Seorang anak dirundung anak-anak lain
Ilustrasi: Pradipa PR/Youth Proactive | Vector: Vecteezy

Empat Tahun Setelah Reformasi, Jangan Lagi Terjadi

Satu hal yang dapat saya ‘banggakan’ adalah memori saya tentang pengalaman masa kecil. Berbeda dengan sekarang yang mengingat materi kuliah baru lewat sepuluh menit lalu saja saya sulit, saya dapat cukup jelas mengingat memori ini.

Enam belas tahun lalu, empat tahun setelah reformasi, saya duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Saya ingat sekali, saat itu guru Pendidikan Kewarganegaraan saya membahas tentang hak dan kewajiban. Khususnya hak asasi manusia (HAM).

“Jadi hak asasi manusia adalah hak dasar manusia, yang dimiliki setiap orang bahkan sejak ia dilahirkan. Tidak ada yang boleh mengganggu gugat hak ini.”

“Apa yang termasuk HAM?” lanjut sang guru, “Banyak, salah satunya adalah hak untuk hidup.” Tidak satu pun manusia boleh mengganggunya.

Saya takjub dengan ilmu baru ini. Namun, setelah pulang ke rumah, saya baru terpikir. Loh, kalau tidak ada yang boleh melanggar HAM, mengapa ada hukuman mati? Pikiran itu sangat menggelitik pikiran saya. Tidak sabar kalau harus menunggu pelajaran minggu depan, pulang ke rumah saya langsung tanyakan ke kakak saya, seorang siswa sekolah menengah atas yang saya lupa waktu itu ia kelas berapa–namanya juga saya manusia.

“Kak, tadi Ais belajar tentang HAM. Katanya hak hidup itu HAM, tapi kenapa ada hukuman mati?”

“Pertanyaan bagus, dek,” kata kakak. “Memang hukuman mati itu melanggar hak hidup seseorang, dan sampai sekarang juga masih banyak diperdebatkan.”

Alamak. Bingunglah anak SD itu sejadi-jadinya. Jawaban macam apa itu, tidak memberikan hasil ‘ya’ atau ‘tidak’? Satu-satunya hal yang saya senangi dari jawaban itu adalah pujian ‘pertanyaan bagus’ dari kakak saya itu. Biasanya ia cukup sulit memuji orang.

Namun masih penasaran karena tidak dapat jawaban pasti dari kakak saya, pekan depannya saya akhirnya menanyakan pertanyaan itu ke guru saya. Saya bertanya dengan sangat percaya diri karena sudah dipuji oleh kakak saya. Maka dijawablah oleh guru saya:

“Ya beda dong kalau itu. Itu boleh-boleh saja.”

Jawaban itu disambut tawa oleh semua orang di dalam kelas. Saya malu. Saya merasa bodoh karena tidak bisa berpikir bahwa ada pengecualian untuk hak hidup, walaupun ia bagian dari HAM yang tidak boleh diganggu gugat. Dan tidak pernah lagi saya membahas tentang HAM di kelas.

Mengingat memori itu sekarang, saya iba dengan saya yang kelas dua SD, juga semua orang di kelas itu. Apakah anak-anak sekolah sekarang masih mengalami hal yang sama? Biarkanlah pengalaman itu jadi milik saya saja. Berat, jangan biarkan mereka mengalaminya walaupun kuat.

Jangan lagi, ada anak yang nalarnya dibungkam di ruang-ruang pembelajaran. Apalagi setelah dua puluh tahun reformasi ini.

***

Catatan redaksi: Hong Kong (salah satu negara dengan indeks korupsi terbersih) tidak menerapkan hukuman mati dalam upaya pemberantasan korupsi.