Distorsi dari Ahmad Band. Foto: Youtube
Distorsi dari Ahmad Band. Foto: Youtube

Distorsi

Menyambut pilkada 2017 yang semakin dekat menimbulkan reaksi berbeda-beda setiap harinya. Terkadang muncul optimisme memandang masa depan. Di waktu lainnya, yang nampak hanya rasa pesimis terhadap apa yang akan terjadi kelak setelah para calon terpilih. Pada hari lain bahkan suara-suara kepedulian mulai hilang digantikan sikap ‘bodo amat¬†terhadap pemilihan.

Rasa-rasanya untuk semua sikap ini tidak ada yang bisa disalahkan. Optimis, pesimis bahkan ketidakpedulian adalah hal yang sah-sah saja terjadi dalam diri manusia. Manusia adalah makhluk yang dinamis dan tidak dapat diprediksi.

Dunia politik Indonesia sering kali menghadiahkan berita tidak sedap bagi masyarakat Indonesia. Korupsi, kolusi dan nepotisme adalah barang lumrah yang biasa ditemui sehari-harinya. Bahkan beberapa waktu yang lalu seorang bupati perempuan tertangkap operasi tangkap tangan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Uniknya sang suami juga tertangkap korupsi di masa lalu. Benar-benar merupakan partner-in-crime. Cerita perpolitikan yang diisi oleh dinasti politik mungkin baru mencuat saat kasus Ratu Atut muncul kepermukaan. Namun bisa jadi di daerah lain dinasti politik telah tumbuh subur.

Membicarakan politik yang dipenuhi kasus korupsi membawa sebuah lagu lama menarik untuk dijadikan lagu favorit.

Sebuah tembang berjudul “Distorsi” dari Ahmad Band. Band ini sendiri dipimpin oleh Ahmad Dhani yang pada waktu bersamaan menahkodai Dewa 19. Beberapa lagu yang dibawakan band ini beraromakan politik dan salah satunya berjudul Distorsi. Berikut adalah lirik dari lagu tersebut:

“Maunya Selalu Memberantas Kemiskinan

Tapi Ada Yang Selalu Kuras Uang Rakyat

Ada Yang Sok Aksi Buka Mulut Protas Protes

Tapi Sayang Mulutnya Selalu Beraroma Alkohol

Reff:

Yang Muda Mabuk, Yang Tua Korup 2x

Korup Terus, Mabuk Terus

Jayalah Negeri Ini, Jayalah Negeri Ini

(Merdeka…!!)

Maunya Selalu Menegakkan Keadilan

Tapi Masih Saja Ada Sisa Hukum Rimba

Ada Yang Coba – Coba Sadarkan Penguasa

Tapi Sayang Yang Coba Sadarkan

Sadar Aja Nggak Pernah

Setiap Hari Mabuk….

Ngoceh Soal Politik

Setiap Hari Korup

Ngoceh Soal Krisis Ekonomi

Perut Kekenyangan Bahas Soal Kelaparan

Kapitalis Sejati Malah Ngomongin Soal Keadilan Sosial

Selalu Monopoli!

Ngoceh Soal Pemerataan

Setiap Hari Tucau

Ngoceh Soal Kebobrokan”

Lirik lagu ini menggambarkan suatu kondisi kehidupan di suatu negara. Tidak disebutkan secara spesifik apakah ini terjadi di Indonesia atau tempat lain. Namun hal itu tidak menjadi penghalang untuk menikmati lagu ini. Kritik tegas terdapat pada bagian refrain dimana disebutkan kelakuan para orang tua yang suka korupsi sedangkan pemudanya suka mabuk.

Ketika generasi tua terlalu lama berkuasa dan tidak ada yang menghentikan mereka dari perilaku korup lantaran para pemudanya sedang mabuk-mabukan maka hal yang bisa dilakukan boleh jadi hanyalah menantikan kehancuran.

Bait demi bait mengandung kritik yang mencekam. Sebuah hal yang sangat tidak menyenangkan andai benar-benar terjadi. Orang-orang kekenyangan yang menyeru untuk menghentikan kelaparan, kapitalis sejati yang membicarakan keadilan sosial dan orang-orang mabuk membicarakan politik.

Semoga hal-hal buruk di atas tidak pernah terjadi di negeri ini.

Menjelang pilkada 2017 yang semakin dekat, anak-anak muda dihadapkan dengan media yang senantiasa memberikan kabar demi kabar yang silih berganti.

Kecerdasan tentunya diperlukan untuk bersikap sehingga tidak terjadi kesalahan yang tidak diinginkan. Lagu tersebut adalah pesan. Kita harus berinstrospeksi diri.

Jangan-jangan di saat anak muda meneriakkan kalimat anti korupsi justru anak muda inilah yang kelak akan meneruskan estafet korupsi di negeri ini. Pilkada 2017 adalah lahan bagi para senior. Anak-anak muda harus belajar dari pemilihan ini. Baik-buruknya harus diketahui semua supaya yang baik bisa diteruskan dan yang buruk bisa ditinggalkan.

Sharing is caring!
Share on Facebook2Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *