Fenomenan Fitsa Hats yang sempat viral di media sosial. Ilustrasi:
Fenomenan Fitsa Hats yang sempat viral di media sosial. Ilustrasi: Wowkeren

Dari ‘Fitsa Hats’ sampai ‘Lebaran Kuda’

Propaganda politik di Indonesia sudah mencapai tahap darurat. Bagaimana tidak, saat ini setiap orang dapat menciptakan, menyebarkan, dan sekaligus menjadi korban dari propaganda.

Parahnya lagi propaganda politik yang sedang terjadi memisahkan rakyat ke dalam dua golongan yang saling dipertentangkan dan mempertentangkan. Media sosial (medsos) telah mengaburkan batas-batas antara propagandis selaku subjek dan masyarakat sebagai objek sasaran, serta pesan propaganda itu sendiri.

Momentum pemilukada serentak yang akan dilaksanakan bulan Febuari 2017 sudah diramaikan sejak akhir tahun 2016 dengan“Defamatory Propaganda” terhadap pasangan bakal calon petahana pemilukada DKI Jakarta, yang bahkan hingga ke Presiden RI. Teknik ini menempatkan DKI 1 dan juga RI 1 sebagai musuh bersama. Usaha lain adalah dengan menawarkan figur alternatif pemimpin untuk dipertentangkan head to head dengan pimpinan saat ini.

Humor dalam berbagai bentuknya sudah mengakar dalam budaya masyarakat Indonesia, propagandis negeri ini juga ikut-ikutan memanfaatkan humor. Humor adalah ekspresi kreativitas, logika pada humor mengandung kontradiksi dan agresi.

Kontradiksi dalam hal ini menyebabkan orang tertawa, melepas ketegangan, meski begitu sisi agresi adalah sisi yang dapat dimanfaatkan oleh propagandis dalam menyampaikan pesan.Hal ini dilakukan setidaknya untuk memecah kejenuhan atau kebuntuan karena meningkatnya eskalasi propaganda politik dalam bentuk yang tidak menyenangkan.

Teknik propaganda dipadupadankan dengan humor menggunakan seperti teknik propaganda umpatan (name calling) dan humor pelesetan (imitation and parody). Sebagai contoh propagandis mengganti panggilan “Ahok” menjadi “Ahoax” untuk mensejajarkan figur Basuki Tjahaja Purnama dengan fenomena berita bohong Hoax yang sedang marak di dunia belakanga nini.

Permainan bahasa dalam bidang Fonologi yang memanfaatkan kesamaan bunyi memungkinkan para propagandis mengawinkan humor pelesetan dalam propaganda mereka. Pengguna media sosial menjadi propagandis, seperti dalam kasus salah ketik “fitsa hats” yang dalam waktu singkat menjadi viral, adalah bentuk nyata pemanfaatan materi humor dalam propaganda politik yang bergulir begitu saja tanpa desain komunikasi massa yang terstruktur.

Media sosial yang meleburkan subjek-objek juga memiliki mekanisme mematahkan propaganda, atau bahkan menggunakan humor untuk mentransformasi pesan propaganda menjadi materi propaganda serangan balik. Dalam kasus air mineral yang memiliki kemasan mirip minuman keras, pesan propagandanya jelas, melekatkan figur tukang mabuk-mabukan pada salah seorang tokohpolitik.

Namun salah identifikasi air mineral menjadi minuman keras memiliki daya ledak humor luar biasa, ledekan demi ledekan menjadi viral menggunakan humor salah identifikasi tersebut untuk mensimbolkan irasional atau bisa dibilang “kampungan” bagi kelompok yang menyebarkannya.

Perangurat syaraf propaganda politik yang menggunakan humor sebagai alat menyerang dan bertahan bahkan menyerang balik juga tergambar dalam kasus “LebaranKuda”. Materi lawak yang pernah dibawakan oleh almarhum Benyamin S. bersama Ida Royani dalam lirik lagu “Siapa Punya”, yaitu ungkapan “Ntar Lebaran Monyet!” yang berarti tidak akan pernah, dipelesetkan dengan simbol pertemuan politik sambil naik kuda menjadi “Lebaran Kuda” yang masih mengandung arti yang sama. Hal ini mengundang gelak tawa semua pihak, berbagai meme pun keluar dan dalam waktu singkat menjadi viral di media sosial.

Humor politik “Lebaran Kuda” yang mengandung ambiguitas karena sebagai bahan menyerang humor tersebut juga menjadi sasaran tembak yang optimal. Salah satu pasangan calon dalam pemilukada DKI Jakarta memilih untuk membawakan “Stand Up Comedy” pada acara “Rosi dan Kandidat Pemimpin Jakarta” di Kompas TV, Kamis 12 Desember 2016.

Dalam konten humornya terselip “Lebaran Kuda” yang kali ini jelas digunakan untuk menyerang balik. Sifat humor yang fleksibel dan memiliki makna serta praktek yang sangat luas membuat propagandis mudah saja menggunakan humor sebagai jalan propaganda.

Terdapat juga pihak lain yang menggunakan humor sebagai sarana menangkal propaganda, wujudnya di media sosial seperti “Kostum” (komik strip untuk umum) ataupun “Kementerian Humor Indonesia” dan banyak lag iaktor-aktor serupa.

Pihak ini mendapatkan simpati daripengguna media sosial yang jenuh terjebak dalam perang propagada politik. Jenis humor yang ditawarkan adalah humor yang mencerahkan, yang mengajak pengguna media sosial mentertawakan dirinya sendiri.

Begitulah humor ditengah propaganda politik tetap tidak kehilangan jatidirinya sebagai sarana melepaskan ketegangan (katarsis) dan mempertahankan kewarasan. Propaganda politik tanpa humor menjadi telanjang, terlalu keras dan menyakitkan. Humor politik (satire) juga bukan hal menyenangkan, namun seni dalam humor menjadi semacam pelindung bagi pengguna sosial media ditengah konflik terbuka antara aktor politik.