Perempuan digoda di atas sofa
Ilustrasi: CanStock Photo

Mempertanyakan Nalar Warganet pada Kasus Pelecehan Via Vallen

Seharian kemarin, feed dan halaman explore Instagram saya banyak beredar foto Via Vallen dan capture sebuah story Instagram. Awalnya saya abaikan. Tapi, karena semakin banyak dan mulai muncul capture dari judul-judul berita situs online, saya pun penasaran untuk membaca apa maksudnya.

Intinya, Via Vallen mendapatkan sebuah DM (direct message) berbahasa Inggris yang memintanya untuk berpakaian seksi di dalam kamar. Seketika, saya merasa kesal. Lagi dan lagi, perempuan menjadi korban pelecehan seksual secara verbal. Pelaku tidak merasa bersalah dengan apa yang telah dilakukannya.

Via Vallen tidak menyebutkan siapa pelakunya. Namun kita menyadari kemampuan warganet (netizen) dalam mencari tahu sesuatu. Tak sampai hitungan jam, warganet sudah bisa mengendus siapa yang melakukan hal tersebut.

Lewat analisis seorang warganet dari gambar profil yang sedikit terlihat di bagian lengan dan tanda centang biru yang sedikit nongol dari coretan sensor tersebut, diketahuilah siapa pelakunya. Dia disinyalir adalah pesepak bola Persija berkebangsaan Kroasia. Marko Simic, striker Persija bernomor punggung sembilan.

Kekesalan saya ternyata tak cukup sampai di sini. Bisa dikatakan, Via sebagai korban pelecehan speak up melalui story-nya. Tentu, saya sangat mendukung apa yang dilakukan Via yang membagikan percakapan dan gambar pelecehan tersebut ke khalayak.

Namun, saat membuka kolom komentar dari berbagai unggahan tentang kasus ini, saya merasa sangat terganggu dengan banyaknya komentar yang justru memojokan Via.

Ada beberapa yang hal sangat mengganggu seperti dari beberapa komentar yang saya baca, seperti:

  1. Via Vallen sok kecantikan, masih untung ada bule yang mau;
  2. Via Vallen terlalu baper dan lebay karena hal kayak gitu harus diumbar di story;
  3. Via Vallen harusnya senang karena ada bule ganteng tertarik padanya;
  4. Lebih baik langsung lapor ke pihak berwajib tanpa perlu diumbar di media sosial;
  5. Via Vallen mengumbar aib;
  6. DM itu menunjukan bahwa Marko Simic adalah lelaki normal karena DM ke Via Vallen, bukan ke kuda laut;
  7. Coba yang DM Via Vallen tukang cendol, pasti tidak diabaikan sama Via Vallen;
  8. Via Vallen cari sensasi;

Dan sebagainya. Tidak saya lanjutan karena jika saya lanjutkan kemungkinan akan membuat kepala saya meledak karena menahan marah.

Youth, jika kamu punya empati dan peduli dengan korban pelecehan, tentu kamu akan merasakan kekesalan juga bukan? Sudahlah, lupakan dulu siapa Via Vallen dan Marko Simic. Masing-masing punya fans dan haters. Tapi, adakah salah satu di antara kita yang akan berkomentar seperti salah satu point di atas?

Menurut saya keterlaluan jika kita berpendapat bahwa yang membela Via adalah fans-nya, sementaara fans Marko Simic harus menjadi haters bagi Via Vallen.

Miris memang melihat hal demikian masih banyak terjadi di sekitar kita. Apalagi, jika dilihat dari akun-akun yang memberikan komentar negatif seperti di atas didominasi oleh akun perempuan.

Ya, saya mempertanyakan nalar para komentator di atas.

Ketika ada seorang perempuan mendapat perlakukan tidak menyenangkan terkait seksualitas, dia justru semakin di-bully dengan berbagai komentar yang tidak berdasar dan sepertinya tanpa dipikir terlebih dahulu. Entah didasari karena ketidaksukaannya dengan sosok Via Vallen sebagai penyanyi dangdut atau memang mereka tak tahu bahwa hal tersebut adalah pelecehan seksual.

Pelecehan seksual di Indonesia

Pelecehan seksual yang terdata di Indonesia memang tak sebanyak di negara-negara lain. Paling tidak ada sembilan negara dengan kasus pelecehan seksual tertinggi yakni Amerika Serikat, Afrika Selatan, Swedia, India, Inggris, Jerman, Perancis, Kanada, dan Srilanka.

Jangan senang dulu, karena ini bukan berarti bahwa kasus pelecehan di Indonesia sedikit. Penyebabnya bisa jadi karena:

  1. Pelecehan seksual jarang dilaporkan dan ditindaklanjuti dengan serius;
  2. Masih banyak yang menganggap lumrah pelecehan verbal;
  3. Belum ada payung hukum yang kuat untuk melindungi korban pelecehan seksual, apalagi pelecehan verbal;
  4. Korban pelecehan memilih diam. Karena takut dicemooh dan semakin dipermalukan;

Pada kasus Via Vallen, komentar-komentar negatif dari para warganet dapat dibantah dengan point-point di atas.

Tidak ada payung hukum yang kuat yang dapat menjerat pelaku pelecehan seksual apalagi verbal. Dalam KUHP tidak dikenal istilah pelecehan seksual, tapi di pasal 289 sampai 296 disebutkan sebagai perbuatan cabul.

Belum tertuang secara jelas pasal mana yang bisa menjerat pelaku pelecehan seksual secara verbal. Ini berarti tak akan ada efek jera bagi pelaku dan menciptakan peluang korban akan bertambah banyak.

Kita perlu mendukung keputusan Via Vallen membagikan percakapannya di media sosial. Karena sebagai korban, hal tersebut adalah keputusan besar. Korban pelecehan seksual akan merasa kehilangan kepercayaan diri, harga diri, dan kehormatan dirinya. Namun dia tetap memberanikan diri membagikan kasus yang menimpa dirinya.

Jika ada korban pelecehan seksual yang berani speak up bahwa ia telah menjadi korban pelecehan, kita harus dukung mereka. Karena dukungan kita yang bisa mengembalikan kepercayaan diri mereka.

Sekitar 99% korban pelecehan adalah perempuan. Seperti yang kita ketahui, “men have power over women in society”.

Pelecehan seksual terjadi bukan karena pakaian korban seksi, alasan kecantikan, atau korban tak bisa menjaga diri. Pelecehan seksual terjadi karena korban dianggap objek seksual semata yang bebas untuk diperlakukan apapun oleh pelaku. Lalu, pelaku bisa melenggang pergi tanpa rasa bersalah.

Mari berdoa bersama semoga warganet lebih bijak dalam berkomentar. Bukan didasari karena rasa suka atau tak suka pada korban dan pelaku pelecehan seksual. Satu lagi doa kita bersama, semoga fans dan haters dari para seleb (siapa pun dan dalam masalah apapun) memakai nalar dan akal budi dalam berkomentar.

Amiin.

Sharing is caring!
Share on Facebook73Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page
Septi Prameswari

Tentang Septi Prameswari

Bekerja sebagai Staf Advokasi dan Kampanye Remotivi, sekaligus sebagai Koordinator Program Rapotivi serta freelancer konsultan media monitoring di Pol-Tracking Institute. Septi merupakan volunteer Youth Proactive Batch 1. Saat pilpres 2014, menjadi konsultan data entry pelanggaran pemilu di Kemitraan (Partnership). Saat ini Septi merupakan salah satu awardee "Beasiswa Unggulan Pegiat Sosial dan Seniman" (BUPSS) dari Kemendikbud angkatan 2015. Baca tulisan lain dari penulis ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *