Umbul Ponggok

Di Balik Kesuksesan Umbul Ponggok dan Cerita Soal Millenial yang Men-Desa

Travelling bukanlah sekadar gaya hidup atau bahkan hanya untuk menghias feed Instagram. Lebih dari sekadar pamer atau ajang menunjukan eksistensi diri belaka, bagi saya travelling merupakan sarana pembelajaran. Contohnya perjalanan saya ke Umbul Ponggok, mengajarkan saya akan peran penting millenial dalam membangun desa yang berdikari lagi bersih dari korupsi!

Siang Itu…

Siang itu saya tengah memacu Bita — sapaan untuk Honda Beat berwarna hitam kesayangan sayamelaju ke arah Klaten. Perjalanan Yogyakarta - Klaten memakan waktu tempuh selama satu jam. Sekitar pukul 13.00 tibalah saya di kawasan Umbul Ponggok. Umbul berarti mata air, sedangkan Ponggok adalah nama desa di mana mata air itu berada.

Umbul Ponggok merupakan sebuah pemandian alam yang menjadi ikon wisata Klaten. Air umbul terasa lebih segar lantaran bersumber dari Tuhan (mata air alami). Ekosistem di dalamnya pun masih terjaga, mulai dari ikan, lumut, dan berbagai biota lainnya.

Berbeda dengan pemandian alam lainnya, foto akuatik menjadi daya tarik bagi para pengunjung yang datang dari berbagai daerah. Foto akuatik merupakan teknologi foto di dalam air. Tidak banyak pemandian alam yang menyediakan fasilitas ini. Sehingga tidak hanya sekedar menjadi tempat rekreasi, Umbul Ponggok kerap menjadi tempat pemotretan pre-wedding .

Lantas, pelajaran seperti apa yang saya dapat dari Umbul Ponggok? Lepas berwisata, saya menyempatkan diri untuk berbincang dengan Ibu Irawati Sugiyarto S,Pt selaku Ibu Kepala Desa Ponggok. Kami berbicara banyak soal bagaimana Ponggok berhasil mengembangkan dan memanfaatkan dana desa.

Sebagaimana kita ketahui, salah satu program Jokowi adalah membangun dari desa. Terbukti dengan digelontorkannya tunjangan dana desa yang bertriliun-triliunan rupiah jumlahnya. Tapi sayangnya, tidak semua desa mampu mengoptimalkan sumber dana ini. Ponggok merupakan salah satu desa yang berhasil dalam memanfaatkan dana desa.


Foto: Arif Budi Darmawan

Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Ponggok mampu menghasilan dana sebanyak Rp10 miliar setiap tahunnya, bahkan angka ini terus merangkak naik. Dana itu belum termasuk tunjangan dana desa dari pemerintah pusat.

Dana yang sedemikian besar dikembangkan kembali dalam program pembangunan desa, mulai dari pembangunan infrastuktur fisik dan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Salah satu program desa adalah satu rumah satu sarjana. Program ini membuat saya tertegun. Itu artinya perangkat desa memahami betapa pentingnya peran pemuda dalam pembangunan desa.

Menyoal Dana Desa dan Tantangannya

Banyak desa-desa, utamanya berasal dari luar Jawa, datang ke Ponggok untuk belajar terkait bagaimana mengoptimalkan serta mengelola dana desa.

“Mereka (desa-desa di luar Jawa itu) mendapatkan dana desa lebih banyak dari yang di Jawa, tetapi permasalahannya mereka bingung dalam menggunakan dana tersebut,” tukas Irawati.

Pada Agustus 2017 ini Sri Mulyani— Menteri Ekonom— menyempatkan diri datang ke Desa Ponggok. Kedatangan Sri Mulyani ini merupakan bentuk apresiasi karena Ponggok telah menjadi contoh bagi desa-desa lainnya. Keberhasilan Ponggok tidak hanya terletak pada kemampuan desa dalam mengelola dana desa tetapi juga dalam melibatkan Bumdes untuk meningkatkan perekonomian masyarakat desa.

Tidak semua desa dapat memanfaatkan kucuran dana desa dengan optimal. Permasalahan terletak pada kurangnya komitmen pemerintah dalam mendukung perangkat dan kepala desa untuk mengelola dana desa. Akibatnya dana desa hanya menjadi media munculnya bibit-bibit koruptor di tingkat desa. Dana desa yang pada mulanya ditujukan bagi penduduk desa pada kenyataanya hanya menguntungkan segelintir kalangan saja.

Jumlah penyelewangan dana desa tidak tanggung-tanggung, bahkan melibatkan berbagai macam aktor.

Di Madura, Jawa Timur, korupsi dana desa melibatkan Bupati Pamekasan, Kepala Inspektorat Kabupaten Pamekasan, Kepala Kejaksaan Negeri Pamekasaan dan Kepala Desa Dasok, Pamekasan dengan penyelewengan dana desa sejumlah Rp100 juta. Motif penyelewengan dana ini pun juga beragam. Di Tolikara, polisi menemukan pembelian dengan nota fiktif, antara lain: mebel, 36 mesin motor tempel, 38 perahu, dan tangki penampungan air berbahan fiber.

Transparansi merupakan isu yang harus dikawal dalam pelaksanaan dana desa. Dari Desa ponggok saya belajar bahwa pemuda memiliki peran penting dalam mengawal transparansi dana.

“Pemuda juga turut hadir dalam rembuk (musyawarah) desa, data pengeluaran dana desa kami informasikan melalui website dan baliho, untuk pembahasan isu strategis selalu kamis bahas dalam forum musyawarah yang mempertemukan BPD, Pemerintah Desa dan Kelompok Warga sebagai wujud melembagan demokrasi lokal,” jelas Irawati.

Millenial yang Men-Desa

Foto: Arif Budi Darmawan

Penggunaan istilah generasi millenial merujuk pada penduduk yang lahir pada akhir dekade 1980–1990 atau pada awal 2000-an. Mereka yang masuk dalam generasi ini memiliki ciri mengalami pergeseran perilaku seturut dengan perkembangan teknologi. Tentu, perkembangan teknologi ini membawa akibat positif dan juga negatif bagi masyarakat. Keberhasilan Ponggok dalam mengelola desa menunjukan dampak positif dan pentingnya peran millenial dalam pembangunan desa.

Setidaknya ada dua peran penting millenial dalam membangun desa. Pertama, peran dalam menginisiasi, menggali, serta mengembangkan potensi desa. Dalam hal ini millenial Ponggok mampu menggali potensi Umbul Ponggok untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk desa.

Kedua, peran millenial dalam sistem komikasi dan jaringan kelompok pemuda. Pembuatan portal resmi desa serta baliho sebagai media informasi pengeluaran dana desa merupakan salah satu contoh pengoptimalan sistem komunikasi dan jaringan untuk mengawal transparansi desa.

Pemanfaatan teknologi digital merupakan salah satu ciri generasi millennial. Namun, tidak banyak generasi millennial yang mau mengoptimalkan media digital sebagai sarana untuk mewujudkan demokrasi desa. Ada banyak persoalan penerapan demokrasi dalam desa, salah satu yang menjadi hal penting yakni menyoal transparansi dana desa.

Tanpa transparansi, dana desa hanyalah menjadi biang dari munculnya koruptor desa. Dan visi pembangunan desa yang dicangkan pemerintah niscaya hanya menjadi bualan belaka.

Foto: Arif Budi Darmawan

Istilah Millenial Men-Desa merupakan apresiasi saya bagi generasi millenial yang terus berkarya untuk memajukan desanya. Millenial terus optimis bahwa pemerataan ekonomi perlu dimulai dari desa yang selama ini selalu ter-anak tirikan oleh program pembangunan yang bias kota. Hal ini bisa dibuktikan dengan tingginya tingkat urbanisasi yang terus terjadi setiap tahunnya. Perpindahan terjadi lantaran masyarakat desa mengimajikan kota sebagai sumber penghidupan yang lebih baik ketimbang desa terutama bagi mereka yang berpendidikan tinggi.

Sebagaimana pembelajaran dari kesuksesan Umbul Ponggok. Salah satu faktor majunya desa adalah millenial yang mampu memanfaatkan media digital untuk mengawal desa yang berdikari lagi bersih.

Media digital dimanfaatkan sebagai sarana untuk mewujudkan transparansi desa, segala pengeluran desa akan disebarkan melalui media ini. Selain itu yang tak kalah penting adalah peran pemuda millenial dalam musyawarah desa dan terus berinovasi untuk kemajuan desa.

***

Sumber

https://kompas.id/baca/nusantara/2017/10/06/dana-desa-mulai-jerat-kepala-desa/ diakses pada 12 November 2017

https://kompas.id/baca/polhuk/politik/2017/08/08/penyimpangan-terus-terjadi/ diakses pada 12 November 2017

https://kompas.id/baca/utama/2017/04/28/dana-desa-naik-bila-ada-transparansi/ diakses pada 12 November 2017

http://www.republika.co.id/berita/koran/inovasi/16/12/26/ois64613-mengenal-generasi-millennial diakses pada 12 November 2017

http://klatenponggok.desa.kemendesa.go.id/ diakses pada 12 November 2017

http://kampoengilmu.com/umbul-ponggok-klaten/ diakses pada 12 November 2017

***

Catatan: Tulisan ini adalah posting ulang dari kiriman Arif Budi Darmawan untuk Anti-Corruption Youth Camp 2017. Lihat tulisan lainnya dengan tagar #Anti-CorruptionYouthCamp.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “Di Balik Kesuksesan Umbul Ponggok dan Cerita Soal Millenial yang Men-Desa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *