Anak-anak menonton layar tancap. Foto: VisibleProject/RuangRupa
Anak-anak menonton layar tancap. Foto: VisibleProject/RuangRupa

Menancap Layar Tancap

Ruang Putar itu apa sih?

Ya, Ruang putar adalah tempat sebuah film atau seni pertunjukkan diputar atau dimainkan. Ruang putar atau teater bioskop saat ini memang sudah meluas dan terus berkembang.

Tempat-tempat ruang putar di Indonesia juga jumlahnya sudah ada tiga, yaitu: XXI, CGV Blitz, dan Cinemaxx. Hal tersebut tentu mempermudah perkembangan bioskop di Indonesia cukup pesat di akhir-akhir dasawarsa ini.

Bioskop yang jumlahnya semakin bertambah juga tentu didukung oleh perfilman Indonesia yang sedang meningkat di dunia Internasional. Film-film Indonesia yang pernah mengikuti atau ditayangkan di festival internasional, adalah: Serbuan Maut, The Act of Killing, The Look of Silence, cin(T)a, Tabula Rasa, Filosofi Kopi, A Copy of My Mind, dan masih banyak lagi. Namun hal ini tidaklah cukup untuk meningkatkan minat penonton untuk pergi dan menonton di bioskop.

Alasan pertama tentu karena kegiatan menonton film masih dianggap bukanlah hal penting dan hanya menghambur-hamburkan waktu serta uang. Inilah alasan pertama menurut saya mengapa orang Indonesia tidak memilih menonton di bioskop sebagai pilihan untuk mengisi waktunya. Harga tiket yang dianggap mahal –memang subjektif, namun dengan harga seperti sekarang– nominal tersebut dapat┬ádisubstitusikan dengan biaya bensin untuk beberapa hari, makan untuk 1 hari, hingga keperluan lainnya.

Film juga dianggap masih kurang baik kualitasnya di sisi cerita, makna, genre, gambar, hingga pesan yang tersirat dianggap hampir tidak ada. Hal tersebut membuat bioskop tidak ramai dan urung dijadikan tempat untuk menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga.

Kondisi tersebut juga terjadi karena judul-judul film yang disebutkan di atas, yang memiliki kualitas dan pesan yang baik tidak akan bertahan lama atau bahkan tidak tayang di Indonesia karena genre atau budget film tidak besar. Alhasil, film-film dengan biaya tinggi dengan kualitas kurang baik secara cerita, genre, dan pesan yang tersirat justru bertengger di bioskop Indonesia selama berminggu-minggu.

Alasan selanjutnya adalah pesatnya teknologi yang disalahgunakan, yaitu pembajakan. Pembajakan menjadi masalah paling dasar karena dinikmati seluruh lapisan orang di Indonesia. Pembajakan ini sudah meluas ketika internet berkembang pesat yaitu dengan munculnya situs-situs streaming film-film. Hal ini tentu membuat orang-orang tidak tertarik dengan bioskop atau bentuk lain dalam pemutaran film.

Dengan kondisi tersebut, seharusnya perusahaan-perusahaan bioskop atau rumah produksi film mengadakan penayangan awal dalam bentuk layar tancap sebagai alternatif. Layar tancap yang sudah tidak dilirik karena berbagai hal, akan dianggap sebagai sebuah inovasi dalam promosi atau program CSR (Corporate Social Responsibility).

Layar tancap sendiri sebenarnya memiliki sejarah panjang di Indonesia. Diawali sejak pada zaman Belanda, layar tancap menjadi tempat edukasi penyakit pes. Perkembangan pun terjadi ketika layar tancap berubah menjadi acara hajatan yang diselenggarakan oleh orang-orang menengah ke atas dengan maksud gengsi dan prestise.

Pemutaran layar tancap saat ini memang ditinggalkan karena pengaruh globalisasi dan minimnya anggapan bahwa layar tancap merupakan hal yang menyenangkan. Maka dari itu, inovasi pengadaan layar tancap yang dilakukan oleh perusahaan bioskop di Indonesia merupakan hal yang baik untuk keberlangsungan layar tancap dan tersebar luaskannya budaya positif dari menonton.

Sharing is caring!
Share on Facebook6Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page
Bimasakti Aryo

Tentang Bimasakti Aryo

Sarjana Ilmu Politik dari Jurusan Hubungan Internasional Universitas Diponegoro Semarang. Saat ini bekerja sebagai marketing communication di perusahaan Travel Agent, mantan ketua bidang eksternal Pecinta Alam Pagar Alam 2013-2014, sebuah UKM dibawah Fakultas ISIP Undip yang berkonsentrasi di bidang pelestarian alam dan mountaineering. Baca tulisan lain dari penulis ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *