ACYC 2017

Kak Daud dan Integritas di ACYC 2017

Pelajaran paling penting dalam hidup ini ialah pengalaman. Mungkin kalimat ini cukup mewakili perjalananku saat mengikuti salah satu kegiatan yang luar biasa. Anti Corruption Youth Camp (ACYC) 2017 tanggal 3-10 Desember 2017.

Acara yang berlangsung di kota bunga dengan hiruk pikuk modernitasnya menambah banyak pengalaman hidup dan tentu dapat dijadikan pelajaran serta menambah semangat perubahan.

Acara ini mempertemukan berbagai content creator dari seluruh Indonesia. Mengingat tema besar yang diangkat kali ini ialah generasi millenials, maka konten seperti blog, vlog, podcast, poster, musik, motion graphics serta komik tergabung menjadi satu semangat antikorupsi. Kebetulan dalam kegiatan kali ini, vlog menjadi salah satu media yang aku gunakan dan meloloskanku menjadi salah satu peserta.

Hal yang terpenting selama materi yang disampaikan dalam acara ini ialah peran dari generasi millennial itu sendiri. Millenials, Beda dan Berkarya, tentu menjadi PR bagi semua peserta untuk tetap mengembangkan karyanya. Salah satunya dengan konten kampanye semangat antikorupsi.

Di hari kelima, Jum’at 8 Desember 2017, semua peserta dihimbau untuk mengikuti kompetisi Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia) yang jatuh pada keesokan harinya (09/12).

Ada empat hashtag yang menjadi tema besar kompetisi kali ini. Di antaranya adalah hashtag #TelatBerat, #AyoKePuskesmas, #SadarPungli, serta #PemudaMendesa. Semua tema ini dibentuk dan disepakati oleh semua kelompok.

Lalu kita sesuaikan dengan tema yang diangkat oleh panitia: Pendidikan, Kesehatan serta Dana Desa. Nama-nama kelompok pun dibuat dengan suasana millennial seperti Youtube, Hashtag, Stalker, Loading, dan lain sebagainya. Memang arahnya pada bagaimana peran generasi millennial sebagai generasi teknologi memaksimalkan media sosial sebagai semangat antikorupsi.

Zainal Abidin dan A. Gimmy Prathama Siswandi, akademisi alumni UNPAD, menjelaskan bahwa komponen yang dimiliki oleh perilaku korupsi antara lain, adanya penyalahgunaan wewenang, kepentingan pribadi, melanggar norma dan nilai serta penyalahgunaan terhadap amanah publik.

Menurut Syed Hussein Alatas, secara sosiologis korupsi merupakan masalah yang bergantung pada contoh sejarah yang konkret dan peran-peran yang dilakukan oleh masyarakat. Maka dari itu perlu adanya pengawalan dan pengawasan dari pihak yang berada di luar pemerintahan. Dalam ruang lingkup mikro ialah peran pemuda itu sendiri.

Kisah sang fasilitator

Pelajaran lain yang tidak kalah menarik ialah sikap dan karakter diri yang harus kita perbaiki. Apapun yang kita inginkan untuk perubahan bangsa, tanpa dibentengi dengan integritas dalam diri, hanya akan menjadi rencana semata.

Kisah ini juga aku alami, saat bertemu dengan salah satu fasilitator yang sangat terbangun kepekaannya. Kami memanggilnya Kak Daud. Menurut keterangan dari peserta lain, Kak Daud memang memiliki semangat perubahan yang tinggi. Bahkan sebagai generasi millennial tidak menghalang dirinya meneruskan profesi orang tuanya sebagai petani. Profesi yang mungkin hampir tidak pernah terpikirkan oleh generasi hari ini.

Cerita ini aku alami juga bersama dengan salah satu sahabatku, Emira. Kebetulan aku dan Emira berasal dari satu universitas yang sama yakni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Waktu itu tepat pukul setengah dua malam, aku dan Emira merasa lapar di tengah-tengah mengerjakan proyek untuk dikumpul sebelum jam 8 pagi keesokan harinya (tanggal 09 Desember 2017). Malam itu kami memutuskan untuk keluar mencari makanan. Tepat di depan Wisma PU, tempat menginap ACYC 2017, ada penjual nasi goreng yang masih berdagang malam itu.

Kami berdua memutuskan untuk membeli nasi goreng tersebut. Malam itu, penjual nasi goreng dikelilingi oleh banyak laki-laki, lebih tepatnya driver transportasi online yang mungkin sedang menunggu order sambil menikmati nasi goreng. Walhasil, kami berdua menjadi pembeli minoritas dalam segi gender.

Kemudian terlihat Kak Daud menuju wisma. Sepertinya baru saja pulang dari salah satu mini-market yang letaknya tidak jauh dari Wisma PU. Melihat kami berdua sedang duduk di tengah-tengah kerumunan laki-laki sambil menunggu nasi goreng, Kak Daud menghampiri kami. Kami menjelaskan kenapa ada di sini.

Kak Daud memutuskan untuk membayarkan kami nasi goreng. Kak Daud juga menunggu dan menemani kami hingga kami selesai makan. Kami awalnya menyangka Kak Daud membeli nasi goreng juga, ternyata beliau hanya ingin menemani kami. Mungkin karena kami berada di tengah-tengah laki-laki saat tengah malam.

Kisah ini menjadi kisah yang paling berkesan selama ACYC 2017. Bukan karena kami ditunggu saat makan nasi goreng, tetapi bagaimana kepekaan dan sikap menolong orang lain juga menjadi bagian dari kepedulian sosial kita.

Dalam teori habitus yang digagas oleh Bourdieu, ada struktur mental atau kognitif yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial. Seseorang secara subjektif dibekali serangkaian skema atau pola yang diinternalisasikan yang mereka gunakan untuk merasakan, memahami, menyadari, dan menilai dunia sosial.

Dari sini, pendidikan karakter dan lingkungan berperan penting dalam upaya memberantas korupsi. Seseorang yang jujur dan baik sedari awal akan sulit untuk berbuat tidak jujur. Begitupun sebaliknya. Karakter yang kuat dapat terbentuk melalui pendidikan. Jelas ketika berbicara pendidikan, pembahasan kita mengarah kepada pendidikan formal dan non-formal, baik dalam lingkup keluarga maupun sekolah.

***

Catatan: Tulisan ini adalah kiriman Tri Mulyani untuk Anti-Corruption Youth Camp 2017. Lihat tulisan lainnya dengan tagar #Anti-CorruptionYouthCamp.

Sharing is caring!
Share on Facebook2Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *