Industri perfilman Indonesia sedang menggeliat dan siap terbang lebih tinggi. Mampukah? Ilustrasi: OneHeadLightInk
Industri perfilman Indonesia sedang menggeliat dan siap terbang lebih tinggi. Mampukah? Ilustrasi: OneHeadLightInk

Eksistensi Menonton untuk Ditonton

Dewasa ini, kemunculan berbagai judul film dari luar maupun dalam negeri dengan beragam genre semakin menghiasi dunia perfilman. Di Indonesia geliat ini semakin terasa. Banyak sineas terus berlomba meningkatkan kualitas filmnya secara kreativitas maupun teknologi dalam menghasilkan suatu film. Menjamurnya sekolah-sekolah yang fokus pada produksi film (film-making) juga menjadi hal yang menarik untuk diperhatikan.

Perkembangan film di Indonesia dapat dilihat dari munculnya genre film yang lebih beragam, termasuk dengan mengikuti perkembangan budaya anak muda. Hal tersebut baru-baru ini dapat dilihat dengan kemunculan film yang mencetak rekor-rekor baru. Hal tersebut merupakan sesuatu yang dirindukan, karena seperti yang telihat dalam perjalanan film karya sineas Indonesia telah lama tidak mendapat sambutan hangat dari penontonnya sendiri.

Meningkatkan industri film di Indonesia menyimpan berbagai tantangan. Persepsi masyarakat yang ‘alergi’ terhadap film Indonesia, kekurangan kualitas SDM dan teknologi perfilman, kurangnya perhatian pemerintah terhadap industri perfilman dan persaingan dengan film-film luar menjadi sekelumit cerita dari carut-marutnya perfilman Indonesia.

Di lain hal, eksistensi industri perfilman tidak dapat dipisahkan dari kehadiran penonton terlepas dari usaha meningkatan kualitas dari film. Kehadiran penonton akan mendorong terjadinya perlombaan dalam meningkatkan kualitas dari film yang terkadang berbanding terbalik dengan usaha meningkatkan kualitas film yang tidak diikuti dengan meningkatnya minat penonton.

Dari segi ekonomi tentu dengan semakin banyak penonton akan menambah keuntungan perusahaan produksi film yang bersangkutan. Berkaca dari negara India, dimana kehadiran Bollywood dapat menandingi industri film terbesar Hollywood, faktor yang mendukung kuatnya Bollywood ialah penonton.

Dari salah satu artikel yang pernah saya baca, penduduk India dikenal sangat menghargai film buatan dalam negeri dan pergi ke bioskop walau menonton film yang sama setelah berulang-ulang kali. Hal tersebut juga dapat dilihat dari tidak hanya adanya bioskop yang berkelas seperti di mal-mal tetapi juga masih berjalannya bioskop sederhana atau bioskop tua.

Masyarakat India akan menyediakan waktunya untuk menonton film India yang tentu saja berdurasi lebih lama dibanding film biasanya. Persepsi masyarakat India bangga akan film buatan mereka lantaran kaya akan unsur-unsur budaya mereka. Berbeda dengan persepsi masyarakat Indonesia yang cenderung memandang film Indonesia tidak bermutu dan lebih baik menunggu diputar di televisi.

Populasi Indonesia yang besar, seharusnya dapat menjadi pasar yang besar untuk pertumbuhan industri film. Budaya menonton di bioskop juga tak seperti di India. Persepsi menonton di bioskop yang tercipta adalah tempat untuk orang kaya, kalau murah berarti tempat mesum dan bukan tempat yang baik untuk anak kecil dan keluarga.

Tetapi dengan berkembangnya media sosial, persepsi tersebut dapat terkikis karena kemudahan informasi tentang suatu film dan berubahnya gaya hidup, bioskop mendapat nilai yang lebih positif. Bila digambarkan produser film sebagai pabrik juga perusahaan, penonton merupakan konsumen dan bioskop merupakan tokonya. Disinilah tentu peran pemerintah diperlukan untuk mengatur regulasinya.

Eksistensi dari film dalam menarik penonton juga dilihat dari konten filmnya. Materi cerita apa yang ingin dijual kepada penonton. Saat ini mulai banyak film-film Indonesia yang bercerita mengenai isu-isu sosial politik, termasuk isu anti-korupsi. Film “Sebelum Pagi Terulang Kembali”, “K vs K” maupun “Asa di Kekait Daye” merupakan contoh beberapa film yang membahas mengenai isu anti-korupsi. Banyaknya festival film anti-korupsi, baik yang digagas KPK maupun masyarakat sipil juga semakin menunjukan bahwa film dapat digunakan sebagai alat kampanye anti-korupsi.

Namun dalam menjaga eksistensinya, film Indonesia juga dihadapkan pada masuknya film-film luar yang lebih menarik. Banyak pendapat tentang film Indonesia yang bernada negatif seperti film horor menjual kevulgaran, film romantis tidak lebih baik dari drama FTV, kualitas pemain yang hanya menjual paras wajah, film tidak bernilai, dan berbagai alasan lainnya. Seakan tenggelam dengan kedatangan film-film luar yang menghadirkan cerita lebih menarik dengan kualitas pemain dan cerita serta teknologi lebih baik.

Mengubah persepsi tersebut tentu bukanlah hal mudah. Perkembangan geliat film Indonesia yang terjadi saat ini, diharapkan dapat meningkatkan minat menonton dari penonton untuk film Indonesia. Dan untuk mendukung perkembangan tersebut, dukungan dari SDM dan teknologi diperlukan.

Sharing is caring!
Share on Facebook1Tweet about this on Twitter2Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *