Personil Efek Rumah Kaca bermain gitar
Efek Rumah Kaca. Foto: sijovy @ Flickr

Belajar Banyak dari Konser Efek Rumah Kaca

Jika kamu calon pengajar materi-materi yang berkaitan dengan ilmu politik, seni musik, bahasa dan sastra Indonesia, ilmu pengetahuan alam–atau apa pun itu–yang mau membuat materi ajaranmu menarik dan seru untuk dipelajari, maka belajarlah kepada Efek Rumah Kaca (ERK).

Ya, grup musik yang sudah malang-melintang di skena musik indie nasional ini sedang bersiap mengekspor karya dan penampilan ciamiknya ke Amerika Serikat di pagelaran South by Southwest (SXSW).

Dalam rangka persiapan penampilan mereka itulah, Cholil Mahmud dan Irma Hidayana rela pulang ke Indonesia untuk menemani personil lainnya. Mereka membuat serangkaian pertunjukan di beberapa kota yang dirangkai dengan tagar #DukungERKmenujuSXSW. Satu di antara yang paling spesial ialah konser tunggal selama kurang lebih dua setengah jam yang dikemas dengan nama #DepokBisaDikonserkan pada 1 Maret 2018.

Pertimbangan total durasi tampil bukanlah satu-satunya alasan menjadikan konser ERK spesial, melainkan apa yang akan para penonton dapat selain pegal (jika memilih berdiri selama konser) dan bertambahnya koleksi momen seru untuk bisa dipamer di Instastory atau YouTube (jika handphone kamu punya kapasitas memori yang cukup banyak tentunya).

Bagi kita yang hadir di konser ERK sedikit banyak akan mendapatkan pengalaman turut menyuarakan sikap atas berbagai fenomena sosial politik yang terjadi di sekitar kita. ERK mengemas ulang pandangan kritis terhadap berbagai situasi–yang bisa jadi berat dan melelahkan setelah diulang-ulang di berita–ke dalam bentuk musik yang begitu menarik.

Berikut beberapa lagunya:

1. Di Udara

Lagu di album perdana ERK tahun 2007 ini berisikan tragedi pembunuhan aktivis kemanusiaan Munir Said Thalib saat melakukan perjalanan untuk melanjutkan studi ke Belanda. Syair “diracun di udara”, cara membunuh Cak Munir, disandingkan dengan modus kekerasan lain yang dianggap tetap tidak akan bisa menghentikan laju perjuangan kebenaran dan kemanusiaan.

2. Hilang (Jingga)

Bagi kamu yang sering mendengar sosok Wiji Thukul dan kabar soal keberadaannya yang masih misterius, pasti akan larut dalam suasana magis yang disajikan ERK dalam lagu yang terdapat di album ketiga mereka, Sinestesia. Selain Wiji, ada 12 nama lain yang diabsen di akhir lagu ini. Lagu ini menyebarkan semangat untuk pengungkapan kasus orang hilang dan serangkaian pelanggaran HAM berat lainnya, PR besar negara ini yang masih ditagih lewat tuntutan seperti Aksi Kamisan.

3. Jalang

Menempatkan sikap kontra terhadap RUU Anti-Pornografi sebagai track pertama di album perdana, jelas menunjukkan secara jelas di mana letak posisi politik ERK berdiri. Menantang RUU Anti-Pornografi adalah sebuah sikap yang amat tidak populer dan penuh risiko yang sangat berani mereka ambil, seperti  Jalang yang menjadi judul lagunya. Salut!

Personil Efek Rumah Karca mengenakan kaus warna biru mendukung Novel Baswedan
Efek Rumah Kaca dalam aksi mendukung Novel Baswedan. Foto: Ahmad Sajali.

Selain tiga judul ini masih ada lagu seperti: Merah yang mencermati kondisi perpolitikan; Kuning yang menggambarkan soal keberagaman; Mosi Tidak Percaya yang biasa dibawakan di aksi antikorupsi; bersamaan juga dengan Sebelah Mata, yang belakangan didedikasikan untuk penyidik KPK Novel Baswedan (aslinya diciptakan untuk perjuangan Adrian Yunan); dan bahkan ada lagu yang merekam proses soal kematian di lagu Putih.

Beragamnya tema yang menjadi latar lagu-lagu Efek Rumah Kaca menjadikan konser mereka sangat menarik untuk dinikmati. Apalagi ditambah pengantar dari Cholil sang vokalis sebagai provokasi sebelum lagu-lagu di atas dimulai.

Salah satu contoh paling menarik ialah saat Cholil berkelakar soal enggannya ERK membawakan lagu bertema politik, sesaat sebelum membawakan Di Udara yang mereka bawakan sebagai solidaritas untuk perjuangan For Bali, aksi tolak reklamasi Teluk Benoa di Bali. Ini terjadi saat tampil di Soundrenaline 2016 yang bertempat di Bali.

Efek Rumah Kaca juga mengajarkan soal pentingnya bersikap dan bersolidaritas karena sering menyertai perjuangan banyak pihak.

Mereka tercatat sudah pernah manggung di depan Istana Negara dalam rangka Aksi Kamisan ke-500, di depan Gedung DPR RI saat Hari Antikorupsi Internasional 2015, dan di Gedung KPK RI bersamaan dengan kampanye #NovelKembali. Tak hanya siap menjadi bagian dari berbagai aksi, mereka kerap mengajak pihak-pihak yang berjuang seperti para Kartini Kendeng, Suciwati Munir, hingga Usman Hamid, untuk didengarkan suaranya secara langsung di depan ribuan pasang mata penggemar setia mereka.

Begitu banyak peran yang coba dimainkan band ini untuk berbagai perjuangan masyarakat. Rasanya tak salah kita untuk bergantian mengapresiasi.

Mereka sedang menggalang beberapa cara untuk bisa berangkat ke Amerika Serikat dengan formasi lengkap. Apalagi, setelah menemui beberapa kejanggalan dalam proses dukungan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) menuju SXSW, mereka akhirnya memutuskan untuk berangkat secara mandiri.

Konsekuensi dari menyelaraskan isi lagu dengan kenyataan. Meski berat, inilah yang Cholil, Akbar, dan Poppie beserta jajaran ERK akan tempuh.

Mantap bosque!

Sharing is caring!
Share on Facebook12Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “Belajar Banyak dari Konser Efek Rumah Kaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *