Parodi Berani Jujur Hebat KPK.
Ilustrasi: Pradipa PR/Youth Proactive.

Berani Jujur, Hebat; UN Jujur, Butuh Mukjizat?

Soal Ujian Nasional tahun 2018 memang gak sampai nanyain apa sih hewan endemik yang ada di Wakanda, tapi tingkat kesusahannya jadi bikin merasa… masih lebih masuk akal bikin ternak lele daripada lulus UN dengan nilai bagus 100% jujur.

Tahun ini Kemdikbud menerapkan soal UN berstandar High Order Thinking Skills (HOTS), seperti dilansir Tirto.id (15/04). Standar HOTS ini melatih kemampuan problem-solving kita dalam mengerjakan soal. Standar soal ini katanya mencoba mengubah cara berpikir kita yang biasanya menghafal menjadi menganalisis.

Menurut Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia Satriawan Salim, HOTS adalah standar tingkat lanjut pendidikan (lihat RMOL, 15/4). Dalam tataran praktis pendidikan dikenal istilah C-1 (Mengingat), C-2 (Memahami), C-3 (Menerapkan), C-4 (Menganalisis), C-5 (Menilai/Mengevaluasi) dan C-6 (Mencipta/Kreasi). Untuk keterampilan berpikir C-1 sampai dengan C-3 disebut Low Order Thinking Skill (LOTS). Sedangkan C-4 sampai C-6 disebut High Order Thinking Skill (HOTS).

Standarnya sih keren–katanya dipakai di luar negeri. Masalahnya: tryout selama ini gak nyambung sama soal-soal yang diujikan. Jenis soal yang katanya gak bakal keluar di UN, ternyata bisa keluar sampai lima biji sendiri. Alhasil, yang ada cuma Ujian Nasional susah. Ketimbang seru ngejawab soal, kayaknya lebih seru dengar kasak-kusuk bagi-bagi jawaban.

Iya sih, kita sering dengar kampanye dari KPK soal pentingnya kejujuran. Termasuk tiap mengerjakan ujian. “Berani jujur, hebat,” katanya–dan kita sepakat. Tapi kalau soal UN lebih rumit daripada soal SBMPTN, rasanya jujur itu bukan cuma hebat, tapi juga butuh mukjizat.

Sayangnya UN yang aneh bin ajaib ini bukan fenomena baru. Begitu berasanya Ujian Nasional susah karena kita-kita yang di kota besar pun ngerasain betapa gak nyambungnya kesusahan soal yang diberikan. Tapi bagi teman-teman kita di daerah, UN hampir selalu terasa seperti ini sejak 15 tahun lalu.

Soal UN hampir selalu dibuat secara tersentralisasi. Standarnya kota besar, terutama Jakarta. Asumsinya, setiap murid di 514 kabupaten/kota di Indonesia–dari Sabang sampai Merauke–punya kesempatan yang sama buat sekolah dari pagi sampai sore dengan guru yang digaji layak sehingga bisa masuk mengajar dengan kurikulum bagus di dalam ruang kelas yang nyaman.

Kenyataannya? Jauh dari itu. Masih banyak guru, apalagi honorer, yang digaji super gak layak. Cuma Rp500rb/bulan, itu pun sering nunggak. Di Papua bulan lalu misalnya, 2000 guru gajinya nunggak sebulan (Tabloid Jubi, 29/3) Jangankan ngajar dengan sukacita, mau hidup tenang pun susah.

Fasilitas sekolah pun banyak yang bikin nestapa. Jangankan punya lab buat belajar biologi, bisa jadi malah atap kelasnya yang bocor atau sekolahnya dilahap banjir. Belum lagi kalau biaya pendidikannya dikorupsi. Pernah ratusan siswa di Palu, Sulawesi Tengah sampai demo di sekolah mereka–sekolah internasional!–karena uang sekolah Rp4,5 juta diselewengkan (lihat detik.com, 28/11/11).

Jadi jangankan mau bimbel intensif demi menghadapi Ujian Nasional. Buat sekolah sehari-hari aja udah gak enak rasanya. Kita yang di kota besar aja kelimpungan tahun ini, apalagi teman-teman di daerah? Buat kita Ujian Nasional susah, buat teman-teman rasanya makin susah. Wajar kalau terasa lebih masuk akal nyontek dan kasak-kusus daripada jujur.

Bukannya berarti terus jadi excuse buat nyontek sih. Cuma, sekadar jujur tuh gak cukup. Gak semua orang punya kesempatan setara buat bisa berperforma maksimal dengan kerja keras belajar, hingga bisa mengerjakan soal UN dengan jujur.

Banyak faktor struktural yang perlu kita perhatikan. Perubahan gak bisa dilakukan dari diri sendiri aja–semua harus harus diusahakan bersama-sama. Supaya menjadi jujur tetap hebat, tapi gak sampai butuh mukjizat.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *