Burung close-up
Ilustrasi foto: Bossfight.CO

Burung dan Kamar Mandi

Bandung sangat dikenal dengan bermacam-macam destinasi wisatanya. Mulai dari kuliner, alam, mode, sejarah, hingga seni dan budaya. Dari beragam destinasi yang ada biasanya destinasi seni dan budaya yang sering dikunjungi adalah Saung Angklung Udjo dan Kampung Kreatif Dago Pojok.

Sudah tahukah mengenai Kampung Kreatif Dago Pojok? Nah sekarang mari kita bahas sedikit mengenai Kampung Kreatif Dago Pojok yang baru diluncurkan tahun 2011.

Kampung Kreatif Dago digagas oleh Rahmat Jabaril, seorang pendatang yang datang ke Dago Pojok. Dengan membawa gagasan bahwa penduduk lokal seharusnya tidak tergerus zaman sehingga tidak menjual tanah dan rumahnya untuk orang-orang elite.

Pertanyaannya adalah bagaimana tanah dan rumahnya bisa menjadi pusat perekonomian bagi penduduk lokal? Untuk itulah Kang Rahmat kemudian membangun Kampung Kreatif Dago Pojok yang ia upayakan sejak tahun 2003. Dengan berbagai kendala dan tantangan Kang Rahmat beserta warga Dago Pojok menghasilkan kampung indah yang warna-warninya menghiasi mural dan lukisan di setiap sisi kiri-kanan temboknya.

Tapi dari sekian banyak keindahan dan kecantikan selalu ada bercak di dalamnya.

Kamis siang peserta ACYC 2017 berangkat menuju Kampung Kreatif Dago Pojok. Saat datang ke sana, pemandangan yang disajikan sangat indah. Mural warna-warni di mana-mana, wayang golek dan lukis kriya tersaji. Rasanya seperti budaya Sunda sangat lestari disini.

Hanya sekejap kami terkesan oleh keindahan Kampung Kreatif Dago Pojok, kami pun diarahkan pada wisma atau rumah inap masing-masing. Aku kemudian serumah dengan Fidot dan Emira. Kami diantar oleh Pak Nanang menuju rumah yang dituju, katakanlah rumah tersebut milik Bu Ela dan Pak Yayat.

Saat diarahkan oleh pemilik rumah menuju kamar, aku langsung menanyakan perihal kamar mandi. Namun ibu pemilik langsung menjawab nanti akan ditunjukkan. Ternyata eh ternyata, setelah ditunjukkan, kamar mandinya terpisah beberapa langkah. Tapi bukan itu point pentingnya. Point pentingnya adalah di dalam kamar mandi tersebut banyak barang-barang yang tidak terpakai dan ada seekor burung.

Burung!

Barang yang tidak digunakan disimpan di kamar mandi. Foto: Gisna Maulida.
Barang yang tidak digunakan disimpan di kamar mandi. Foto: Gisna Maulida.
Burung dalam sangkar yang terletak di kamar mandi. Foto: Gisna Maulida.
Burung dalam sangkar yang terletak di kamar mandi. Foto: Gisna Maulida.
Sangkar burung dengan kakus yang kurang steril. Foto: Gisna Maulida.
Sangkar burung dengan kakus yang kurang steril. Foto: Gisna Maulida.

Aku masih belum tahu motivasi pemilik rumah memelihara burung di dalam kamar mandi. Tapi dilansir dari ternakburung.com, dalam kamar mandi, burung mendapat udara yang lebih lembab dan juga sedikit terhindar dari suara televisi maupun suara suara lain yang mungkin secara tidak sengaja termaster ke dalam memori burung. Pemasteran pun bisa dilakukan dalam kamar mandi tersebut agar lebih efektif.

Huff, baiklah, mungkin kutipan di atas merupakan alasan dari pemilik rumah untuk melakukan hal tersebut. Walaupun jika diingat lagi, di dapur rumah pun terdapat banyak kandang burung. Mungkin jika dihitung keseluruhan burungnya ada lebih dari 10. Dan begitu pun jumlah kotorannya. Bahkan kotoran burung pun sampai berceceran di sekitar kamar mandi dan dapur.

Kotoran burung berceceran di kamar mandi. Foto: Gisna Maulida.
Kotoran burung berceceran di kamar mandi. Foto: Gisna Maulida.

Di sisi lain, hal ini kurang enak dipandang mata, tapi hal itu kembali pada selera masing-masing. Yang perlu disoroti adalah kandungan unsur hara dan bakteri dalam kotoran burung. Seberapa berbahayakah hal tersebut? Sejauh mana masyarakat mengetahuinya? Dilansir dari burungnya.com, kotoran burung dapat menyebabkan beberapa penyakit seperti:

  • Penyakit Kandidiasis
  • Penyakit Histoplasmosis
  • Penyakit Kriptokokosis
  • Penyakit St Louis Encephalitis
  • Penyakit dari bakteri E.Coli
  • Penyakit Salmonellosis

Kondisi ekonomi masyarakat Kampung Kreatif Dago Pojok semakin meningkat, taraf pendidikannya pun ikut meningkat seiring dengan hadirnya Komunitas Taboo yang didirikan oleh Kang Rahmat. Namun seberapa banyak peningkatan di bidang kesehatan bagi warga Kampung Kreatif Dago Pojok?

Selain kasus mengenai kamar mandi dan burung, kamar mandi yang dimiliki oleh warga Kampung Dago Pojok pun beberapa diantaranya dapat dinyatakan kurang layak dengan warna air yang keruh. Sampah pun masih terdapat di sela-sela rumah warga. Terdapat pula genangan-genangan air di sekitar jalan gang, yang memungkinkan berkembangnya jentik nyamuk dan penyakit lain akibat lingkungan yang kurang bersih.

Dengan jarak dari Kampung Dago Pojok ke Puskesmas Dago yang dapat ditempuh dengan lima menit, seharusnya warga dapat memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan haknya. Namun dari observasi yang sudah dilakukan, warga merasa adanya peningkatan kondisi ekonomi membuat mereka enggan pergi ke puskesmas.

Idealnya sebuah kampung tidak hanya keren berdasarkan peningkatan ekonomi dan pendidikannya tapi ada juga penyadaran terhadap kesehatan. Nah, apakah warga kampung Dago Pojok sudah sadar bahwa selama ini mereka hidup dalam kondisi lingkungan yang tidak sehat?

Setelah berupaya mencari anggaran pembiayaan untuk Puskesmas Kota Bandung, tidak ditemukan website resmi tuh. Yang ada hanyalah blog (puskesmasdago.blogspot.com) atas nama Puskesmas Dago yang keabsahannya dipertanyakan.

Malahan di laman petalokasi.org warga mengeluhkan pelayanan dan fasilitas Puskesmas Dago yang tidak layak. Seperti kotor, bau tidak sedap, gelap, lembab dan tidak terawat. Pasien Puskesmas pun sering membludak tetapi tempat duduk yang disediakan sangat kurang, ruangan pun sempit dan pemanggilan antrean tidak menggunakan speaker. Sangat tidak efisien.

Pantas saja warga Kampung Kreatif Dago tidak sadar akan lingkungan yang mereka tinggali. Wong keadaan Puskesmas saja masih seperti itu. Transparansi dana tidak ada, fasilitas kurang, sosialisasi? Jangan tanya! Padahal kesehatan adalah hal paling dasar yang mesti diperhatikan untuk setiap individu agar selalu siap dan mampu untuk menapaki hidup yang lebih baik lagi.

***

Catatan: Tulisan ini adalah posting ulang dari kiriman Gisna Maulida untuk Anti-Corruption Youth Camp 2017. Lihat tulisan lainnya dengan tagar #Anti-CorruptionYouthCamp.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

2 responses to “Burung dan Kamar Mandi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *