Driver ojek online dengan spanduk Perbudakan Modern
Unjuk rasa upah ojek online. Foto: KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG

Penghasilan Rata-rata Ojek Online Cuma Rp1,9 juta Sebulan, Data Terbaru

Kalau kamu masih percaya penghasilan rata-rata ojek online (Gojek, Grab, Uber) bisa mencapai Rp8 juta per bulan, kamu sepertinya perlu update data terbaru.

Terkait demo ojek online Selasa kemarin (27/3), CEO Gojek Nadiem Makarim sempat mengklaim kalau pendapatan rata-rata driver Gojek di atas Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta (di atas Rp3 juta). Tapi itu data kapan ya, mz Nadiem?

Pusat Kajian Komunikasi Universitas Indonesia (Puskakom UI) di bulan Mei 2017 saja menemukan kalau penghasilan rata-rata ojek online cuma di atas Rp1,9 juta. Artinya nggak sampai Rp3 juta. Padahal itu hasil temuan sudah setahun lalu, sewaktu komisi bagi driver belum sekecil sekarang.

Tahun ini–tahun 2018–pendapatan ojek online kecil banget. Komisi driver ojek online sudah jauh berkurang. Menurut laporan Tirto.id (27/3), masing-masing jumlahnya: Rp1600/km (Gojek), Rp1500/km (Grab), dan Rp1250/km (Uber, by the way, turut berduka atas akuisisinya).

Masih dari laporan Tirto.id (27/3), penghasilan rata-rata ojek online sehari bisa cuma Rp100 ribu. Untuk mendapat jumlah sekecil itu pun, driver harus kerja dari bedug subuh sampai jam 1 tengah malam. Artinya, jam kerjanya bisa sampai 19 jam!

Temuan Tirto dikonfirmasi oleh Perkumpulan Prakarsa. Hasil riset Prakarsa menyebutkan, sebagian besar pendapatan berkisar Rp2 juta-Rp4 juta sebulan. Tapi itu masih pendapatan kotor, belum termasuk biaya operasional setidaknya Rp856 ribu. Belum lagi itu dicapai dengan kerja seminggu penuh–39% responden tak kenal hari libur.

Belum lagi buat mencairkan uangnya susah banget. Driver Grab harus menunggu seminggu sebelum bisa mencairkan uangnya. Padahal driver butuh cash buat beli bensin dan makan. Lebih parah lagi, baru-baru ini kejadian di Medan, uang bagi driver Grab nggak turun sampai dua minggu!

Di Gojek lain lagi ceritanya. Kalau uangnya mau dicairin, harus sisa Rp50 ribu di deposit. Padahal buat dapat Rp100 ribu sudah harus kerja 19 jam. Duit Rp50 ribu, sisa dari mana?

Setelah driver ojek online demonstrasi dan berhasil bertemu Presiden Jokowi, pak presiden saja sepakat kalau komisi bagi driver terlalu murah. “Harus ada tarif bawah dan tarif atas,” kata beliau, seperti diliput Tempo.co (27/3).

Jangan kecele sama bonus

Gojek beberapa kali menyinggung bahwa mereka punya fitur poin bonus bagi driver. Bonus ini, katanya, bisa menunjang penghasilan rata-rata ojek online. Cuma kenyataan di lapangan jauh dari ideal.

Untuk dapat Rp100 ribu dari poin, driver harus mengumpulkan 36 poin sehari (lihat data terbaru di website Gojek [1] [2] ). Artinya driver harus 36 kali menarik penumpang. Katakanlah dia menarik penumpang di jam sibuk (artinya dapat tiga poin dari sekali tarik), mungkin dia cukup 12 kali menarik penumpang.

Tapi apa mungkin bisa menarik 12x di range jam sibuk (jam 16:00-20:00)? Di Jakarta, itu jam macet super parah, sementara kita tahu banyak penumpang yang kerjanya di Kuningan rumah di Bekasi. Artinya jarak tempuh bisa lebih dari 7 km. Kemudian persaingan antar-driver super ketat karena lebih banyak driver daripada customer. Kalau pun ada yang dapat jarak cuma 2-4 km, tantangan utamanya masih soal macet. Di jam-jam macet, warga Jakarta pasti tahu jarak 2 km bisa ditempuh paling cepat 1 jam.

Wawancara kecil-kecilan yang YP lakukan ke beberapa driver menemukan bahwa driver yang bisa empat kali dapat penumpang selama empat jam itu sudah hebat banget. Artinya baru dapat 12 poin. 12 poin cuma setara Rp10 ribu. Masih ada 24 poin lagi kalau mau dapet bonus Rp100 ribu. Masih 24 kali order lagi.

Pernah ada masanya penghasilan rata-rata driver Gojek sampai Rp8 juta sebulan. Tapi itu tahun 2014, sewaktu komisi bagi driver masih Rp4000/km.

Dipandang dari sisi ketenagakerjaan, driver ojek online juga nggak diakui sebagai pekerja. Cuma diakui sebagai “mitra”. Artinya, mereka nggak dilindungi Undang-undang Ketangakerjaan. Nggak ada jaminan sosial. Driver bisa dipecat kapan saja, seperti kejadian tahun 2016 sewaktu ada demo menuntut komisi layak.

Ini masalah kita bersama, bukan cuma ojek online

Sebenarnya kalau kita mau berkaca, kondisi rentan ini juga kita alami. Masalah pendapatan ojek online adalah masalah pendapatan kita di bidang pekerjaan lain.

Sampai sekarang teman-teman dokter masih punya banyak problem sama BPJS Kesehatan. Menurut laporan Rakyat Merdeka, tahun 2015 kemarin biaya jasa medis bagi dokter yang melayani BPJS Kesehatan cuma Rp2000/pasien. Di Aceh, Februari ini, ada 800 tenaga kesehatan yang belum dibayar.

Teman-teman guru pun begitu. Di tahun 2018 ini, gaji guru honorer lulusan S2 di Kalimantan Timur masih dibayar cuma Rp1,5 juta, padahal Upah Minimum Provinsi sudah Rp2 juta. Dan sementara bulan ini sebagian dari kita sudah asyik gajian, di Papua masih ada 2000 guru yang honornya nunggak.

Tahun 2016, Youth Proactive sempat membuat reportase yang membahas betapa eksploitatifnya budaya kerja teman-teman yang bekerja di beberapa startup dan kontraktor sipil.

Kondisi prekariat ini harusnya jadi kesadaran kita bersama. Kita harus bisa dan berani menuntut hak kita.

Driver ojek online sudah berhasil menuntut haknya sampe didengar Presiden Jokowi. Tahun 2017 kemarin dan juga tahun-tahun sebelumnya, para dokter dan bidan sudah unjuk rasa menuntut upahnya.

Kamu yang masih dieksploitasi bosmu, kapan mau berkonsolidasi? Yuk.

***

Pembaharuan (12/04): Artikel diperbaharui dengan menambahkan data dari Prakarsa.

Sharing is caring!
Share on Facebook108Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

17 responses to “Penghasilan Rata-rata Ojek Online Cuma Rp1,9 juta Sebulan, Data Terbaru

  1. Mohon untuk penulis dipelajari lagi tentang data statistik yang Anda cantumkan di atas karena menurut survei tersebut, angka 1,9 juta adalah rata-rata penghasilan nasional. Sedangkan rata-rata penghasilan mitra Go-Jek jauh di atas itu dan menurut survei tersebut, mitra Go-Jek sudah puas dengan penghasilan yang mereka dapatkan. Mohon untuk dikoreksi karena bisa menyebabkan terjadinya misleading kepada pembaca.

    1. Halo Razaqa! Terima kasih atas feedback-nya. Hasil riset Puskakom UI dikonfirmasi oleh temuan Tirto.id dan hasil riset Prakarsa yang menyebutkan bahwa rata-rata penghasilan pengemudi ojol di bawah UMP. Jadi tidak ada yang salah.

      Kemudian mengenai “kepuasan mitra Gojek”, ada dua hal yang mau kami cermati.

      1. Metodologi yang digunakan dalam survei kuantitatif tersebut perlu dievaluasi. Kepuasan tidak bisa dinilai hanya dengan kuesioner, apalagi kuesioner online. Responden bisa terjebak dalam situasi formalistik ketika dia harus memilih dari opsi yang sudah disediakan dalam kuesioner (apalagi bila pertanyaannya leading, seperti “Apa manfaat ojek online?”). Kuesioner tidak bisa menangkap pengalaman dan perasaan subjek penelitian dalam kesehariannya. Diperlukan metode kualitatif untuk menangkap hal tersebut–yang antropolog Clifford Geertz sebut sebagai deep hanging out

      2. Puas atau tidak, itu tidak relevan yang sedang kita bahas di sini: tarif. Itu red herring. Kepuasan tidak mengubah besaran tarif yang diterima toh?

    2. Mengatakan “mitra gojek sudah puas” dan “mohon dikoreksi”, adalah indikasi ANDA DIUTUS OLEH PERUSAHAAN KAPITALIS GOJEK!

  2. di grab penghasilan kita 320.000/hari dengan bonus 100.000/hari + insentif harian berkisar 15-25rbu. kita bulatkan saja 20 rbu. 320.000+100.000+20.000x28hari= Rp 12.320.000/bln . tapi di akhir bulan Driver meninggal satu persatu lama lama mati semua. Driver Tenang Bos Grab pun Senang…. hahahaha #PerbudakanGayaBaru

  3. Terima kasih atas publikasi data pendapatan rata-rata ojek/taksi online.
    Dari awal saya sudah curiga dengan semakin menurunnya pendapatan driver, berbanding terbalik dengan angka naiknya jumlah driver setiap hari. Dari keputusan menteri perhubungan tgl 12 Maret 2018 yang menyatakan perekrutan driver online harus dihentikan, ternyata tidak dipatuhi sama sekali oleh pelaku bisnis ini. Terbukti saya sendiri bereksperimen mendaftarkan diri di Grab Car dan Go-Car, masih tetap diterima dengan mudah pada awal bulan Mei 2018.

    Semoga artikel ini dapat menjadi acuan masyarakat untuk mempertimbangan untuk tidak menjadi “budak modern”. Karena bisnis kapitalisme seperti ini memang harus dikendalikan secepatnya. Jangan tergiur dengan iming-iming sales kendaraan “kredit murah taksi online” yang masih menggunakan data pendapatan ojek online tahun 2014.

  4. BUKAN PLAT KUNING KOK NGANGKUT UMUM? Driver brantem dijalan polisi brantem ama dishub….bos grab gojek senang2 terima duit mulu tiap hari Penjajah halus ini mah ngancurin negara beneran!

  5. Setuju dengan artikel ini. Tarif semakin rendah dan Grab/Gojek tidak memperhatikan kesejahteraan drivernya. Terbukti dengan mereka lepas tangan terhadap apapun yg terjadi di jalan. Juga anehnya menurut kawan2 yg menjadi driver di aplikasi mereka sering muncul perintah kepada driver untuk berbadan hukum…. halooooo.. negara, kenapa driver disuruh berbadan hukum sendiri? Pekerjaan sambilan seperti ini malah menjadi IKATAN hukum yang tidak tersadari oleh driver.
    KAPITALISME bagian dari KOMUNIS dan akan membunuh pekerjanya perlahan2.

    Lihat anda driver motor/mobil, kesehatan macam apa anda harus duduk seharian keliling kota. Berbagai penyakit internist membayangi anda semua mulai GINJAL hingga JANTUNG!

    1. Elu yg BODOH…. lu kira GOJEK company penyedia kerjaan sambilan?? GOJEK penyedia kerjaan fulltime, karyawan nya di bayar fulltime, bos nya terima investasi fulltime, kenapa kt harus jd parttime? Emg klo ga ada driver GOJEK bs survive? Koplak lu….

    2. Eh koplak, situ driver?
      atau coba aja join jadi driver!
      salah satu syarat menjadi driver adalah: siap bekerja FULLTIME 5 HARI SEMINGGU, 10 JAM SEHARI!!
      WOWOWOW

  6. Tolong kalau bisa perusahan ojek online agar tidak menerima terus menerus mitra yg ingin bergabung. Sebab akan menimbulkan lonjakan lebih banyak driver ketimbang customer. Hanya usul…

  7. Inti nya… yakin kan smua yg udh qt terima itu udh jd ktentuan ALLAH subhanahu wata’ala. Tinggal qt syukuri.

  8. Suka atau tidak suka ojek online mengurangi jumlah pengangguran diindonesia dan itu fakta, mau dibilang perbudakan modern, kapitalisme gaya baru, tetap saja masih banyak yg berminat dan menggantungkan nasibnya diojek online.Karena realitanya bangsa indonesia masih tetap saja bermindset pegawai, karyawan, atau lebih kasarnya lagi budak, miris ironis dan sekaligus tragis.Jumlah penduduk indonesia ada sekitar 250 juta jiwa, dan jumlah pengusahanya hanya dibawah 1% dari jumlah penduduk diiindonesia.Hal yg ironi buat negara yg sumber daya alamnya begitu besar.Klo saya pribadi lebih baik menciptakan lapangan kerja sendiri, karena peluang pasar diiindonesia masih luas.Klo ada yg bertanya tapi itu kan butuh modal, klo mau sukses harus ada yg namanya sebuah pengorbanan, dan modal itu adalah salah satu sebuah pengorbanan.

  9. Laporan grab-car sampingan setiap sabtu/minggu (jam 6 AM – 16 PM, sehari aja nariknya).
    Lokasi area Jabodetabek.
    Mobil Sigra 1000cc milik sendiri tanpa cicilan.
    Total trip bisa 7 – 12 trip. Uji coba 3x dapat pendapatan kotor 700rb, kalau dihitung bersihnya sekitar 600rb. Anggap aja 500rb bersih. Kalau mau sampai jam 10 malam bisa dapt lebih dong…
    Kalau sebulan 4x narik, minimal bisa dapat 2jtan.
    Terserah, untung atau tidak relative lah yaa…. bagi saya, untung banget sih buat sampingan.

    Penulis adalah driver grab-car sampingan.

  10. Kalo jadi Driver Ojek Online sudah ga bisa dijadikan pekerjaan utama. Ya dijadikan sampingan aja. Anggap aja iseng-iseng berhadiah..Ga usah dibikin pusing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *