Banyak cara anak muda terlibat dalam partisipasi politik, salah satunya adalah dengan mendukung calon dalam Pilkada. Foto: Okezone
Banyak cara anak muda terlibat dalam partisipasi politik, salah satunya adalah dengan mendukung calon dalam Pilkada. Foto: Okezone

Anak Muda sebagai ‘Agent of Change’ dalam Pilkada

Tanggal 15 Februari 2017, menurut BMKG dalam Prakiraan Cuacanya, mayoritas seluruh wilayah di Indonesia saat ini akan mengalami berawan dan hujan, entah itu hujan ringan, hujan sedang, ataupun hujan angin, yang penting hujan. Cocok lah untuk jemuran yang tidak kunjung kering-kering.

Tetapi tidak tahu mengapa prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG ini rasa-rasanya tidak seperti realita yang ada, apalagi di kawasan Ibukota Jakarta dan beberapa daerah yang akan melakukan “hajatan besar”. Sebelum hujan turun terasa panas, hujan sedang turun panas, hujan berhenti turun tetap panas, nampaknya hujan tak cukup untuk mendinginkan Kota Jakarta dan 100 daerah lainnya di Indonesia. Kok bisa ya?

Akhirnya setelah timbul pertanyaan diatas maka munculah sebuah jawaban, ya, mengapa 101 daerah tersebut khususnya Jakarta ketika musim hujan sepert ini kok malah “panas”?. Panas suasanya maksudnya hehe.

Seperti yang kita ketahui bersama, setiap 5 tahun sekali, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) rutin dilaksanakan, setiap 5 tahun sekali pula Pemilu juga dilaksanakan. Tetapi apa yang berbeda saat Pilkada serentak saat ini, dan apa hubungannya pula dengan “panas” yang saya sebutkan di atas tadi?.

Sebelumnya, pada tulisan ini dikhususkan untuk membahas Pilkada, yang menjadi hot issue saat ini. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) merupakan mekanisme rekrutmen politik dimana dilakukan penyeleksian rakyat terhadap tokoh-tokoh yang mencalonkan diri sebagai Kepala Daerah, baik Gubernur/Wakil Gubernur maupun Bupati dan Wakil Bupati atau Walikota dan Wakil Walikota.

Kepala Daerah adalah jabatan politik atau jabatan publik yang bertugas memimpin birokrasi menggerakkan jalannya roda pemerintahan. Fungsi-fungsi pemerintahan terbagi menjadi perlindungan, pelayanan publik, dan pembangunan. Kepala Daerah menjalankan fungsi pengambilan kebijakan atas ketiga fungsi pemerintahan tersebut.

Dalam konteks struktur kekuasaan, Kepala Daerah adalah kepala eksekutif di daerah. Karena posisi yang diperjuangkan dalam Pilkada sangat strategis, maka terjadilah persaingan yang sangat ketat antar calon, partai politik yang mengusung, para pendukung dan simpatisan.

Nah karena masa-masa kampanye telah usai, rasanya penting untuk melihat perspektif para pemilihnya, terutama anak muda. Princeton mendefinisikan kata anak muda (youth) dalam kamus Webstersnya sebagai “the time of life between childhood and maturity; early maturity; the state of being young or immature or inexperienced; the freshness and vitality characteristic of a young person”. Sedangkan dalam kerangka usia, WHO menggolongkan usia 10–24 tahun sebagai young people, sedangkan remaja atau adolescence dalam golongan usia 10 -19 tahun.

Anak muda juga dapat dicirikan sebagai individu yang selalu ingin mengeksplor dirinya, yang bebas berekspresi, idealis, kritis, tingkat emosi yang tinggi namun juga kadang labil, serta kontrol dari diri sendiri yang bisa dikatakan kurang.

Pemuda adalah pelopor perubahan, pemuda adalah penerus harapan bangsa, pemuda penggerak peradaban dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang dicetuskan untuk membangkitkan semangat para pemuda. Anak muda identik dengan idealisme dan semangatnya yang membara dan terus diteriakkan teruntuk para anak muda saat ini yang mulai loyo.

Anak muda sebagai pelopor perubahan, nampaknya berhubungan dengan kondisi perpolitikan Indonesia saat ini, dimana kata orang-orang tahun 2017 seperti “Pilkada rasa Pilpres”. Para mantan penguasa turun dan ikut berkampanye bersama para kader dan calon yang diusung dari masing-masing yang partai politik. Bukan hanya mantan para penguasa, ada juga tim sukses para simpatisan dan pendukung.

Eh tapi diantara para simpatisan dan pendukung tersebut ada segelintir anak-anak muda yang keren ikut mendukung para calon-calon ini, entah itu ikut pada saat kampanye bersama, atau bahkan para pemuda-pemuda ini memviralkan calon yang didukungnya lewat media sosial –yah istilahnya kampanye medsos lah, daripada mereka capek-capek panas-panasan ikut blusukan ya mending bermedsos ria asal ada smartphone, paket data ataupun wifi, yang penting kan berusaha agar calon pemimpinnya menang.

Sebagai pelopor perubahan, menurut saya dalam hal ini anak muda melakukan aktifitas yang bertujuan untuk mengubah suatu keadaan yang menurut mereka dan orang banyak kurang baik menjadi lebih baik. Sebagai contoh di Kota A tingkat kemiskinan dan tingkat anak putus sekolah akibat kemiskinan berada di nomor 2 di seluruh Indonesia. Sekelompok anak muda yang sadar akan hal ini berkolaborasi bersama untuk mengurangi kemiskinan dan mengurangi jumlah pelajar yang putus sekolah, melalui pemberdayaan masyarakat ataupun ibu-ibu untuk bewirausaha. Dalam hal ini sekelompok pemuda ini sudah bisa dikatakan sebagai pelopor perubahan.

Terlebih jika anak-anak muda tersebut sudah berdiskusi dengan tokoh penting di daerah mereka dan telah mendapatkan perhatian. Ide-ide tersebut dapat diteruskan jika tokoh tersebut terpilih menjadi pejabat daerah.

Menurut Data Pemilih Sementara Pilkada serentak tahun 2016, jumlah pemilih pemula paling tinggi ada di Provinsi Sumatra Utara dengan total 4,03%. Dengan cara sederhana yakni memilih dalam Pilkada sudah merupakan usaha membuat perubahan walaupun secara tidak langsung.

Jika para pemuda hanya sibuk mencaci dan menghina dengan keadaan yang ada serta hanya memimpikan keadaan yang baik-baik saja sedangkan dirinya tak melakukan apa-apa, rugilah seseorang tersebut dilabeli sebagai anak muda. Sudah saatnya anak muda saat ini bukan hanya melek dengan isu artis masa kini, berita semacam harga baju di toko ini lebih mahal, ataupun angan-angan kosong setelah melihat drama-drama penuh air mata.

Wahai anak muda, ayo sama-sama kritis dengan persoalan yang ada, gali keinginan untuk melek dengan politik, hilangkan mindset “politik kan, kotor, ga kita banget, ngapain ngurusin yang kayak gitu”. Anak muda harus bisa terus aktif dalam mengawal dan berpartisipasi dalam agenda besar ini.

Referensi:

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Tentang Ninda Annisa

Seorang mahasiswi biasa yang sedang menikmati bagaimana berdinamika di kampus biru. Mahasiswi yang mengklaim dirinya salah jurusan yang tetap memiliki visi menebar manfaat dan inspirasi. Sangat menyukai sinar matahari sebagai sesuatu yang mengembalikan keceriannya Baca tulisan lain dari penulis ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *