Kolase dari Instagram KontraS
Ilustrasi: @kontras_update

Dua Dasawarsa Belajar dari KontraS

Jika kamu pengguna Twitter dan tanggal 20 Maret ini lagi stalking akun @KontraS–selain stalking akun si dia–maka kamu akan mendapati balon berwarna-warni terbang berseliweran.

Tanggal ini adalah ulang tahun Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan–maunya disebut sebagai KontraS (bisa juga diartikan KontraSoeharto atau siapa pun nama mantan nyebelinmu yang diawali huruf S). Perayaan kali ini semakin spesial karena menginjak usia ke-20.

Di bulan yang sama dengan terjadinya kasus penculikan aktivis dan mahasiswa pro-demokrasi, KontraS didirikan oleh sejumlah tokoh masyarakat yang resah dengan kondisi kemanusiaan di masa Orde Baru.

Mengusung kalimat “Menyebar Keberanian, Merawat Kemanusiaan” sebagai tagline di usia dasawarsa kedua, kita diingatkan bahwa memang “keberanian” dan “kemanusian” selalu ditonjolkan oleh lembaga yang bermarkas di wilayah Senen, Jakarta Pusat ini.

Menyebar keberanian

Memperjuangkan kebenaran dan keadilan adalah teladan yang seringkali KontraS tunjukkan kepada negara dan kita semua warganya.

Tahun pendirian KontraS yang menjadi simbol peralihan politik dari Orde Baru ke Reformasi sudah tentu bukan tahun yang mudah untuk dilewati. Ada berbagai tindak kekerasan seperti penculikan, penganiayaan, hingga penghilangan nyawa.

Ini sudah dipertontonkan oleh sosok (alm.) Munir Said Thalib, Koordinator Badan Pekerja pertama yang dimiliki KontraS. Kiprahnya dalam membela kemanusiaan adalah goresan tinta emas perjuangan.

Sejarah akan selalu mencatat bahwa Indonesia pernah punya manusia yang begitu berani bersuara lantang mengingatkan negara yang seringkali melakukan penyalahgunaan wewenang. Sudah banyak karya seni dan budaya yang mengabadikan keberanian Munir. Efek Rumah Kaca lewat lagu Di Udara bahkan menyebutnya “tak akan mati dan berhenti”.

Belajar soal keberanian dari KontraS juga bisa berkaca kepada sosok mantan koordinator lainnya, yakni Haris Azhar. Seseorang yang tidak takut menyatakan penyelewengan yang dilakukan oleh BNN, Kepolisian, dan TNI.

Haris Azhar menyuarakan pengakuan terpidana mati Freddy Budiman yang menyebutkan keterlibatan aparat negara dalam bisnis narkoba. Bang Haris dikriminalisasi atas penyelidikannya. Sontak publik yang tidak meragukan kredibilitas KontraS beramai-ramai menyuarakan #SayaPercayaKontraS yang mengalami sekian banyak ancaman dari berbagai pihak.

Sayangnya kita tak bisa melihat kiprah Bang Haris di Komnas HAM, karena tak terpilih dalam proses seleksi. Namun, seusai berkarir di KontraS, dirinya tetap semangat memperjuangkan kemanusiaan lewat Lokataru. Organisasi HAM ini mendampingi buruh di Freeport Papua dan juga tercatat sebagai kuasa hukum dari Novel Baswedan, penyidik senior KPK yang disiram air keras.

Merawat kemanusiaan

KontraS salah satu yang terbukti konsisten menyuarakan kemanusiaan hingga hari ini. Irisan-irisan konflik di masyarakat selalu bisa ditarik benang merahnya yang bersimpul masalah kemanusiaan. Kita masih menempuh jalan panjang menerapkan nilai yang jadi sila kedua dasar negara kita–yang sialnya kerap dilanggar oleh negara kita sendiri.

Kita dapat melihat sosok Yati Andriyani yang telah berkecimpung di perjuangan kemanusiaan sejak lama. Di tahun 2017, dirinya dipercaya untuk memimpin KontraS setelah memulai karir menjadi relawan di tahun 2002. Sejak menjadi mahasiswa hukum di UIN Jakarta, perempuan yang lugas dan cerdas ini kerap mempraktikkan makna penting solidaritas dalam perjuangan.

Salah satu wujud nyatanya adalah kedekatannya dengan penyintas pelanggaran HAM berat di Indonesia. Mbak Yati menjadi aktor penting di balik terselenggaranya Aksi Kamisan, aksi menuntut keadilan bagi korban yang dilakukan tiap Kamis di depan Istana Negara.

Mbak Yati juga kerap menanyakan kesesuaian model kampanye kemanusiaan dengan kehidupan anak muda hari ini. Terakhir saat cukup banyak berbincang di momen #NovelKembali, dirinya menanyakan kira-kira sejauh apa anak muda paham dan mau berjuang soal kasus Novel Baswedan.

Di sini keberadaan Efek Rumah Kaca cukup membahagiakan sebagai sarana kampanye. Dalam rangka melibatkan anak muda, sempat ada lomba cover lagu Sebelah Mata yang dilantunkan Efek Rumah Kaca. Lomba ini diikuti oleh begitu banyak pihak, bahkan yang paling mengharukan adalah saat anak sekolah dasar yang menyanyikan lagu itu bersamaan di dalam kelas.

KontraS memang tidak sempurna. Ada beberapa catatan yang juga bisa dijadikan pembelajaran. Namun setidaknya dari 20 tahun organisasi ini berdiri, memang pantas kita jadikan KontraS sebagai ruang belajar untuk menyebar keberanian dan merawat kemanusiaan.

20 tahun KontraS, 20 tahun Reformasi

Di momen ulang tahun kali ini, Kontras dalam press release menyatakan bahwa panjang umurnya KontraS harus diiriingi dengan upaya bersama semua pihak–utamanya negara–untuk menerapkan prinsip-prinsip yang tertuang di amanat reformasi.

Gejala mencuatnya kembali simbol-simbol Orde Baru ke permukaan politik elektoral, begitu juga negara yang masih saja banal, harus terus bersama kita lawan. Agar kita tak jatuh ke lubang yang sama, yang kata pepatah merupakan ciri dari seekor keledai.

Jika orang-orang jahat saja bisa berkumpul, kapan kita semua yang peduli kemanusiaan bisa menguatkan simpul?

Mari akhiri tulisan ini dengan bersama-sama mengucapkan, “selamat ulang tahun, KontraS!”

Sharing is caring!
Share on Facebook8Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “Dua Dasawarsa Belajar dari KontraS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *