Perempuan menunjukkan jam tangan
Ilustrasi foto: Visual Hunt

Masa sih, “Datang Tepat Waktu itu Rugi”?

Kebiasaan datang terlambat sudah mengakar pada kepribadian orang Indonesia. Hal ini seolah seperti menjadi suatu hal yang lumrah, sehingga beberapa diantara kita bersikap, ”Ah, ya sudahlah. Bagaimana lagi, memang selalu begini, ‘kan?”

Miris sekali rasanya. Terlambat datang sekitar 10-15 menit dari waktu yang telah ditetapkan masih dapat dimaklumi–kemungkinan sesuatu yang terjadi mendesak atau terkena macet di perjalanan. Namun bagaimana bila keterlambatan melampaui batas wajar–dilakukan berulang-ulang bahkan terkesan seperti adanya unsur kesengajaan? Hal ini membuat orang berpikir bahwa datang tepat waktu itu rugi. Memprihatinkan.

Artikel kompasiana.com dengan judul artikel “Budaya ‘Ngaret’ Budaya Orang Indonesia” yang ditulis pengguna bernama Venusgazer menceritakan pengalamannya ketika ia diundang untuk menghadiri acara pukul tujuh malam. Cerita punya cerita, acara baru dimulai pukul delapan malam karena peserta telat datang.

Cerita sama juga bisa didengar dari Afifudin Lubis. Ia menceritakan pengalamannya menjadi pembicara pada salah satu acara bertema ‘ngaret‘. Lucunya, dengan santainya panitia penyelenggara ada yang baru datang menghampiri seperti tak bersalah. Kemudian bertanya, “Sudah lamakah bapak datang?”

Berangkat dari pengalaman dua penulis di atas, tentu saja kita akan merasa kesal apabila berada pada posisi tersebut. Tak lain dan tak bukan karena harus menunggu. Datang tepat waktu seperti tidak ada artinya sama sekali. Lebih menggelitikkan lagi di saat kita sudah datang terlambat, ternyata masih banyak juga rekan yang lebih terlambat dari kita. Waktu menjadi terbuang sia-sia padahal sebenarnya dapat dipakai untuk melakukan pekerjaan lain yang lebih bermakna.

Kesadaran akan pentingnya menghargai waktu yang mulai memudar dan terabaikan sudah selayaknya dibangkitkan kembali.

Banyak sekali cerita-cerita yang patut dicontoh dari negara-negara yang menerapkan betapa pentingnya menghargai waktu, salah satunya negari sakura. Jepang terkenal sebagai negara yang memberi nilai tinggi terhadap waktu. Sehingga bukan menjadi hal yang mengagetkan ketika Jepang menjadi salah satu negara maju di Asia. Di Jepang, keterlambatan juga dianggap sebagai hal yang memalukan. Mereka akan menyalahkan dirinya sendiri, bukan menyalahkan bis, angkutan umum atau faktor dari luar dirinya.

Menjamurnya budaya telat di Indonesia sudah selayaknya dihentikan, apapun alasannya, karena datang terlambat itu tidak baik.

Ada beberapa yang harus dilakukan agar dapat menghilangkan kebiasaan datang terlambat, yaitu dengan memperhitungkan waktu mobilisasi. Macet tidak dapat dijadikan alasan, sebab macet sudah sering terjadi. Perhitungkan jarak ke tempat tujuan agar tidak datang terlambat.

Selain itu, menghilangkan budaya telat juga membutuhkan kesadaran dan komitmen yang kuat. Ubah pula pola pikir dan mencoba untuk datang sepuluh menit lebih awal. Jika acara mulai pada pukul 08.00 misalnya, maka targetkan kedatangan minimal pukul 07.50.

Sudah saatnya berpikir ke depan, bahwasanya sebagai generasi pelurus bangsa harus dapat mencegah budaya datang terlambat. Tanamkan dalam aktivitas sehari-hari akan pentingnya kedisiplinan.

Tanamkan pikiran bahwa datang on time sebagai bentuk penghargaan pada waktu sehingga kita tak lagi mendengar cara pikir, “datang tepat waktu itu rugi.” Marc Levy, seorang novelis Perancis, mengingatkan kita betapa pentingnya waktu dari setahun sampai semilidetik.

Agar kita tahu pentingnya waktu SETAHUN, tanyakan pada murid yang gagal naik kelas.

Agar kita tahu pentingnya waktu SEBULAN, tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur.

Agar kita tahu pentingnya waktu SEMINGGU, tanyakan pada editor majalah mingguan.

Agar kita tahu pentingnya waktu SEHARI, tanyakan pada mahasiswa yang dikejar deadline laporan.

Agar kita tahu pentingnya waktu SEJAM, tanyakan pada teman yang menunggu untuk bertemu.

Agar kita tahu pentingnya waktu SEMENIT, tanyakan pada orang yang ketinggalan kereta atau pesawat terbang.

Agar kita tahu pentingnya waktu SEDETIK, tanyakan pada orang yang baru saja terhindar dari kecelakaan.

Agar kita tahu pentingnya waktu SEMILIDETIK, tanyakan pada peraih medali emas olimpiade.

***

Catatan: Tulisan ini adalah posting ulang dari kiriman Suci Nurzannah Efendi untuk Anti-Corruption Youth Camp 2017. Lihat tulisan lainnya dengan tagar #Anti-CorruptionYouthCamp.

Sharing is caring!
Share on Facebook6Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *