Sejumlah perempuan berjilbab sedang membaca Quran
Foto ilustrasi: RMOL

Proposal Madrasah Tanpa Laporan

“Kalau ada, ya alhamdulillah neng. Kalau pun gak ada, ya alhamdulillah juga aja lah. Hehe… mungkin itu jalan saya untuk terus ikhlas.”

Dengan iringan tawa, si gadis desa yang kesehariannya mengajari anak-anak tentang agama itu sedikit asem-asem manis ketika mendapatkan pertanyaan mengenai upahnya mengajar.

Gadis itu rutin berangkat setiap sore mengajar di madrasah diniyah (sekolah agama sore), meski menerobos hujan, demi membagikan pengetahuan agamanya untuk anak-anak di Desa Nasol, Ciamis, Jawa Barat.

Senada dengan gadis tersebut, seorang wanita separuh baya pun berkata, “Ya… bersyukur saja.” Hal itu diamini oleh wanita paruh baya lainnya yang sama-sama berkegiatan mengajari anak-anak mengaji. Memang keteguhan iman menguatkan benih-benih semangat yang tertanam di dalam hati mereka. Perasaan ikhlas tak pernah absen.

Istilah “tanpa pamrih” itu memang baik, tapi kita harus mampu membuka mata bahwa di balik “tanpa pamrih” yang berbumbu “keterpaksaan”, ada penyedap rasa yang entah lupa atau dilupakan untuk ditaburkan oleh pemiliknya.

Lembaga swasta seperti madrasah diniyah ini memang kurang mendapat perhatian dalam bidang pendanaan. Belum dipahaminya proses penganggaran, pengelolaan, dan pelaporan terhadap dana yang telah didapat, menyebabkan kejanggalan yang harusnya mampu dibaca oleh masyarakat.

Setiap dua atau tiga tahun sekali, ratusan juta rupiah masuk ke rekening untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan madrasah. Besaran dana bervariasi sesuai proposal yang telah diajukan sebelumnya oleh setiap lembaga yang membutuhkan dana hibah.

Di madrasah tempat si gadis desa dan wanita-wanita paruh baya itu mengajar, pengalokasian dana dirasa kurang jelas. Pengelolaan tak pernah terdengar ke telinga masyarakat dan pelaporannya pun entah siapa yang membuatnya.

Saat ini diketahui sedang ada pembangunan infrastruktur untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar di madrasah ini. Sebagian warga meresponnya dengan perasaan bangga karena terus meningkatnya kualitas infrastruktur.

Sayangnya, para pengajar diniyah kurang diapresiasi dengan baik. Tambah lagi, adanya fakta bahwa bangunan sebelumnya pun masih layak pakai dan pada praktiknya kurang dimanfaatkan dengan baik. Beberapa titik malah dijadikan tempat pribadi si ketua madrasah tersebut. Entah apa tujuannya melakukan kembali pembangunan.

Pengelolaan dana madrasah tersebut pun buram. Sasaran utamanya tentu ketua madrasah, karena pada kenyataannya tidak ada pihak lain yang dilibatkan selain orang-orang terdekatnya sendiri.

Pengalokasian dananya seharusnya dapat diketahui oleh publik, tapi sekali lagi hal itu tidak terjadi. Transparansi kembali ditelantarkan sesuka hati tanpa tanggung jawab yang jelas.

Ilustrasi proposal untuk madrasah
Proposal untuk madrasah. Ilustrasi: Widia Damayanti

Madrasah ini terletak di sebuah desa yang dikenal dengan nama Desa Nasol. Letaknya di kaki Gunung Syawal. Jika dilihat dari aplikasi Google Earth, Anda hanya akan melihat tumpukan warna hijau tua yang sedikit bergumpal-gumpal. Jalannya sudah di-hotmix beberapa bulan lalu dan warganya tenang-tenang saja.

Sejarah desa ini memang tidak jelas. Entah apa yang melatar belakangi lahirnya desa ini. Para orang tua merasa dirinya tak perlu menceritakannya atau bahkan sama-sama tak mengetahuinya.

Kawula muda melimpah, baik yang sedang menempuh pendidikan, bekerja, maupun yang berdiam diri saja di kamarnya. Meski begitu, ternyata mereka belum bersatu dalam karang taruna desa. Masalah sosial yang terjadi di madrasah diniyah belum menjadi sorotan utama bagi karang taruna ini. Boleh dibilang masih sangat rendahnya kepedulian dari pemuda di sana.

Kebejatan struktural dengan judul karang taruna pun benar-benar tak ada berguna. Tak ada perubahan kecil yang dibarengi semangat membangun desa, sebagai tumpah darah dan tentu kebanggaan. Kegiatan-kegiatan yang tak bersifat transaksional kurang diminati oleh sebagian besar dari mereka. Dukungan dari pemerintahan desa di sana masih juga terbilang rendah.

Kebencian mudah tersulut hanya karena hal sepele seperti perebutan wanita dan saling hina. Akhirnya bukan pemuda Desa Nasol yang terangkat, tapi pemuda yang tersekat berdasarkan dusun (wilayah di bawah desa).

Pemuda punya potensi yang melimpah. Semangatnya selalu tercurah meski terkadang gegabah. Keterlibatan pemuda masih sangat diperlukan untuk memberi angin segar dalam memperbaiki sistem sosial di Desa Nasol ini. Berbagai hal menanti diselesaikan oleh tangan-tangan muda.

***

Catatan: Tulisan ini adalah posting ulang dari kiriman Widia Damayanti untuk Anti-Corruption Youth Camp 2017. Lihat tulisan lainnya dengan tagar #Anti-CorruptionYouthCamp.

Sharing is caring!
Share on Facebook9Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *