Agus, Ahok dan Anies . Ilustrasi: Liputan6
Agus, Ahok dan Anies . Ilustrasi: Liputan6

Refleksi Pilkada DKI Jakarta

Ajang pemilihan kepala daerah sudah ramai dengungnya sejak 6 bulan terakhir. Kenapa bisa dibilang ajang, layaknya panggung akademi dangdut di salah satu stasiun tv? Ya, karena Pilkada tahun 2017 ini, khususnya yang menjadi sorotan adalah Pilkada DKI Jakarta memang menyuguhkan “aksi panggung” yang menuai banyak komentar sana sini. Bedanya, panggung untuk Pilkada ini tersebar luas di seluruh wilayah DKI Jakarta, berisi jutaan mata yang siap menyambut.

Ramainya panggung Pilkada DKI Jakarta ini bukan tanpa sebab. Keramaian ini bahkan lebih dramatis menurut saya dibandingkan dengan Pemilu Presiden 3 tahun silam. Kebetulan saya memang bukan warga asli Jakarta, saya tidak ber-KTP Jakarta, saya hanya “menumpang” mengadu nasib sama seperti beberapa khalayak ramai lainnya yang memenuhi ibukota.

Namun saya tidak mungkin menutup mata, menutup telinga ketika melihat, membaca, dan mendengar berbagai pemberitaan media cetak dan media elektronik yang memang sedang fokus tentang hal-hal yang terkait Pilkada Jakarta. Masing-masing pasangan calon, sejak sebelum masa kampanye digelar pun punya banyak “alur drama” nya sendiri-sendiri untuk tampil di panggung Jakarta.

Mari sedikit merunut ke belakang berbagai cerita dari para calon pemimpin DKI Jakarta yang saat ini sedang bersaing menuju kursi DKI 1.

  1. Agus Harimurti Yudhoyono – Sylviana Murni

Sebelum masuk menjadi daftar calon gubernur, nama AHY dulunya dikenal sebagai anak sulung dari mantan presiden Indonesia 2 periode, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pamor Agus kala itu dikenal sebagai sosok prajurit TNI yang sangat berprestasi, mengikuti jejak militer ayahnya dimana keduanya adalah lulusan terbaik Akademi Militer Magelang.

Agus juga menjadi salah satu dari pasukan Garuda yang dikirim ke Lebanon untuk misi perdamaian dan kemanusiaan. Jabatan terakhir Agus adalah sebagai Komandan Yonif 203 Arya Kemuning Tangerang Banten. Dari segala prestasi gemilang yang diraih Agus selama berkarir di militer, memang bayang-bayang sosok SBY sangat melekat padanya.

Namun hal itu tak menjadikan pesona dan wibawa Agus berkurang, bahkan komentar dan harapan positif sering terlontar dari masyarakat semoga nantinya Agus bisa menjadi RI-1. Saat itu, tak ada yang berpikiran bahwa Agus akan tertarik terjun ke politik seperti ayah dan adiknya Ibas.

Hingga akhirnya masyarakat dikejutkan dengan pemberitaan tentang nama Agus Yudhoyono yang tiba-tiba muncul sebagai bakal calon gubernur DKI Jakarta dari Partai Demokrat. Banyak yang mempertanyakan mengapa sampai nama Agus Yudhoyono yang diangkat, mengingat karir di militernya sedang bagus-bagusnya dan dirasa belum matang jika harus terjun di politik saat itu juga.

Ya, sangat disayangkan memang, ketika keputusan final yang akhirnya dikonfirmasi oleh Agus sendiri menyatakan bahwa dia akan mundur (pensiun dini) dari TNI AD dan akan maju dalam pemilihan calon gubernur DKI Jakarta. Tak elak, pengaruh SBY yang juga merupakan Ketua Partai Demokrat pun dirasa menjadi pendorong utama mundurnya Agus dari militer.

SBY disebut-sebut “mengorbankan” karir militer anaknya demi mempertahankan dinasti Yudhoyono dan menyelamatkan nama baik Partai Demokrat yang sudah terlanjur punya citra negatif karena banyak kadernya yang tersangkut kasus korupsi. Termasuk nama anak kedua SBY, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) yang sempat disebut dalam persidangan kasus korupsi Anas Urbaningrum.

Rumor adanya paksaan oleh SBY pun sudah sempat disanggah oleh Agus. Menurutnya, keputusan menjadi calon gubernur DKI Jakarta adalah murni karena panggilan hatinya sendiri.

Tak lama setelah keputusan tersebut, munculah nama Sylviana Murni yang akan berdampingan dengan AHY untuk menjadi calon wakil gubermur. Jujur saat itu saya tidak mengenal siapakah Sylviana Murni ini sebenarnya. Karena memang selama ini jarang atau mungkin tidak ada media yang memberitakan tentang Sylviana sebelumnya.

Sampai akhirnya saya mengetahui bahwa ternyata Sylviana adalah Deputi Gubernur bidang Pariwisata dan Kebudayaan. Artinya Sylviana ini adalah anak buah Ahok, saingannya di bursa calon gubernur. Sekilas ketika melihat Sylviana di televisi pertama kali, kesan pertama dari saya adalah ya beliau ini ibu-ibu pejabat banget, tapi cukup tegas kelihatannya.

Saya sempat bertanya kenapa Sylviana yang dipilih sebagai wakil dari AHY. Mungkin Agus dirasa butuh seorang pembimbing yang cukup berpengalaman di lingkungan Pemprov Jakarta, sehingga bisa ada gambaran yang cukup jelas untuk membuat visi misi dan program kerja. Pasangan Agus-Sylvi pertama kali tampil menjelaskan visi misinya ketika debat resmi KPUD pertama, setelah 2 kali absen pada debat yang diselenggarakan stasiun televisi swasta.

Pada debat pertama, sosok Sylvi belum dominan, hanya Agus yang terlihat melalukan tugas untuk beraksi di panggung debat. Setelah debat kedua dan ketiga, barulah terlihat bagaimana karakter Sylviana. Dari situ, penilaian saya berubah drastis. Bu Sylvi terkesan kurang menghargai 2 pasangan calon lain dengan sibuk sendiri mencatat sesuatu ketika pertanyaan maupun pernyataan mengarah ke dirinya.

Belum lagi gimik-gimik lain dari Sylviana yang juga sempat heboh ketika beliau terlihat mengacungkan jempol ke bawah usai berdebat dengan Ahok. Sesama pasangan calon gubernur saja tak dihargai, apalagi nanti ketika masyarakat Jakarta mengeluh, apakah akan didengar? Jawaban-jawaban dari beliau yang seringkali kurang nyambung dengan topik pertanyaan membuat saya semakin tidak respect.

Terlihat sekali bahwa kinerja Sylvdi pemprov DKI sungguh dipertanyakan dengan cara beliau berargumen dalam panggung debat. Apalagi ternyata belakangan Sylvi tersandung kasus korupsi untuk beberapa proyek terdahulu. Walaupun belum ada putusan untuk kasus tersebut, namun masyarakat sudah terlanjur memberikan citra negatif untuk Sylvi.

Dari situ, pamor Agus sebagai calon gubernur seakan semakin menurun. Pencapaian visi misi yang masih tampak seperti sekedar hafalan dari bundelan kertas, program kerja yang kurang logis, memberikan masing-masing RW dana 1M untuk dikelola dan yang paling mencolok adalah pasangan Agus-Sylvi seakan sangat anti dengan penggusuran. Seakan keduanya pasti akan mampu membenahi Jakarta dengan program rumah terapung dan sistem menggeser pemukiman, bukan menggusur.

Sebenarnya secara kepribadian Agus, masyarakat masih menaruh simpati karena tata cara berbicaranya yang santun, namun lugas. Namun perilaku orang-orang di sekitarnya, membuat pengaruh besar terhadap penilaian Agus di mata masyarakat. Mulai dari sikap sang calon wakilnya, sikap istrinya dalam proses kampanye di sosial media dan caranya menanggapi kritikan netizen, sampai sikap sang ayah SBY terkait penyadapan dirinya.

Paparan program kerja yang disampaikan Agus juga seakan menguap karena akhirnya banyak yang melihat dan mengaitkannya dengan masa kepemimpinan SBY yang dekat sekali dengan kasus korupsi dan beberapa kebijakannya yang bertolak belakang dengan visi misi Agus.

Menutup mata dengan hasil lembaga survey yang memenangkan Agus-Sylvi, karena pada kenyataannya komentar-komentar dari masyarakat yang menilai seluruhnya seakan memojokkan pasangan ini. Mungkinkah sebenarnya Agus salah pilih pasangan? Ataukah memang sang mantan prajurit sebenernya belum siap terjun ke politik?

  1. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) – Djarot Saiful Hidayat

Berbicara soal sang petahana Ahok, memang banyak sekali hal-hal menarik tentang dirinya. Bagaimana tidak, sejak Ahok menjadi wakil gubermur Jakarta mendampingi Jokowi sudah banyak sekali pemberitaan yang menimbulkan kontroversi terkait dirinya dan kinerjanya di pemprov DKI.

Mantan bupati Belitung Timur ini memang awalnya dikenal sebagai sosok yang tempramental. Beliau seringkali marah-marah kepada bawahannya ketika menemukan sesuatu yang tidak sesuai prosedur seharusnya. Sering juga Ahok meluap emosinya jika ditanya tentang pihak-pihak yang berusaha melawannya kala itu.

Pada awalnya, masyarakat DKI pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya cukup ‘kaget’ dengan gaya kepemimpinan Ahok yang seperti itu. Beberapa komentar miring pun sering bermunculan mengkritik sikap tempramental Ahok. Namun lambat laun masyarakat seperti sudah biasa dengan gaya kepemimpinan itu, komentar mengkritik berubah menjadi komentar mendukung untuk mewujudkan Jakarta yang lebih baik.

Melepaskan diri dari Partai Gerindra, pada awalnya Ahok memilih maju sebagai calon gubernur DKI Jakarta dengan status calon independen, tidak dibawah partai manapun. Ahok kala itu didukung oleh gerakan relawan yang menamai dirinya Teman Ahok. Namun konsolidasi politik akhirnya membawa nama Ahok untuk diusung oleh partai PDI Perjuangan.

Langkah Ahok menuju DKI 1 periode 2017-2022 terbilang terjal. Belum selesai dengan kasus Rumah Sakit Sumber Waras, Ahok pun kembali tersangkut kasus hukum. Pidato kampanye nya di Kepulauan Seribu menuai kontroversi, karena dirinya dianggap menistakan agama Islam karena dalam pidatonya Ahok menyinggung soal surat Al-Maidah ayat 51. Video kampanye Ahok menjadi viral setelah diunggah oleh seorang mantan jurnalis yang sekarang menjadi dosen di salah satu kampus swasta.

Beragam protes di media sosial dan aksi demo terkait video Ahok tersebut tersebar di berbagai penjuru. Mulai dari demo-demo kecil di sekitaran kantor Gubernur Jakarta, hingga puncaknya yaitu tanggal 4 November 2016 dimana terjadi demonstrasi besar yang menuntut proses hukum untuk Ahok.

Demonstrasi yang dijadwalkan dan disepakati berakhir pukul 18.00, ternyata berbuntut ricuh pada malam harinya. Oknum-oknum yang merasa tidak puas dengan demo hari itu, menolak dibubarkan dan mencoba melakukan perlawanan kepada pihak kepolisian. Gas air mata pun terpaksa dilepaskan. Beberapa fasilitas di sekitar Istana Negara dan Monas terlihat rusak setelah aksi demo, beberapa anggota polisi dan peserta demo pun menjadi korban luka.

Salah seorang yang menjadi sorotan karena sangat vokal dalam kasus Ahok ini adalah pemimpin FPI Rizieq Shihab. Di belakangnya, banyak pula politikus yang terlibat yang entah memang murni atas dasar membela agama atau sekalian menumpang untuk menggulingkan Ahok. Ya, musuh politik Ahok tidaklah sedikit, mulai dari preman Tanah Abang sampai “preman” elite yang tak ingin lapaknya diusik oleh Ahok. Menanggapi tuntutan dari aksi tersebut, pihak kepolisian pun berjanji untuk memproses kasus video Ahok sesuai prosedur dan perundang-undangan yang berlaku. Ahok pun diperiksa tim penyidik kepolisian dan statusnya kini sudah menjadi tersangka.

Di tengah proses persidangan yang telah digelar lebih dari 10 kali, Ahok-Djarot masih melakukan tugasnya untuk berkampanye menyapa warga Jakarta. Berbeda dengan Ahok, sang wakil Djarot Saiful memiliki pembawaan yang lebih kalem. Gaya bicaranya pun khas orang Jawa karena memang beliau adalah mantan walikota Blitar.

Beberapa kali kampanye Ahok-Djarot ditolak oleh oknum warga yang merasa tidak suka. Namun banyak pula warga yang masih ingin bertemu dengan keduanya dan menyampaikan keluh kesahnya. Apalagi Ahok, yang sangat tersohor di kalangan ibu-ibu masih banyak menerima permintaan berfoto ketika melakukan kampanye. Pamor Ahok seakan tak berubah meskipun tersandung kasus hukum.

Di sisi lain, gaya kepemimpinan Ahok yang awalnya tempramen semakin kesini semakin berkurang. Ahok terlihat lebih santai menanggapi komentar dan kritikan pedas yang mengarah ke dirinya. Masyarakat juga telah melihat bagaimana aksi Ahok-Djarot di semua panggung debat. Terlihat pasangan ini memang lebih siap dan lebih konkret dalam menyampaikan visi misi dan program kerja, karena posisi mereka yang masih hangat di kursi DKI 1 dan DKI 2.

Tak banyak mengumbar janji, Ahok menyatakan bahwa dirinya belum selesai untuk membangun Jakarta. Beberapa hasil yang sudah tercapai dan yang akan dicapai dijelaskan secara terbuka dan jelas. Yang paling mencolok adalah keberhasilan Ahok mengubah kawasan Kalijodo yang dulunya adalah markas prostisusi, wajah Kalijodo sekarang berubah menjadi kawasan terbuka hijau yang memiliki fasilitas internasional.

Keberhasilan Ahok yang lain adalah menata kawasan Monas dan memperbaiki layanan Transjakarta. Saya sendiri merasakan perubahan yang signifikan di sisi layanan Transjakarta. Sekarang sudah tak ada lagi armada bus abu-abu bobrok yang tak layak jalan, serta waktu tunggu yang jauh lebih cepat dibandingkan dulu. Semua prosesnya bukan tanpa halang rintang, penggusuran yang dilakukan Ahok menuai kecaman, dipindahkannya lapak PKL Monas pun tak luput dari protes. Tapi sekali lagi itulah cara Ahok untuk membuktikan tujuannya menjadikan Jakarta lebih baik dan tertata.

Dibalik sosok Ahok yang tegas, ada wanita yang selalu mendukung kinerja nya. Siapa lagi kalau bukan sang istri Veronica Tan. Beliau ini baru-baru ini muncul menjadi narasumber di beberapa televisi, dimana sebelumnya ibu Veronica lebih terlihat diam mendampingi sang suami di acara-acara tertentu.

Dibalik sosoknya yang pendiam, beliau paham betul akan tugas dan perannya sebagai istri gubernur DKI Jakarta. Tak banyak diliput media, selama ini Veronica membantu Ahok dalam program kesejahteraan keluarga dan juga memberikan masukan serta dukungan kepada suaminya untuk terus maju dan menjadikan semua hal yang menimpa Ahok sebagai pembelajaran.

Beberapa survey menyatakan elektabilitas Ahok-Djarot cenderung menurun, namun pada kenyataannya yang tak suka dengan Ahok apakah memang lebih banyak dibanding pendukung Ahok? Tak ada yang tau persis.

  1. Anies Baswedan – Sandiaga Uno

Nama Anies Baswedan pertama kali dikenal ketika beliau berhasil membuat gerakan di bidang pendidikan dengan nama Indonesia Mengajar. Saat itu, Anies menjabat sebagai rektor di Universitas Paramadina. Gerakan Indonesia Mengajar berhasil mengumpulkan relawan-relawan dari seluruh Indonesia yang kemudian disebar di berbagai pelosok negeri untuk mengajar.

Sosoknya yang santun dan tak terlibat kasus hukum membuat Anies dipercaya sebagai Menteri Pendidikan di era Jokowi. Di masa kepemimpinan Anies, beberapa perubahan besar dilakukan. Salah satunya yang memang selama ini menjadi perdebatan adalah soal Ujian Nasional. Di tahun 2015, nilai Ujian Nasional tak lagi menjadi satu-satunya penentu kelulusan siswa, namun dilihat juga dari nilai ujian yang dilaksanakan oleh sekolah masing-masing dimana standart nilainya ditentukan oleh sekolah itu sendiri.

Saya kurang mengetahui apakah kebijakan ini memang efektif mengurangi tingkat ketidaklulusan siswa, namun kebijakan ini memang dirasa cukup adil karena standar nilai yang ditentukan pemerintah tidak bisa dipukul rata ke semua sekolah, bisa jadi ada sekolah-sekolah yang memang kualitasnya belum mencukupi. Program mengantar anak di hari pertama sekolah juga merupakan salah satu program baru yang digagas Anies. Ini bertujuan untuk menjalin interaksi yang baik antara guru, orang tua dan murid sehingga pengawasan terhadap anak diharapkan bisa berjalan dengan optimal.

Namun, kebijakan-kebijakan Anies sepertinya tak membuat Presiden Joko Widodo puas. Anies Baswedan harus rela posisinya digantikan ketika Presiden melakukan reshuffle kabinet jilid II. Anies digantikan oleh rekan seprofesi juga, yaitu Muhajir Effendi yang merupakan mantan rektor Universitas Muhamadiyah Malang. Alasan yang mencuat saat itu adalah karena Anies kurang cepat dalam melakukan gebrakan di bidang pendidikan.

Langkah Anies tak berhenti sampai disitu, dirinya kemudian maju dalam bursa pencalonan gubernur DKI yang diusung oleh PKS. Kapabilitas Anies selama ini membuat masyarakat cukup yakin dengan cara kerja Anies, sehingga ketika beliau mencalonkan diri sebagai gubernur pun mendapatkan sambutan yang cukup positif.

Anies Baswedan tentu tak maju sendiri. Ada nama Sandiaga Uno, yang awalnya ingin mencalonkan diri sebagai calon gubernur namun kemudian berkolaborasi bersama Anies untuk menjadi calon wakil gubernur. Nama Sandiaga Uno (Sandi) pertama kali saya dengar ketika beliau mengisi acara kewirausahaan. Sandi adalah seorang bussinessman sukses yang telah mendirikan beberapa perusahaan besar, salah satunya adalah PT. Saratoga Investama Sedaya.

Beliau juga menjabat sebagai Ketua Komite Tetap Bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) sejak 2004. Berangkat dari latar belakang pasangan calon nomor 3 ini, tentu saja program kerja yang mereka usung salah satu nya adalah tentang pendidikan dan kewirausahaan. Program andalannya adalah OK OCE, One Kecamatan One Centre of Entrepreneurship yang bertujuan untuk menghasilkan lebih banyak wirausaha baru di Jakarta.

Hal yang menarik program OK OCE saat ini telah berjalan, dan tercatat sudah sekitar 5000 peserta yang mendaftar. Tentu ini menjadi catatan baik untuk pasangan ini, karena terbukti program tersebut tak hanya diangkat untuk modal berkampanye, tapi memang benar-benar direalisasikan. Pasangan Anies-Sandi iniĀ  menurut saya termasuk minim pemberitaan buruk. Aksi mereka di panggung debat pun terlihat kompak dan saling bekerja sama satu sama lain untuk memberikan tanggapan dan paparannya sesuai dengan analisa data yang mereka dapat.

Apakah citra positif ini dapat membawa mereka ke kursi kemenangan? Belum ada yang tahu.

***

Hari ini, 15 Februari 2016 nasib ketiga pasangan calon gubernur Jakarta ditentukan. Antusiasme warga Jakarta untuk pergi ke TPS terlihat meningkat. Seakan tak mau memiliki pemimpin yang “salah” kali ini semangat tersebut rupanya menjadi salah satu motivasi para pemilih.

Berharap tak ada lagi kekisruhan di ibukota seperti sebelum-sebelumnya, kampanye #PilkadaDamai cukup membanjiri sosial media hari ini. Siapapun pemimpin yang terpilih nantinya, semoga bisa menjalankan amanah seluruh warga Jakarta dengan tanggung jawab dan menjadikan Jakarta lebih baik dari sebelumnya.

Sharing is caring!
Share on Facebook4Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page
Dewi Rokhmah Pyriana

Tentang Dewi Rokhmah Pyriana

Telah lulus dari jurusan Teknik Informatika Universitas Brawijaya sejak 4 tahun lalu yang memiliki pengalaman kerja sebagai Software Quality Assurance di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Memiliki passion di bidang penulisan, dan pernah menjadi Pemimpin Redaksi di organisasi pers mahasiswa tingkat fakultas saat duduk di bangku kuliah. Tertarik dengan isu-isu hangat yang sedang terjadi dan mengamati penilaian dari masyarakat. Baca tulisan lain dari penulis ini

One response to “Refleksi Pilkada DKI Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *