Bu Guru Alfha mengajar di ruang kelas

Totalitas Guru dalam Waktu Mengajar

Pendidikan merupakan salah satu hal yang paling penting dalam proses kehidupan kita. Salah satu cara untuk memperoleh pendidikan adalah dengan bersekolah. Tentunya ada sosok pengajar atau guru yang memberikan atau membagikan informasi pengetahuan tersebut.

Menjadi seorang pengajar atau seorang guru harus memiliki totalitas serta profesionalitas yang tinggi. Tidak hanya mengajar dan sekedar memberikan pengetahuan saja, tetapi juga mendidik moral siswanya untuk menjadi lebih baik. Namun bagaimana jika ada permasalahan yang mempertanyakan totalitas seorang guru dalam mengajar?

Seperti halnya fenomena korupsi waktu.

Korupsi bukan hanya dilakukan oleh pejabat yang memiliki kedudukan kekuasaan saja, tetapi juga di keseharian. Ada dua permasalahan yang saya soroti dalam belajar mengajar. Pertama, seorang guru yang mengajar sesuai dengan jam pelajarannya tetapi mengambil jam pelajaran guru lain. Kedua adalah mengurangi jam pelajaran.

Hal-hal sepele tersebut jika dibiarkan terus menerus tentunya dapat menyebabkan dampak yang luar biasa bagi pelajar atau siswa. 

Berlebihan mengambil jam

Ada saat ketika seorang guru terkadang terlalu asyik dengan materi yang ia sampaikan. Sehingga ia terlena dan mengambil jam pelajaran guru lain yang akan mengajar selanjutnya. Akibatnya, materi atau mata pelajaran selanjutnya menjadi tidak selesai. Guru lain pun ikut menjadi terlambat dalam meyampaikan materi. Dan akan menjadi siklus berputar antara guru yang satu dengan yang lainnya.

Penyebab lain adalah karena materi yang terlalu banyak. Ketika menjelang Ujian Tengah Semester, pembelajaran yang masih banyak yang belum selesai terpaksa harus diselesaikan dengan waktu yang mepet. Sehingga guru memberikan semua materi dalam waktu yang singkat.

Dengan adanya pertambahan waktu yang tidak seharusnya di jam pelajaran tersebut, siswa akan merasakan kejenuhan. Terlalu lamanya durasi pembelajaran, apalagi kalau gurunya menjelaskan secara monoton, siswa akan mudah bosan dan akhirnya memilih untuk mengobrol dengan teman sebangku ataupun memilih keluar untuk mencari udara segar.

Mengurangi jam pelajaran

Banyak hal juga yang biasa dilakukan oleh guru yang membuat mereka mengurangi jam pelajaran. Misalnya dua jam belajar dikurangi hanya jadi satu jam saja.

Kesibukan pribadi banyak sekali dijadikan alasan untuk mengurangi waktu pembelajaran. Guru biasanya beralasan ada urusan keluarga yang tidak bisa ditinggal. Padahal sebenarnya ia hanya bolos untuk menghindari pelajaran yang belum disiapkan.

Tidak sedikit juga guru yang super sibuk dan hampir tidak lagi mempedulikan keadaan siswanya di dalam kelas. Dengan beralasan kegiatan sekolah, ia hanya masuk sebentar dengan memberikan tugas kepada siswa. Masih syukur apabila tugas yang diberikan akan dibahas di lain waktu. Biasanya guru mengabaikannya dan tugas yang dikerjakan oleh siswa hanya percuma jika tidak ada tindak lanjut dari seorang guru.

Fenomena lain yang saya sempat rasakan adalah banyak guru yang menunda memberikan pembelajaran dengan banyak memberikan nasihat ataupun memarahi siswanya. Karena belum siapnya materi pembelajaran ataupun malasnya mengajar, guru akan mencari alasan dengan memarahi kesalahan sepele siswa dan menceramahinya mulai dari awal pelajaran hingga lonceng tanda habis jam pelajaran.

Hilangnya kewibawaan

Meskipun sepele, korupsi waktu merupakan hal yang cukup serius dalam menurunnya totalitas seorang guru. Seringnya mengabaikan dan tidak peduli dengan siswa di dalam kelas, membuat guru mau tidak mau akan kehilangan kewibawaan sebagai seorang guru yang profesional di mata siswa.

Kewibawaan yang memudar juga menyebabkan profesionalitas yang patut dipertanyakan oleh seorang guru. Guru yang seharusnya profesional dalam mengajar dan kedisiplinan dalam mendidik moral siswa akan menjadi pertanyaan.

Seorang guru yang tidak peduli, tidak akan disegani dan di hormati oleh siswanya. Karena gurunya saja menganggap sepele siswa, bagaimana dengan siswanya?

Solusi permasalahan kurangnya profesionalitas guru yaitu dengan sadar dengan diri sendiri. Saya sebagai seorang calon guru dan guru yang ada di Indonesia tentunya harus meningkatkan totalitas dan kualitas kita sebagai seorang pengajar.

Dengan mendisiplinkan diri dan peduli tidak hanya kemampuan akademis siswa atau pelajar, tetapi juga kemampuan non-akademis dan sopan santun/kelakuan siswa. Peningkatan kedisiplinan ini penting untuk mewujudkan profesionalitas seorang guru.

Kritik siswa

Untuk peningkatan kedisiplinan, siswa juga bisa ikut andil dalam menumbuhkan kesadaran seorang guru. Salah satunya dengan cara memberikan kritik kepada seorang guru melalui kepala sekolah. Sehingga kepala sekolah juga ikut mengetahui perkembangan pengajaran guru.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga setuju. Dilansir dalam detiknews hari Rabu, 5 November 2014, KPAI menyebutkan bahwa guru tidak boleh bersikap superior. Guru juga harus mau menerima kritik dari para murid didiknya agar tercipta sekolah yang ramah anak.

Jadi sebagai seorang siswa tidak perlu takut terancam nilai kecil dari guru yang mengajar karena melaporkan masalah korupsi waktu yang dilakukan oleh guru di sekolah mereka.

Dengan begitu siswa juga dapat membantu meningkatkan kedisiplinan bagi seorang guru. Selain itu kritik siswa dapat menegur guru agar bisa sedikit sadar akan pentingnya menjunjung tinggi totalitas sebagai seorang guru yang profesional.

“Seorang guru yang baik adalah yang mampu membentuk karakter siswa dengan pendidikan yang dapat membuat siswa disiplin, peduli sesama, dan peka terhadap lingkungan sekitar.”

***

Catatan: Tulisan ini adalah posting ulang dari kiriman Alfha Sari Asnawi untuk Anti-Corruption Youth Camp 2017. Lihat tulisan lainnya dengan tagar #Anti-CorruptionYouthCamp.

Sharing is caring!
Share on Facebook4Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “Totalitas Guru dalam Waktu Mengajar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *