Mark Zuckerberg tertawa karena membocorkan data
Mark Zuckerberg dan kebocoran data. Ilustrasi: Yasmina Wulandari/Youth Proactive.

Skandal Facebook dan Penyalahgunaan Data Cambridge Analytica

Akhir bulan Maret 2018 ditutup dengan satu kasus atau skandal yang cukup mengejutkan. Yaitu terkuaknya kasus penyalahgunaan data pengguna platform Facebook. Salah satu perusahaan analisis data internasional, Cambridge Analytica, dengan tanpa izin menggunakan data pribadi sekitar 50 juta pengguna Facebook untuk keperluan membangun sebuah sistem.

Sistem yang dibuat oleh Cambridge Analytica ini menggunakan data “curian” tersebut untuk menargetkan pemilih pada proses pemilu presiden Amerika Serikat. Mereka mengirimkan iklan politik secara pribadi dengan berdasarkan hasil dari analisis profil psikologi para pengguna Facebook Amerika Serikat. Profil ini didapat dari data kita sehari-hari. Suka makan apa, punya peliharaan apa, orang tuanya siapa.

Skandal ini seharusnya menjadi momentum penguatan rezim untuk perlindungan data privasi konsumen di Indonesia khususnya. Mengingat pada tahun 2017 sendiri, pengguna aktif Facebook di Indonesia mencapai angka 117 juta orang.

Disinilah peran pemerintah kemudian dibutuhkan karena penyalahgunaan data tersebut sudah masuk terlalu jauh. Tidak hanya berfokus pada satu platform saja, kebutuhan jaminan perlindungan keamanan privasi data sebenarnya juga dapat mengantisipasi masifnya pengumpulan data dalam skala besar yang sering dilakukan oleh banyak institusi.

ELSAM mencatat (28/3), praktik penambangan dan penimbunan data secara massal antara lain dilakukan melalui pengumpulan data pembangunan, misalnya data kemiskinan dan bahkan data sensus kependudukan. Kedua, data identitas kependudukan yang bersifat elektronik. Ketiga, dari hasil registrasi SIM card pengguna telepon seluler. Keempat, melalui akses data langsung ke database, termasuk penggunaan peta online. Transaksi online, data kesehatan, data bank pun tidak luput dari hal ini.

Lebih lanjut lagi, ELSAM merespons hal itu dengan pernyataan tentang pentingnya menempatkan hak asasi manusia sebagai arah koridor. Jaminan perlindungan ini akan memastikan bahwa kerja teknologi dan mesin termasuk kecerdasan artifisial, untuk kepentingan pengumpulan data, akan sejalan dengan prinsip-prinsip perlindungan hak konsumen atas privasi. Di Indonesia sendiri memang belum ada payung hukum yang menaungi penyalahgunaan data pribadi yang dilakukan oleh perusahaan internet raksasa seperti Facebok.

Rasa kebutuhan menggunakan media sosial memang ada, tetapi penggunaan data-data pribadi yang tidak perlu sebenarnya sudah cukup untuk menumbuhkan kesadaran kita akan batasan-batasan yang harus ada dalam ranah maya.

Dalam kapitalisme digital, secara perlahan dan tanpa disadari, pilihan dan kemerdekan kita diambil alih oleh mesin. Kita sering takjub dengan Google yang seakan mampu membaca pikiran kita. Secara ajaib, ketika kita baru mengetikkan tiga huruf, Google sudah menampilkan hasil dari apa yang kita cari. Mesin ini benar-benar seperti mesin ajaib yang “weruh sakdurunge pinarah” (tahu apa yang kita pikirkan). 

Kita dihadapkan dengan pilihan yang dalam alam bawah sadar kita sukai, secara tidak sadar pula data yang sudah kita unggah tersebut memiliki andil dalam menentukan pilihan. Ini semua terjadi berkat big data yang merupakan kumpulan dari metadata yang dikumpulkan oleh mesin. Yang kemudian tanpa sepengetahuan kita, setiap kali kita mencari sesuatu di internet, ada mesin yang mencatat jejaknya dan dari jejak-jejak itu mesin tersebut akan menemukan polanya.

Tidak heran, jika mesin itu kemudian dapat mengetahui secara akurat apa yang kita butuhkan bahkan sebelum kita menyampaikannya secara utuh.

Sewaktu kita masih duduk di bangku sekolah dasar, siapa yang tidak merasa jengkel sih, ketika nama orang tua kita disebut sebagai bahan olok-olok? Tetapi entah mengapa kita merasa begitu mudah ketika ada sebuah formulir online yang mengharuskan kita untuk melakukan pengunggahan data pribadi, semisal nama ibu atau nama hewan peliharaan kita.

Data sekecil apapun yang kita unggah tanpa rasa berat hati sebenarnya dapat dialihfungsikan oleh berbagai pihak untuk kepentingan mereka, seperti yang dilakukan Cambridge Analytica. Kita seharusnya punya kesadaran untuk berhati-hati sebelum memasukkan data mengenai diri kita.

Tidak ada satu kiat pun yang lebih manjur daripada mengurangi waktu kita di media sosial dan internet. Perbanyaklah bergaul dan mencari relasi sebanyak-banyaknya. Ngopi bersama teman, datang ke pesta tasyakuran, dan sebagainya. Bisa juga dengan membeli buku, baca buku, pergi ke taman, museum atau tempat bersejarah. Pergi ke pasar, walau hanya untuk sekedar melihat-lihat atau berbelanja.

Hidup sebenarnya jauh lebih indah di luar gawai. Dunia lebih luas dari apa yang bisa kita genggam. Tapi kadang kita lebih suka terjebak pada jaring-jaring yang kita tenun sendiri. Kalau sudah demikian, tidak banyak lagi yang akan bisa kita perbuat.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *