Dua tangan saling meraih
Ilustrasi: Vecteezy, diolah Pradipa PR

Pendidikan Toleransi Generasi Reformasi

Semenjak runtuhnya rezim Orde Baru, kebebasan berpendapat semakin marak disuarakan, entah lewat mengkritisi, demonstrasi, ataupun sekadar keluh kesah pribadi. Era yang menjunjung kebebasan berpendapat ini—Reformasi mereka menyebutnya—telah menginjak ulang tahunnya yang ke-20 tahun. Ini artinya 20 tahun sudah berlalu sejak jeritan rakyat Indonesia yang menyuarakan kebebasan dan perubahan akhirnya didengar.

Namun, di tengah segala kebebasan yang telah diperoleh ini, bagaimana para generasi muda menyikapi pendidikan? Apakah dianggap hanya sekadar tuntutan hidup, ataukah diselami dan didalami sebagai suatu kewajiban?

Pendidikan punya makna yang berbeda bagi saya. Pendidikan tidak melulu soal seberapa bagus nilai Anda di sekolah, berapa piala yang sudah Anda menangkan, berapa penghargaan yang sudah Anda terima, dan sebagainya.

Pendidikan tidak melulu soal seberapa pintar Anda serta seberapa banyak prestasi Anda di dunia akademis serta hobi. Pendidikan tidak hanya soal gelar dan jabatan. Bukan diukur dari usia. Bukan pula dari latar belakang dan golongan.

Pendidikan tidak hanya soal matematika, IPA, atau IPS. Bukan soal kedokteran atau hubungan internasional. Bukan pula soal pianis atau vokalis.

Pendidikan tidak harus selalu diberikan oleh guru atau pengajar. Namun, pendidikan adalah hal yang wajib diberikan dan ditanamkan oleh orang tua sedari dini. Hal yang perlu dipahami oleh para tenaga pengajar, agar generasi penerus bangsa tidak salah ajar.

Pendidikan dasar yang harus dimiliki setiap individu di era Reformasi ini adalah kemampuan toleransi untuk bisa menerima sesuatu yang berbeda darinya. Kemampuan berpendapat untuk menyuarakan nuraninya. Serta kemampuan berpikir bebas untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Mengapa? Karena Reformasi membuka ruang untuk menyuarakan pendapat secara bebas—biarpun kebebasan yang ditawarkan adalah kebebasan yang bersyarat. Oleh karena itu, perbedaan pendapat kerap kali dijumpai.

Agar tidak menjadi generasi sumbu pendek, generasi Reformasi harus belajar saling menghargai pendapat yang tidak sejalan dengannya, serta merangkul perbedaan yang ada—pendidikan toleransi.

Penanaman moral dan kebaikan tidak melulu harus dari agama tertentu. Sejatinya setiap agama memiliki cara dan jalannya masing-masing. Saya percaya, semuanya pasti bermoral. Karena moral sendiri adalah suatu konsep yang bisa dimiliki siapa saja, terlepas dari agamanya, asal ia mau belajar, menerima, serta dapat membedakan yang baik dari yang buruk.

Hanya saja, yang paling sulit diterima adalah kenyataan bahwa tidak semua orang beragama pasti bermoral. Dan tidak semua orang bermoral memiliki agama.

Saya merasa perlu penanaman sedari dini bahwa pada hakikatnya, manusia yang beragama hidup berdampingan dengan umat beragama lainnya—bahkan tidak menutup kemungkinan dengan mereka yang tidak beragama.

Kita sama-sama mencari nafkah, sama-sama hidup sebagai satu kesatuan di negara ini. Rasanya ungkapan mayoritas dan minoritas tidak perlu digunakan lagi apabila kita adalah satu. Di sini lah peran generasi Reformasi untuk mendobrak rasa intoleran yang mungkin saja akan menjamur dan menghambat pendidikan ke depannya.

Perlu penanaman sedari dini pula, bahwa kita tidak sendirian di dunia ini. Dunia ini bukan milik siapa pun, tetapi kita harus menjaganya. Apalagi Indonesia, tentu kita harus—malah wajib—menjaganya.

Berlari ke soal agama. Agama dirasa sebagai isu paling sensitif dan serasa tabu untuk diangkat. Mari berikan pengertian sedari dini bahwa agama itu bukanlah hal yang tabu, namun boleh dan bisa dipelajari, ditanyakan, serta dikaji lebih lanjut.

Tensi antara penganut agama di negeri ini terkadang terlampau tinggi—meski tidak semua dan tidak selalu begitu. Kurangnya pemahaman untuk saling menerima dan memaklumi rasanya terlanjur kuat terpatri. Sadar atau tidak, hal tersebut dapat memengaruhi bibit-bibit penerus bangsa, yaitu generasi Reformasi.

Orang tua dari generasi Reformasi rasanya perlu mengajarkan kepada anak-anaknya, bahwa jika kita tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa kita, maka jangan lakukan itu kepada orang lain.

Analoginya mudah saja, jika tidak ingin dicubit, maka jangan mencubit. Jika tidak ingin dimaki, maka jangan memaki. Jika tidak ingin dibenci, maka jangan membenci. Jika ingin diterima, maka harus menerima. Analogi-analogi itu rasanya sering dikatakan kepada anak taman kanak-kanak yang sedang bertengkar, bukan? Ya. Cukup dengan analogi sesederhana itu saja.

Hal lain yang kerap kali saya jumpai di keseharian adalah, keluarga yang beragama X akan cenderung mendoktrin anak-anaknya bahwa agama X adalah yang terbaik dan paling benar. Hal tersebut tidak salah dan tidak bisa disalahkan.

Namun, bukankah lebih baik jika kita menanamkan dengan, “Ada banyak orang menganut agama lain, mereka sama baiknya dengan kita, hanya cara beribadahnya saja yang berbeda.” Saya merasa hal tersebut mudah diterima dan saya pikir tidak ada salahnya mengajarkan keberagaman, perbedaan, dan pendidikan toleransi sejak dini pada anak.

Menurut saya, pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk memberantas segala persoalan baik sosial maupun politik. Pendidikan paling awal, saat jiwa dan pola pikir seseorang pertama kali terbentuk, adalah keluarga. Sisanya hanya bisa memperkuat atau menggoyahkan.

Pentingnya peran keluarga—terutama orangtua—terhadap edukasi anak tentu sangat besar. Apalagi dengan segala kebebasan yang tersuguh di depan mata—yang hanya berjarak satu sentuhan saja.

Idealnya Indonesia ini milik kita semua. Bukan milik segelintir kaum beragama X. Bukan milik segelintir oknum ras Y. Bukan pula milik golongan Z. Maka kita harus menjaganya, jangan sampai kebebasan yang telah diperjuangkan dengan susah payah dua puluh tahun lalu hanya akan menjadi bumerang bagi diri sendiri.

Generasi era Reformasi harus lebih cerdas. Manfaatkan dengan baik dan maksimal segala keterbukaan yang kini telah disediakan oleh perkembangan teknologi dan informasi.

Jangan merasa cukup dan lelah untuk mengenyam pendidikan, karena pendidikan sejatinya akan terus berkembang—hanya tinggal bagaimana generasi Reformasi ini menyikapinya. Mengikuti arus pendidikan, atau terlampau malas untuk menyelam.

Peluk kembali pancasila, dendangkan kembali Indonesia Raya, genggamlah Bhinneka Tunggal Ika. Indahkan kembali toleransi, segalanya dapat diperoleh melalui pendidikan.

Jangan sia-siakan perjuangan dua puluh tahun silam. Teruslah belajar dan mengeksplorasi diri, agar kelak tiga puluh atau empat puluh tahun lagi, ketika tonggak pemimpin negeri ini tiba di genggaman generasi Reformasi, negara ini jaya kembali.

***

“Ajari anakmu beribadah, namun jangan lupa untuk mengajarinya toleransi.

Ajari anakmu matematika, namun jangan lupa untuk mengajarinya soal demokrasi pancasila.

Ajari anakmu cara bermain piano, namun jangan lupa mengajarinya moral dan integrasi.

Dengan toleransi, kau redam egoisme pribadi.

Dengan demokrasi pancasila, kau belajar untuk menjadi Warga Negara Indonesia seutuhnya.

Dengan moral dan integrasi, kau akan tahan banting dari segala tipu daya isu dan opini.

Toleransi, demokrasi, dan moral serta integrasi begitu penting, agar kelak anak cucu kita tidak akan menjadi pengemis.

Di negeri sendiri.”

Sharing is caring!
Share on Facebook22Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “Pendidikan Toleransi Generasi Reformasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *