Pilkada Serentak 2017. Ilustrasi: Wordpress
Pilkada Serentak 2017. Ilustrasi: Wordpress

Sebuah Pesan untuk Calon Pemimpin Daerah

Satu pertanyaan besar yang selalu diri saya perdebatkan ketika ada pemilihin kepala; baik itu kepala instansi, kepala daerah, atau kepala pemerintahan negara Indonesia ini adalah apa yang membuat tokoh-tokoh itu begitu menggebu-gebu, begitu ambisius untuk menjadi seorang pemimpin—karena bukankah dengan memimpin, itu artinya ia memiliki beban tanggung jawab yang luar biasa besarnya?

Karena kelak, ketika waktu di dunia sudah selesai, jabatan yang ia miliki akan dipertanggungjawabkan; apakah ia menggunakan jabatannya untuk kepentingan dan keuntungannya sendiri kah? Apakah ia membuat perubahan yang baik selama masa jabatannya? Apakah ia justru menyalahgunakan jabatannya itu? Apakah masyarakat menjadi sejahtera atau sebaliknya? Dan lain-lain.

Kemudian saya mulai mengobservasi melalui kasus-kasus yang menjangkit para mantan pemimpin kita, terutama mengenai korupsi. Menurut saya korupsi tidak melulu soal uang—melainkan moral. Korupsi moral lebih buruk ketimbang korupsi-korupsi lain; karena semuanya mengakar pada satu hal.

Saya rasa, moralitas dan tingkat idealis ketika menjadi seorang pemimpin akan terkikis seiring waktu berjalan. Entah itu tuntutan, konflik kepentingan, ego, atau sekedar gelap mata—semua hal seolah-olah dijustifikasi. Pada titik ini, saya mulai berpikir bahwa jabatan adalah tirani bagi si pemangku jabatan itu sendiri.

Mengerikan bukan? Sesuatu yang seharusnya menjadi amanah dan tanggung jawab, berubah menjadi belenggu dan bumerang bagi orang itu sendiri.

Jabatan, kalau tidak dipegang oleh sosok yang pro kepada masyarakat dan secara tulus peduli pada kesejahteraan masyarakat, maka tidak akan ada gunanya jabatan itu. Pemangku jabatan hanya akan memanfaatkan jabatannya untuk kepentingannya sendiri, dan menomorsekiankan kepentingan masyarakat; padahal aspirasi masyarakat adalah hal paling penting bagi seorang kepala.

Untuk apa menjadi kepala, kalau ia tidak bisa memimpin masyarakatnya dengan bijak dan baik? Maka, hakikat sebagai pemimpin itu sendiri menjadi hilang. Suara yang harus didengar bagi seluruh kepala daerah maupun kepala pemerintahan adalah suara rakyat; suara milik mereka yang dulu secara sukarela memberikan hak pilihnya.

Terlepas dari itu, saya juga ingin menekankan mengenai moralitas; bahwasannya itu adalah esensi paling penting dari seorang pemimpin. Ia harus menjunjung tinggi moralitas dan transparansi. Saya yakin, pemimpin yang memiliki moralitas tinggi akan menganggap jabatan yang ia pangku sebagai amanah dan tanggung jawab; dan bukannya sebagai tirani bagi dirinya sendiri yang pada akhirnya hanya akan menjadi buah simalakama.

Saya percaya, Indonesia masih memiliki masa depan yang baik jika kita, masyarakat juga mau membuka mata dan tidak terkelabui oleh politik yang kejam.

Tulisan ini bermaksud untuk mengubah perspektif akan jabatan—bahwa pada dasarnya, jabatan bukanlah sebuah hal yang mewah sehingga perlu diraih dengan segala cara; bahwa jabatan, sekali lagi, adalah tanggung jawab dan amanah.

Bagi para calon kepala, jangan umbar janji, jangan umbar uang. Kami, masyarakat, tidak butuh itu. Berikan kami program-program yang realistis, namun cerdas dan menjanjikan masa depan yang lebih baik. Berikan kami alasan untuk memberikan mandat jabatan itu pada kalian bukan karena hiburan yang diberikan pada kampanye-kampanye, melainkan karena kami melihat ketulusan dan kejujuran dari diri kalian.

Berlomba-lombalah untuk menomorsatukan kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat.

Ingat; tanpa kami, kalian bukan siapa-siapa.