Dua orang berdialog berhadapan
Ilustrasi: Freepik, diolah Pradipa PR

Generasi Milenial Harus Paham Kondisi Lapangan

Memahami Reformasi tak bisa dipisahkan dari memahami para penggeraknya: pemuda dan mahasiswa.

Dalam buku Mahasiswa dalam Pusaran Reformasi 1998: Kisah yang Tak Terungkap, disoroti besarnya peran mahasiswa untukmenyatukan berbagai gerakan yang ada. Titik balik Reformasi adalah dibangunnya masyarakat demokratis yang memenuhi hak ekonomi dan politik warganya.

Posisi pemuda tidak akan pernah lepas dalam menjaga misi-misi mulia reformasi. Pemuda saat ini lebih dikenal sebagai generasi milenial, atau generasi Y, yang lahir di antara tahun 1982-1995-an.

Ini membedakan mereka dengan mahasiswa pelaku gerakan reformasi tahun 1998, yaitu generasi X. Bila rata-rata usia mereka pada 1998 ada di kisaran 18-22 tahun, mereka lahir pada kisaran tahun 1976-1980.

Perbedaan antara generasi X dan milenial ini dalam memaknai Reformasi tentu berbeda. Riset yang dilakukan oleh Pew Research Center dengan judul Millennials: A Portrait of Generation Next menunjukkan karakter keterikatan pada teknologi internet dan budaya pop/hiburan.

Lalu bagaimana generasi milenial di tahun 2018 ini mengisi jejak hasil reformasi 20 tahun yang lalu? Ada catatan yang cukup menarik: semakin banyak pemuda Indonesia yang tergabung dalam berbagai komunitas independen. Artinya pemuda masih turut berperan dalam pembangunan masyarakat di Indonesia.

Jika aktivis era Reformasi digambarkan sebagai sosok-sosok yang turun ke jalan, meneriakkan suara rakyat dengan aksi demonstrasi, maka generasi milenial nyatanya tidak harus berbuat yang sama. Media sosial menjadi tempat untuk aktivis hari ini bersuara dan menyatakan aspirasinya.

Namun tetap ada yang dapat dikritisi dari cara aktivisme ini. Bayangkan ketika generasi milenial hanya bergerak melalui layar HP atau PC. Mereka duduk di atas kursi dan ruangan yang sejuk dan merasa sudah mengetahui semua realitas yang ada. Karena meluapnya informasi yang bisa diakses tanpa sejengkal pun menginjakkan jalan. Bukankah kondisi ini sama dengan berada dalam menara gading?

Menara gading adalah suatu menara tinggi yang nyaman. Ketinggian dan kenyamanan menara tersebut menutupi kejadian dan realitas yang sebenarnya yang sedang terjadi di bawah menara.

Bila pemuda Indonesia hanya melihat kondisi negaranya dari jendela-jendela media sosial yang ada di atas menara tanpa memiliki kesadaran bahwa ada kondisi lain yang tak tertangkap dari jendela tersebut, apa yang akan terjadi? Yang muncul adalah wacana tanpa implementasi nyata di lapangan. Ketakutan bahwa akan terjadi jurang antara kondisi lapangan dengan persepsi pemuda terlihat semakin benar adanya.

Schmidt dan Cohen dalam The New Digital Age mendeskripsikan dunia yang baru sebagai dunia yang penuh tantangan. Adanya perluasan dunia maya memang akan memberi cara baru dalam menghimpun informasi.

Namun tidak mungkin gerakan digital dapat berdiri sediri tanpa bertransformasi menjadi aksi di lapangan. Media sosial berperan sebagai medium informasi dan mobilisasi massa untuk merealisasikannya sebagai gerakan nyata, sebagaimana yang kita lihat di Iran, Turki, dan Tiongkok.

Ada yang salah apabila pemuda merasa tidak perlu lagi turun ke jalan dan dapat memberikan suara hanya melalui media sosial.

Lee Hsien Loong menjelaskan bahwa di mana-mana orang muda selalu ingin jadi bagian dari sesuatu yang keren. Pencarian ini akan berujung pada pengalaman sosial melawan penguasa yang berakibat pada ditungganginya kepentingan pemuda oleh kelompok oposisi, sebagaimana ‘Skandal Kari’ di Singapura terjadi beberapa waktu lalu.

Media sosial sendiri memiliki risiko besar, ketika terdapat distribusi informasi dengan tingkat validitas yang tidak jelas dapat membawa krisis kepercayaan.

Generasi milenial dituntut untuk lebih pintar dalam memahami kontrak sosial hasil panjang Reformasi yang telah berjalan 20 tahun ini. Cara kita mendapat informasi akan berpengaruh dalam cara kita merespons realitas. Langkah yang idambil dari informasi yang diperoleh–bisa jadi dari para akun virtual–harus mampu disaring. Ini harus direalisasikan dalam kehidupan bernegara yang membangun.

Bukankah tujuan Reformasi 20 tahun lalu untuk membangun negara yang lebih baik untuk warganya?

Generasi ke depan harus paham betul realitas yang ada di lapangan. Mulailah dari masalah kecil yang ada di sekitar kita. Mengurus sampah yang ada di lingkungan RT, memahami apakah ada tetangga kita yang terkena kasus KDRT yang menimpa 1 dari 10 perempuan Indonesia, dan berbagai isu lainnya yang dekat.

Bagaimana kita bisa membantu menyelesaikan permasalahan besar negara, apabila masalah kecil di sekitar kita saja tidak dapat kita carikan solusinya?

Sharing is caring!
Share on Facebook5Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *