Kampung Dago dan Wayang Golek
Foto: Diolah dari infobdg.com & sportourism.id

Belajar Disiplin dari Kampung Dago, Bandung

Hidup di tengah masyakarat kota yang berpendidikan tidak menjamin bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan norma-norma sosial yang ideal. Karena itu dibutuhkan sikap atau karakter disiplin. Menurut Depdiknas (2001), disiplin merupakan sikap yang menunjukkan konsistensi dalam melakukan suatu hal.

Kedisiplinan seseorang terbentuk utamanya dikarenakan faktor budaya dan karakteristik bawaan (Srinivasan, 2011). Namun, dalam realitasnya kita bisa dengan mudah menemukan sikap yang tidak mencerminkan konsistensi tersebut, utamanya mengenai waktu dan aturan. Misalnya seperti telat datang kuliah yang berarti melanggar aturan jam masuk kelas.

Dalam konteks yang lebih luas, sikap tersebut memiliki keterkaitan dengan korupsi. Ketidaktaatan akan membentuk budaya dan karakter koruptif dimana kita menjadi orang yang kumaha engke wae (seenaknya sendiri) sehingga membuka celah adanya korupsi. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Kepala Bidang Investigasi BPKP Jabar Drs. Ganis Diarsyah (dalam Unpad, 2014) yang mengatakan bahwa ketidakdisiplinan itu merupakan bibit-bibit dari tindakan korupsi yang harus diwaspadai.

Berdasarkan penelitian Jennifer Hasty (2005) tentang disiplin dalam budaya politik orang Ghana ditemukan bahwa praktik korupsi itu mencerminkan tindakan yang asing, mementingkan diri sendiri, dan tidak adanya disiplin masyarakat. Lebih lanjutnya, Hasty (2005, h. 271) menjelaskan bahwa institusionalisasi budaya disiplin dengan menahan egoisme pribadi dalam keseharian sangat penting untuk mencegah korupsi.

Keterkaitan disiplin dan korupsi juga bisa dilacak dalam UU No. 31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang menjelaskan bahwa salah satu sifat korupsi adalah melawan hukum. Sifat melawan hukum memiliki makna luas, baik formil dan materil. Sikap atau perbuatan melawan hukum tidak hanya tentang hukum yang tertulis saja, melainkan juga asas umum yang berlaku serta hukum sosial yang tidak tertulis (Agustina, 2016).

Dari penjelasan di atas, kita dapat menarik benang merah bahwa ketidakdisiplinan kita sebagai individu tidak hanya memiliki dampak kepada diri sendiri, lingkungan, tetapi juga kepada masa depan bangsa ini.

Membangun budaya disiplin

Berbicara mengenai penerapan budaya disiplin tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kita perlu melihat konteks masyarakat yang ada, utamanya terkait dengan nilai-nilai lokal yang dimiliki.

Kita bisa belajar dari orang Sunda yang bermukim di Jawa Barat, khususnya di Kampung Dago, Kota Bandung. Melalui mereka kita bisa menemukan bahwa terdapat nilai khas lokal yang akan sangat efektif bila digunakan sebagai pendekatan dalam membentuk budaya disiplin, yaitu melalui pagelaran wayang golek dan dengan pendekatan spiritual.

Pertama, bagi masyarakat Sunda, wayang golek adalah budaya leluhur bangsa yang harus terus dilestarikan. Wayang merupakan kearifan lokal yang diakui sebagai “Masterpiece of the Oral and Intagible Heritage of Humanity” oleh UNESCO.

Predikat tersebut disematkan kepada wayang sebagai kearifan lokal kita karena masyarakat selalu menggemari dan mendukung wayang dari dulu dan juga wayang memiliki kualitas seni yang tinggi sehingga harus terus dirawat untuk dimanfaatkan bagi kemanusiaan.

Wayang yang memiliki kualitas sini atau edipeniadiluhung berarti indah, menarik, dan juga sarat dengan nilai-nilai di dalamnya (Solichin 2001, h. 2). Pertunjukan wayang golek menceritakan gambaran kehidupan manusia lengkap dengan permasalahannya.

Melalui pertunjukan wayang, kita dapat memahami realitas kehidupan kita dan memetik makna darinya. Bagi masyarakat Sunda, wayang golek bukan sekedar pertunjukan semata, melainkan juga sebagai tuntutan untuk menjadi manusia sebagaimana mestinya (human being) yang dalam jargon Sunda dikenal dengan istilah Sunda paripurna, Sunda nyantana, depe-depe handap asor, luhur budi hade basa, dan cageur bageur bener pinter (Cahya, h. 126).

Dalam hal ini, menjadi manusia yang berbudi luhur berarti juga memiliki kedisiplinan terhadap waktu dan aturan. Karena itulah, wayang golek merupakan pendekatan yang efektif dalam membentuk budaya disiplin.

Contoh lakon wayang golek yang mengajarkan tentang disiplin adalah lakon Dawala Jadi Raja. Dalam lakon wayang golek tersebut, terdapat tokoh Semar yang sangat disiplin terhadap aturan dan perintah Raden Arjuna. Bahkan ia tidak hanya memegang nilai tersebut sendirian, ia mengajarkan anaknya tentang disiplin dengan selalu mengingatkan bahwa mereka adalah punakawan, para abdi raja yang harus taat terhadap aturan kerajaan.

Kedua, masyarakat Sunda di Kampung Dago masih memegang kuat nilai spiritual yang mereka yakini, khususnya kepercayaan agama Islam. Berdasarkan wawancara dengan Kang Rahmat Jabaril selaku penggagas kampung kreatif Dago Pojok, masyarakat Dago Pojok masih memegang teguh nilai spiritual.

Orang-orang tua di Dago Pojok selalu mengajarkan anaknya untuk ketika waktu salat tiba semua aktivitas harus berhenti terlebih dahulu. Bahkan meskipun Kampung Dago adalah kampung kreatif, ketika maghrib tiba semua aktivitas seni yang dilakukan para pegiat kampung kreatif harus dihentikan terlebih dahulu.

Kebiasaan yang dimiliki oleh masyarakat Dago Pojok merupakan cerminan dari nilai-nilai spiritual, khususnya sikap disiplin terhadap waktu dan aturan. Dalam hal ini sikap disiplin masyarakat Dago Pojok bisa dilacak dari Al-Quran sebagai pedoman umat muslim.

Dalam Al-Quran, umat manusia diperintahkan untuk melakukan salat. Salat merupakan bentuk nyata dari disiplin terhadap waktu dan aturan. Dalam Q.S Al-A’raf ayat 205, Allah SWT berfirman,

“Ingatlah Tuhan dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut dengan tidak mengeraskan suara pada waktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”

Dalam menjalankan perintah salat, setiap orang diberikan waktu yang sama, yaitu 24 jam. Dalam waktu tersebut kita harus melaksanakan salat lima waktu.

Rasulullah SAW juga memerintahkan umat muslim untuk “Luruskan shaf (barisan) kalian, karena lurusnya shaf bagian dari kesempurnaan.” (HR Muslim) Sebagaimana tanggung jawab dalam shaf salat, disiplin waktu pun adalah tanggung jawab masing-masing.

Melalui perintah salat tersebut kita diajarkan untuk menghargai waktu yang telah diberikan dan juga mengikuti setiap aturan seperti prasyarat suci dengan berwudhu, tepat watu, bacaan salat, gerakan salat, dan lain sebagainya.

Artinya, perintah salat turut membentuk budaya disiplin bagi umatnya. Bagi yang menaati perintah salat dengan waktu akan menjadi pribadi yang disiplin.

Penutup

Kita dapat menarik benang merah bahwa dampak dari ketidakdisiplinan kita terhadap waktu dan aturan tidak hanya kepada diri sendiri, tapi sikap tersebut berkelindan dengan persoalan korupsi.

Membentuk budaya disiplin bagi diri sendiri merupakan salah satu bentuk kontribusi kita mewujudkan Indonesia yang bebas dari korupsi. Tidak hanya itu, disiplin juga akan memberikan manfaat-manfaat nyata dan langsung kepada diri kita sendiri.

Kita para mahasiswa harus mulai membiasakan diri untuk disiplin terhadap waktu dan aturan. Jikalau usaha untuk disiplin tersebut terasa susah, patutlah kita pergi ke kampung Dago Pojok untuk sejenak hidup di tengah masyarakat dan memetik pelajaran darinya.

.

 

Referensi

Srinivasan, M.S. 2011. Online. Corruption and Discipline. (https://nextfuture.aurosociety.org/corruption-and-discipline, diakses pada 8 Desember 2017 pukul 4:47 pm)

Hasty, Jennifer. 2005. The Pleasures of Corruption: Desire and Discipline in Ghanian Political Culture. Journal Cultural Anthropology, Vol. 20, No.2 (Mei 2017), pp. 271-301.

Unpad. 2014. Online. Tidak Disiplin adalah Bibit Perilaku Korupsi. (http://www.unpad.ac.id/2014/09/tidak-disiplin-adalah-bibit-perilaku-korupsi/, diakses pada 8 Desember 2017 pukul 5:39 pm)

Solichin. 2011. Falsafah Wayang, Intagible Heritage of Humanity. Jakarta: Yayasan Senawangi

Cahya. 2016. Nilai, Makna dan Simbol dalam Pertunjukan Wayang Golek sebagai Representasi Media Pendidikan Budi Pekerti. Jurnal Ilmiah Seni dan Budaya, Vol 26. No. 2, Juni 2016.

***

Catatan: Tulisan ini adalah posting ulang dari kiriman Dicky Adra untuk Anti-Corruption Youth Camp 2017. Lihat tulisan lainnya dengan tagar #Anti-CorruptionYouthCamp.

Sharing is caring!
Share on Facebook4Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *