Foto Mochtar Lubis dan Sacha Stevenson berdampingan
Ilustrasi: Diolah dari foto oleh Andrie Wongso (Mochtar) & KapanLagi (Sacha)

Mochtar Lubis dan Sacha Stevenson Mencari Manusia Indonesia

Tepat 40 tahun silam, Mochtar Lubis, wartawan kawakan yang merangkap seorang budayawan, menggegerkan khazanah kebudayaan kita lewat pidatonya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 6 April 1977. Ia menerangkan dengan penuh pesimistis mengenai sifat manusia-manusia Indonesia itu sesungguhnya.

Menurut telaahnya, ada 12 sifat dasar utama yang dimiliki orang Indonesia: (1) hipokrit (lain di muka, lain pula di belakang); (2) segan dan enggan bertanggung jawab atas pikirannya, putusannya, serta lakunya (saling lempar tanggung jawab jika gagal, saling klaim jika berhasil); (3) Feodalistis (asal bapak senang, asal dosen bahagia, asal bos gembira); (4) Percaya takhayul; (5) Artistik; (6) Watak yang lemah.

Dan tentu tak ketinggalan: sulitnya untuk sekadar berdisiplin (lucunya, rutin kita berseloroh, aturan itu bukan buat dipatuhi secara tertib, melainkan dibuat justru untuk dilanggar).

Respons atas uraian Lubis itu tentu beragam. Banyak yang pro dan tak sedikit pula yang kontra. Bila kita coba jujur, kita memang tak bisa menutup mata lagi bahwa hal semacam itu nyata. Mengendap dalam darah orang Indonesia, melekat dalam perilaku keseharian kita, manusia Indonesia, baik secara sadar dan sengaja maupun tidak–sampai sekarang.

Menariknya, apa yang dipantik Lubis di masa lalu itu seperti diutarakan kembali lewat bahasa berbeda dengan gaya yang jenaka, justru oleh seorang bule kelahiran Kanada yang sudah jadi warga negara Indonesia: Sacha Stevenson.

Sejak 2013, Sacha konsisten membuat video-video parodi nan lucu di kanal YouTube-nya yang dinamainya “How to Act Like Indonesian”. Dalam salah satu episodenya, ia menggambarkan betapa–dalam istilah Lubis–manusia Indonesia itu jauh dari sikap tanggung jawab dan sulit untuk berdisiplin.

Dari video berdurasi kurang dari lima menit itu, Sacha memang tak memakai pisau analisis setajam dan sesuram Lubis. Namun justru sebab itu ia jadi menarik, karena ia mencontohkan hal-hal remeh yang kadang diabaikan: contohnya, bagaimana masyarakat Indonesia suka memakai sandal orang lain tanpa izin, lalu sekonyong-konyong dikembalikanlah sandal itu dalam keadaan jauh dari semula.

Bagi saya, kritik yang coba diperlihatkan bule yang memutuskan untuk menetap di perkampungan Jakarta itu tak semata berhenti pada simpulan bahwa sebegitu bobroknya kebudayaan kita, seperti yang dilihat Lubis. Melainkan justru sesuatu yang sebetulnya positif namun berlebihan.

Seperti perkara “meminjam sandal” yang menunjukkan demikian guyubnya manusia Indonesia. Meminjam sandal itu tanda bahwa tubuh masyarakat Indonesia itu masih komunal. Walaupun begitu Sacha juga tak menampik bila hal yang berlebihan dapat jatuh pada laku yang tak bertanggung jawab dan melanggar nilai-nilai umum.

Kita pun sebetulnya salah bila melihat manusia Indonesia beserta perilaku rumitnya itu cuma dengan kaca mata hitam putih, yang lalu kita simpulkan dengan tergesa-gesa. Itulah mengapa uraian Lubis tetap kontroversial hingga saat ini. Mungkin uraian Lubis baik sebagai sebuah kritik atas kemandekan perkembangan kebudayaan kita. Namun barangkali ia juga keliru untuk menjawab, seperti pertanyaan Sacha dalam kanal YouTube, perihal “siapa saya?” Siapa manusia Indonesia?

Persamaan keduanya, baik apa yang diparodikan Sacha atau yang diuraikan Lubis, saya kira, adalah sama-sama sepakat bahwa ada nilai-nilai umum yang tak bisa dimaklumi bila dilakukan berlebihan. Semisal perilaku koruptif.

Sosok yang konsisten untuk tak berlaku berlebihan itu terpotret dalam diri seorang Mohammad Hatta. Bapak bangsa dengan integritas yang sangat tinggi, negarawan dengan penerapan kedisiplinan yang ketat. Banyak kisah untuk menunjukkannya. Kita ambil yang ringan dan mungkin lucu.

Saat di tempat pengasingan Banda Neira, Maluku Tengah, keberadaan Hatta kerap dijadikan patokan sebuah jam. Rutinitasnya yang saban hari mengelilingi Pulau Banda sekitar pukul 4-5 sore pasti selalu disambut dengan seruan, “Wah, sudah jam lima,” oleh para pekerja kebun pala saat Hatta melewati kebun itu.

Munculnya Hatta jadi penting bagi mereka, sebab tidak adanya jam di kebun pala yang lapang itu. Dari cerita itu, kita tentu mesti bertanya pada diri sendiri: sebegitu tepat waktunya kah Hatta?

Saya rasa integritas seorang Hatta yang diawali dengan perilaku berdisiplin dan tak berlebihan dalam memaknai nilai-nilai umum itu menjadikannya sosok rujukan seorang manusia Indonesia ideal, utamanya yang bebas dari perilaku koruptif. Sekaligus contoh yang tepat bahwa uraian Lubis itu memang tak sepenuhnya benar.

Maka, mari seperti Hatta, benahi negeri dimulai dari diri sendiri dengan terus berusaha mendisiplinkan diri–kendati memang sangat-sangat sulit.

***

Catatan: Tulisan ini adalah kiriman dari Sofah Aristiawan untuk Anti-Corruption Youth Camp 2017. Lihat tulisan lainnya dengan tagar #Anti-CorruptionYouthCamp.

Sharing is caring!
Share on Facebook14Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “Mochtar Lubis dan Sacha Stevenson Mencari Manusia Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *