Pilkada 2017 diwarnai banyak dinamika. Sentimen identitas diyakini masih banyak digunakan banyak calon sebagai cara meraih kemenangan. Foto: Warta.co
Pilkada 2017 diwarnai banyak dinamika. Sentimen identitas diyakini masih banyak digunakan banyak calon sebagai cara meraih kemenangan. Foto: Warta.co

Menguatnya Sentimen Anti-Pendatang di Ibukota

Kurang dari tiga hari lagi akan diselenggarakan pemilihan gubenur, salah satunya adalah Jakarta. Saat ini sudah merupakan masa tenang yang artinya kegiatan kampanye sudah tidak boleh dilakukan, tetapi kampanye di media sosial tetap dilakukan oleh para pendukung ataupun simpatisan.

Jika kita melihat proses selama masa kampanye terjadi gejolak perpolitikan yang tegang dan panas. Isu-isu sensitif diangkat untuk menyerang pasangan calon tertentu. Tidak hanya itu para pembesar yang tergabung di partai tertentu juga ikut turun tangan langsung mendukung para calonnya. Ini sesuatu yang tidak biasa selama masa kampanye.

Tiga pasangan calon dengan berbagai macam latar belakang menjadikan perpolitikan di Jakarta semakin menarik. Jika kita mengikuti berita-berita beberapa bulan terakhir kita akan mengetahui bahwa persoalan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) tetap menjadi agenda utama dalam penyerangan. Agama yang berbeda dijadikan alasan untuk penyerangan. Salah satu kasus yang viral dan mendapatkan banyak perhatian dari masyarakat baik yang berada di Jakarta ataupun di luar Jakarta adalah pasangan calon Gubenur nomor dua.

Salah satu paslon dianggap melecehkan agama tertentu terkait kunjungan kerja di kepulauan seribu. Jika dilihat video tersebut secara utuh saya pribadi tidak menemukan bentuk pelecehan yang dimaksudkan, tetapi video penuhnya tidak mendapat perhatian penuh. Permasalahan semakin meruncing ketika salah satu oknum memotong video tersebut hanya di bagian tertentu, sehingga informasi yang didapatkan hanya sepotong.

Informasi yang tidak lengkap ini yang tersebar luas dan menjadikan perpolitikan menjadi menarik. Oknum-oknum tersebut jeli menggunakan momentum untuk eksis di publik. Pernyataan yang dianggap melecehkan agama tersebut tersulut dan tersebar luas dimasyarakat menjadikan luka antar ras terbuka kembali.

Kondisi ini tepat untuk memunculkan kembali sentimen lama terhadap keturunan Cina. Hal ini menjadikan sebagian masyarakat keturunan yang sudah melupakan kejadian lama kembali teringat akan ketakutan masa lampau. Perpolitikan menjadi semakin menarik bagi para dalangnya. Tidak hanya benturan agama yang dimainkan, tetapi isu suku dan ras yang berbedapun dijadikan alasan untuk menggoncangkan ke-Bhinneka-an.

Momen yang pas untuk unjuk gigi. Ideologi lama tentang negara majemuk dan terpaku pada satu agama mayoritas, kembali dicuatkan menimbulkan kewaspadaan lebih terhadap masyarakat minoritas. Tidak sampai disana, peran pembesar yang menyuarakan pendapatnya melalui media sosial juga diliput. Pembesar yang menstrategikan kampanye dengan memainkan peran sebagai tertindas, tetapi masyarakat juga lebih lihai dan kritis dalam menanggapi postingan tersebut, walaupun banyak juga yang termakan umpan sang pembesar.

Membela sang pembesar seakan-akan sang pembesar memang benar. Peran tertindas yang dimainkan memang menarik, tetapi beliau mungkin melupakan ancaman yang datang dari kubu lainnya. Kubu yang pintar melihat peluang dan memanfaatkan kondisi politik yang tidak stabil untuk menarik simpatisan dengan memainkan umpan yang sama, yaitu kesamaan agama.

Dengan penampilannya yang sangat agamis dan latar belakang pasangan calon tersebut. Mereka menarik simpatisan pasangan calon lain untuk mendukung mereka. Tentu ini langkah yang cerdik dengan sengketa antar masyarakat pendukung pasangan calon sebelumnya. Mereka beralih ke pasangan yang terlihat berlatar belakang agama yang lebih kuat.

Agama pada akhirnya terus digunakan sebagai komoditas politik.

Sharing is caring!
Share on Facebook54Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Tentang Maria Lievonne

Mar panggil saja saya begitu. Seorang pendatang dari Padang yang ikut menumpang hidup di Ibu Kota. Pekerja biasa yang tertarik akan isu ketidakadilan terhadap wanita sewaktu masa penjajahan sampai sekarang, SARA (termasuk yang menyangkut Mei 1998) dan lingkungan. Baca tulisan lain dari penulis ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *