Indonesia dibangun dari keberagaman. Foto: Ilustrasi Toleransi Antar Agama
Indonesia dibangun dari keberagaman. Foto: Ilustrasi Toleransi Antar Agama

Kemana Perginya Toleransi?

Sudah hampir 72 tahun Indonesia merdeka, tapi apakah Negara ini benar–benar sudah merdeka? Atau justru kemerdekaan individu itu masih terjajah oleh para pemangku kekuasaan?

Suasana perpolitikan di Indonesia saat ini menjadi sorotan dunia. Citra keberagaman, toleransi dan demokrasi dalam berpendapat telah tercoreng. Banyak yang mempertanyakan apakah semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu hanya sebuah istilah belaka? Apakah Pancasila itu benar sebuah dasar Negara ataukah Pancasila hanyalah sebuah alat untuk pencitraan bagi sekelompok orang yang dengan mudahnya diputar balikkan sesuai kepentingan tertentu?

Toleransi yang dicanangkan para pendahulu hingga saat ini belum terlaksana. Indonesia berlarut-larut mengadaptasi budaya hukum masa kolonial, seperti antara lain masih banyaknya para pejabat menggunakan jabatan mereka sewenang–wenang. Tetapi tidak semua para pejabat bertindak begitu. Ada juga para pejabat bersih dan lurus namun sedikit diapresiasi karena kalah pamor dengan para pejabat pencitraan.

Pertanyaannya, mengeapa perdebatan berbau SARA akhir-akhir ini marak terjadi?. Sewaktu zaman dahulu ketika Indonesia masih disebut dengan istilah Hindia-Belanda, para pemangku kuasa menggunakan sistem perbedaan ras untuk mempermudah pengontrolan masyarakat. Waktu itu masyarakat dikelompokkan berdasarkan sukunya dan hidup dalam lingkungan atau kampung tertentu (seperti: Kampung Melayu, Kampung Jawa, Kampung Ambon, Kampung Cina atau pecinaan, Kampung Arab dan kampung-kampung lainnya).

Efek pengelompokan tersebut menimbulkan minimnya interaksi antar kelompok. Tujuan pemerintahan kolonial memisahkan dalam bentuk perkampungan-perkampungan agar tidak terjalin komunikasi dan akan lebih mudah mengontrol masyarakat dalam kelompok. Untuk semakin mempermudah mengatur masyarakat dalam perkampungan itu dipilihah penanggung jawab dari masing-masing perkampungan dengan istilah “kapten” yang fungsi utamanya penghubung antara masyarakat dan pemerintahan, serta penanggung jawab pelaksana perintah dari gubenur jendral.

Pada saat terjadi kerusuhan antar kampung dengan gubenur maka diturunkan masyarakat dari perkampungan lainnya untuk meredam kekacauan. Hal itu sangat efektif mengontrol masyarakat untuk menjalankan praktek politik divide at impera atau politik pecah belah. Tujuan politik ini tentu agar para pemangku masyarakat di perkampungan saling curiga satu sama lain.

Jadi kesimpulannya dalam pemerintahan zaman kolonial, pengelompokkan berdasarkan ras dan suku telah terjadi. Sayangnya, pengelompokan itu belum seutuhnya runtuh dari tatanan sosial masyarakat kita. Perbedaan cara pandang yang mengakar dan berabad, serta minimnya toleransi menjadi senjata ampuh membakar api kesalahpahaman.

Selain penjelasan tentang ras dan suku, ternyata agama juga berperan penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Setiap terjadi perang dan perebutan wilayah para penduduk di wilayah tersebut akan bertukar agama sesuai dengan pemangku kekuasaan setempat. Sistem tersebut terus berlangsung hingga kesultanan dan masih berlanjut di beberapa daerah pada masa kolonial.

Perubahan agama tentu akan berdampak terhadap perubahan gaya hidup. Hal itu dapat ditemukan berdasarkan catatan dalam karangan  kitab Mpu Tantular “Kakawi Sutasoma” pada kerjaan Majapahit (beragama Hindu) tentang agama Hindu dan Buddha. Berikut isi Kakawi Sutasoma pupuh 139, bait 5 yang menjadi semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

“Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,

Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,

Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,

Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.”

Terjemahannya antara lain:

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda,

Mereka memang berbeda, tapi bagaimanakah bisa dikenali?

Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal,

Terpecah belah itu, tapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Menurut saya hal penting yang dapat dipelajari dari Kakawi Sutasoma pupuh 139, bait 5 ini adalah agama memang berbeda tapi apapun agamanya itu adalah kesatuan (kepada yang Ilahi) dan kebenaran. Melalui Kakawi Sutasoma, kita diajarkan untuk saling bertoleransi antar umat beragama. Jadi secara garis besar dapat disimpulkan semenjak dahulu agama memang berperan terhadap masyarakat Indonesia. Agama menjadi kehilangan makna murninya ketika agama dipergunakan oleh para pemangku kepentingan secara tidak bertanggung jawab.

Untuk situasi saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa sejatinya keberagaman kita sedang diuji. Pihak -pihak yang menggunakan politik pecah belah dengan isu SARA memang terjadi, tapi apakah kita harus selalu tersulut dengan hal tersebut? Ataukah kita mau bersama-sama mengakui jika kita sudah terlalu egois untuk memenangkan ideologi pribadi?

Terakhir dengan rendah hati saya ingin mengutip ucapan Bapak Presiden Republik Indonesia yang pertama. Bapak Soekarno.

“Tuhan tidak merubah nasib sebuah bangsa sebelum bangsa itu merubah nasibnya.”

Sharing is caring!
Share on Facebook19Tweet about this on Twitter4Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *