indonesia”, dalam Linda Rae Bennett, Sharyn Graham Davies, dan Irwan Martua Hidayana (peny.). Seksualitas di Indonesia: Politik Seksual, Kesehatan, Keberagaman, dan Representasi (hlm.305—332). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Sirait, Timbo Mangaranap.

2017    “Menilik Akseptabilitas Perkawinan Sesama Jenis di dalam Konstitusi Indonesia’, dalam Jurnal Konstitusi, 14(3),620—643).

Sharing is caring!
Share on Facebook2Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page
Sofiatul Hardiah

Tentang Sofiatul Hardiah

Bisa main Super Star BTS di mode normal sambil jalan cepat dan tepat. Masih aktif sebagai mahasiswa di Program Sarjana Departemen Antropologi Universitas Indonesia. Hobinya olahraga dan meditasi demi mencapai kesadaran akan eksistensi diri. Defaultnya: ketika jiwa dan raga bersatu lalu saling menjaga maka membaca, menulis, dan aktif di berbagai kegiatan sosial-budaya adalah sarana yang dilakukan untuk berbicara dengan, melalui, dan untuk semesta. Kata banyak orang, anaknya pendiam. Tapi jangan salah, bidikan matanya menggetarkan valuta. Baca tulisan lain dari penulis ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *