Seorang perempuan membaca puisi
Ilustrasi: Pradipa PR

Meniti Jalan Panjang Kesusastraan Indonesia

Keberadaan kita hari ini tak luput dari peran seni sastra. Sastra dapat menggerus sudut pandang dan batin para pasak kunci negeri. Cerpen karya Seno Gumira Adjidarma yang berjudul “Grhhh!”, misalnya. Cerpen tersebut menceritakan tentang kekerasan rezim Orba melalui karakter imajinatif zombi-zombi yang mengerikan.

Namun ibarat anak tiri, seni sastra sering mendapat ketidakadilan.

Mungkin kita butuh mencium kembali aroma artikel “Roda yang Berputar: Beberapa Aspek Perkembangan Sastra Indonesia Sejak 1965” karya Keith Foulcher yang dimuat di Majalah Prisma no. 8 tahun 1988. Foulcher menceritakan generasi-generasi sastra yang memiliki karya-karya berkualitas yang berpengaruh kuat untuk perjuangan demokrasi di Indonesia.

Hambatan sastra

Hambatan paling utama dalam pemekaran karya-karya sastra ialah di masa Orba. Jangan salah sangka, bukan berarti rezim Orla menyediakan ruang ekspresi. Justru rezim Orla menjadi titik awal kelabilan negara menghimpit ekspresi seni lewat regulasi represif. Setiap penerbitan bahan seni harus terdaftar dan memiliki Surat Ijin Terbit.

Belum selesai dengan masalah ruang ekspresi, kesenian sastra mendapati ketegangan ideologi yang begitu mencuat di tahun 1960-an.

Nama-nama Sitor Situmorang, Asrul Sani, Usmar Ismail, Taufik Ismail, Wiratmo Soekito, atau Boejoeng Saleh mewarnai kesusastraan Indonesia pada tahun tersebut. Melalui kelompok-kelompok kebudayaan yang disebut Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) dan Manifes Kebudayaan (Manikebu), nama-nama tersebut berseteru ideologi untuk mempertahankan pemikiran yang terkandung dalam karya ciptaannya.

Kedua kelompok yang mendominasi sastra ’60-an ini memiliki paham yang bertentangan.

Lekra dengan paham realisme sosialisnya bertemankan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengamini bahwa karya sastra harus memiliki pengaruh untuk rakyat. Lekra juga berkiblat pada slogan “politik sebagai panglima” untuk kepentingan hidup bukan untuk kebijakan partai.[1] Paham ini bertentangan dengan kelompok Manikebu yang mengamini paham humanisme universal: seni untuk seni. Seni tidak boleh di bawah politik maupun sektor lainnya.[2]

Lekra dan Manikebu juga memiliki peserta debat untuk mendukung ideologi masing-masing kelompok seperti Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) dan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi).[3]

Alih-alih memberikan ruang mediasi untuk dua kelompok dominasi tersebut, negara dengan keberpihakan tegas menutup ruang gerak Manikebu. Sastrawan dan dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia dipecat. Goenawan Mohamad dan sastrawan lainnya tidak dapat menulis dengan namanya sendiri pada tahun 1963-1964.[4]

Penyebab dari tindakan negara waktu itu dikarenakan konsep karya Manikebu berirama protes. Konsep pemikiran tersebut dianggap tidak sejalan dengan perubahan sosial dan budaya Indonesia. Setelahnya, Lekra menjadi kelompok yang mendominasi segala bentuk kesenian sastra untuk memuliakan manusia dan kehidupan.

Apa yang bisa kami rasakan, tapi tak usah kami ucapkan

Apa yang bisa kami pikirkan, tapi tak usah kami katakan

Janganlah kau bersedih – dan mari kita lanjutkan

Kami bawa ini kebenaran ke bintangnya dan ke buminya

(Elegi, Rivai Apin)

Pemberangusan Orba

Sepak terjang Lekra yang mendominasi kesenian Indonesia selama lima tahun berputar arus ke tangan Manikebu. Peristiwa ’65 menjadi awal mula Manikebu menggeser Lekra yang memiliki kedekatan dengan PKI. Negara menduga bahwa PKI adalah dalang di balik Gerakan 30 September (G30S) 1965.

Padahal hubungan Lekra dan PKI terjalin karena pandangan politik yang sama dan berorientasi pada rakyat pekerja Indonesia. Lekra bekerja dengan ekspresi seni yang memungkinkan berekspresi politik lebih menebas dalam hati nurani manusia, sehingga menjadikan Lekra dan PKI untuk merapatkan barisan.[5]

Secara tidak kasat mata, pilu-pilu sejarah Demokrasi Terpimpin memberikan warna suram: kekuasaan yang membungkam kesusastraan. Dari peristiwa 1965 yang penuh luka, sastrawan Pramoedya disiksa hingga pendengarannya tidak peka, sampai Surat Perintah Sebelas Maret mengawali Sinema Orba.

Semangat Orba membuka jalan untuk perubahan. Perubahan menciptakan “kelas-kelas” mengikuti tata hidup rezim pembangunan, perubahan mengisi kemerdekaan menjadi usahawan, perubahan memantapkan status kemapanan yang berkiblat pada kesuksesan, dan mencintai uang. Hingga lengah akan rezim Soeharto yang melakukan kebohongan-kebohongan. Hingga tak dapat berbuat apa-apa ketika kezaliman Soeharto memberangus semua bentuk pemikiran.

Kekuasaan Orba semakin tidak memberikan ruang seni berekspresi, tak hanya bagi sastrawan tetapi juga wartawan. Kezaliman Soeharto mengambil tindak semena-mena dengan memberangus semua kantor pers yang berhaluan komunis, begitu juga memberangus sastrawan yang menurutnya mengganggu stabilitas nasional.[6]

Meskipun demikian, para sastrawan tidak berhenti berkarya. Mereka menyiasati isi karyanya dengan simbol, sehingga pembaca terkecoh untuk dapat liar berimajinasi. Meski ada juga yang tetap menggunakan bahasa tegas untuk mengkritik.

Rahardi, seorang kritikus sastra dan Ambarawa, Jawa Tengah, berpendapat bahwa wacana-wacana pimpinan Soeharto atas kebebasan berekspresi untuk rakyat Indonesia menjadi sumber inspirasi penciptaan karya sastra. Tentunya untuk mengkritik secara langsung maupun tidak langsung pemimpin Soeharto secara pribadi dan birokrasi.

Pada tahun 1997, seni pertunjukan karya Ratna Sarumpaet berjudul “Marsinah Menggugat” pernah dicekal aparat keamanan ketika akan tayang di beberapa kota. Karya ini bercerita tentang buruh perempuan yang harus dibunuh karena meminta kenaikan upah. Hari ini kita memiliki banyak cerita tentang banyak sekali kenangan pahit nan sulit dilupakan dari kekejaman rezim Orba, mulai represi individu, pembubaran ruang-ruang diskusi, sampai pembredelan media massa.

Masa Reformasi

Momen 1998 memberikan banyak ruang untuk ekspresi dalam karya sastra.

Di satu sisi, momen 1998 meninggalkan  kerusuhan yang mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan. Tidak sedikit sastrawan yang mengabadikan momen tersebut. Seperti karya Marga T. yang berjudul “Sekuntum Nozomi 3”, menceritakan kejadian ’98 dari perspektif korban.

Selepas 1998, hadir pula partisipasi sastrawan yang semula jauh dari tema-tema sosial politik meramaikan panggung sastra dengan sajak-sajak politik masing-masing, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat.[7]

Di samping itu, Reformasi membuka ruang-ruang penerbitan menjadikan generasi hari ini dengan mudah menikmati karya-karya sastra dari periode ke periode. Adanya ruang-ruang penerbitan menjadi cerminan semangat pembebasan dari kekangan politik dan kekuasaan rezim Orba.

Tentunya sosok Korrie Layun Rampan juga tidak lekang dari sejarah Reformasi untuk kesusatraan Indonesia. Pencetus buku Sastrawan Angkatan 2000 ini menghadirkan nama penyair, cerpenis, dan kritikus yang kita kenal hari ini. Sebut saja Ayu Utami, Seno Gumira Ajidarma, Yosi Herfanda, Dorothea Rosa Herliany, dan masih banyak lagi.

Di masa Reformasi juga lahir sastrawan-sastrawan perempuan dengan karyanya yang bernuansa seksualitas. “Saman” oleh Ayu Utami, “Supernova” oleh Dewi Lestari, dan antologi cerpen oleh Djenar Maesa Ayu mengekspresikan pemikirannya. Sehingga permasalahan perempuan dan seksualitas yang dianggap tabu muncul di kalangan masyarakat melalui sastra.

Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik itu bengkong, sastra akan meluruskannya. (John F. Kennedy)

Peran sastra kini

Mengetahui memoar memori kesusastraan di Indonesia, kita dapat melihat seni sastra menjadi kanal utama untuk menyentil perasaan menjadi peka kepada lingkungan sekitar. Seni sastra perlu dijajarkan dengan kepentingan lain di dalam rencana pembangunan negara, bukan hanya menjadi pajangan pariwisata di tengah perkembangan budaya pop.

Sisa hiruk pikuk Reformasi hari ini harus dapat menjadi kompor gas untuk para sastrawan muda mereposisi seni sastra kembali menjadi jembatan ke dalam kehidupan. Seperti yang pernah dilakukan oleh sastrawan untuk mendapatkan kebebasan mengutarakan rasa.

Misalnya yang dilakukan oleh sastrawan Subagio Sastrowardoyo dengan puisi eskpresionismenya. Dia memberikan makna-makna tersembunyi yang bisa menjadi refleksi untuk pembaca. Penentuan ide judul “Salju” pun menjadi simbol ekspresionisme yang kuat, seperti tertulis di bait pertama:

Asal mula adalah salju

sebelum tercipta Waktu

sentuhan perawan seringan kenangan

adalah semua yang disebut bumi

dan udara terus bicara

sebab bicara tak pernah berhenti

dan salju jatuh seperti mimpi

Angin kutub memanjang selalu

dan meraba tanpa jari

dan di ambang anjing belang menggonggong

sia sia membuka pagi

hanya geliat bayi sudah terasa

pada dinding tua dekat musim binasa

dan salju melebari hari

Bangunnya Waktu bersama penyesalan

ketika manusia dengan mukanya yang jelek

meninggalkan telapak kakinya di salju

Salju yang Sastrowardoyo anggap sebagai Waktu untuk melihat dan terus tidak lupa akan peran seni sastra yang hari ini makin digandrungi.

Simbol yang kuat disampaikan oleh Sastrowardoyo untuk pembaca agar dapat mengulang ingatan dan memperkuat perasaan. Agar menghargai sastra bukan hanya sebagai hiburan semata. Sehingga tidak terjebak hanya mencari pengakuan, tetapi juga unggul baik secara kuantitas maupun kualitas.

***

Catatan kaki

[1]https://indoprogress.com/2010/04/ada-lekra-dan-politik-sastra-di-gedung-indonesia-menggugat/

[2]http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-41451321

[3]http://www.geocities.ws/simpang_kiri/kebudayaan/lekra.pdf

[4]http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-41451321

[5]https://indoprogress.com/2008/01/pramoedya-sastrawan-tanpa-panglima/

[6]https://www.academia.edu/24506115/SEJARAH_Dinamika_Pers_dan_Motif_Pembredelan_Majalah_Tempo_Selama_Pemerintahan_Orde_Baru

[7]https://kumparan.com/tutur-literatur/periodisasi-sastra-indonesia-2

Sharing is caring!
Share on Facebook6Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “Meniti Jalan Panjang Kesusastraan Indonesia

  1. Sungguh menarik tulisan ini!
    Kalau boleh cerita pengalaman pribadi, aku pun merasa jauh dari Sastra dan aku rasa begitu pula banyak temanku (seingatku kami tidak pernah membahas topik seputar Sastra saat kami ngobrol bareng). Syukur tulisan tulisan dab sastrawan muda ada dan sepertinya aku harus banyak baca dan mulai obrolin topik ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *