Dua orang perempuan memajang poster bertuliskan, You Decide

Perempuan Masa Kini, Tak Hanya Menyoal Emansipasi

Tanggal 8 Maret lalu, berbagai negara di dunia memperingati International Women’s Day (IWD) atau Hari Perempuan Internasional. Peringatan ini lahir dari gerakan sosialis akibat adanya penindasan dan ketimpangan terhadap perempuan di awal abad ke-20. Pada perkembangannya, IWD menjadi pengingat akan pentingnya upaya untuk mengoordinasi dan memperbaiki hak-hak perempuan dari segi sosial, ekonomi, maupun politik.

Peringatan IWD sendiri sudah ramai digelar di berbagai daerah di Indonesia. Minggu (04/03) lalu, di Bandung telah digelar aksi peringatan IWD. Penggelaran ini menyusul peringatan IWD di kota-kota lain.

Peringatan IWD adalah alarm bagi baik pemerintah maupun masyarakat luas, bahwa hak-hak perempuan masih harus diperjuangkan. Fenomena seperti perkawinan anak, kekerasan terhadap perempuan, pemenuhan hak bagi pekerja perempuan, dan perdagangan manusia, adalah segelintir dari persoalan bersama masalah perempuan.

Pada kenyatannya, perempuan Indonesia kini masih hidup dalam lingkungan patriakis. Memang benar, konsep emansipasi sebagai bentuk upaya pembebasan perbudakan perempuan dan penyetaraan hak perempuan sudah ada. Namun, sayangnya konsep emansipasi ini hanya terlihat di permukaan saja.

Masih banyak perempuan yang belum dapat memenuhi hak mereka, bahkan untuk hak sederhana: memilih hidup bagi diri mereka sendiri.

Memanusiakan Perempuan

Bagi Anda yang pernah membaca novel Telembuk karya Kedung Darma Romansha, yang mengisahkan dunia malam dan pekerja seks komersil daerah pantai utara (Pantura) tentu memahami masalah hak perempuan di Indonesia.

Perempuan yang menjadi telembuk (pelacur) di daerah Pantura dikisahkan bukan karena keinginan mereka, tetapi karena mereka tak punya lagi pilihan. Lingkungan memaksa mereka untuk menjadi pekerja seks komersil agar mereka dapat tetap menghidupi diri dan keluarganya.

Perempuan masih dianggap sebagai barang yang dapat diperjualbelikan. Ingin sekolah, tapi orang tua lebih ingin mereka menikah. Alasannya karena kondisi ekonomi: ingin meringankan beban orang tua.

Konsep kesetaraan gender akan menjadi bermasalah ketika perempuan belum dianggap sebagai manusia. Perempuan dianggap memiliki kewajiban untuk mengurusi keluarga, tapi malah terjebak dalam kekerasan rumah tangga. Sementara perempuan yang dianggap memiliki kewajiban bekerja di kantor, malah tak dipenuhi haknya untuk sekadar cuti haid.

Berapa banyak perempuan yang sudah memenuhi kewajibannya tetapi malah diabaikan haknya? Konteks hak dan kewajiban inilah yang sebetulnya belum sepenuhnya terealisasi dalam kehidupan perempuan masa kini.

Problem perempuan masa kini bukan hanya emansipasi saja, tetapi bagaimana perempuan dianggap sebagai makhluk yang patut dimanusiakan. Kekerasan seksual yang masih marak terjadi, bahkan fenomena catcalling, masih menunjukkan perempuan dianggap barang.

Sharing is caring!
Share on Facebook5Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *