Abdullah Nasih Ulwan. Ilustrasi: Posadbeton
Abdullah Nasih Ulwan. Ilustrasi: Posadbeton

Anak Muda: Dari Abdullah Ulwan sampai Pilkada Serentak

Anak muda adalah segolongan orang yang amat istimewa.

Bagaimana tidak, mereka diberi kelebihan dan keutamaan yang membedakan mereka dengan golongan yang lain baik orang tua maupun anak-anak. Di satu sisi mereka telah memiliki cukup energi baik fisik, mental, maupun intelektual yang cukup untuk bekerja dan mengusahakan perbaikan. Di sisi lain, mereka masih relatif belum terkontaminasi dengan kepentingan politik tertentu yang menjamin obyektifitas dalam memandang persoalan dan independensi dalam bersikap.

Abdullah Nashih Ulwan, seorang tokoh pergerakan Mesir, menyebutkan bahwa para anak muda adalah pilar kebangkitan, rahasia kekuatan, sumber kemuliaan, pengibar panji dan kebanggaan, serta pelopor gerombolan yang menegakkan kejayaan sebuah bangsa.

Keistimewaan ini benar-benar dibuktikan dalam seluruh perjalanan sejarah dimana di setiap generasi, para pemudalah pihak yang mampu mendorong perubahan ke arah yang lebih baik. Dalam sejarah Islam, tercatat Muhammad Al-Fatih, seorang sultan dari dinasti Ottoman, memimpin tidak kurang dari 250 ribu pasukan dan berhasil membebaskan Konstantinopel yang pada masa itu merupakan ibukota Romawi Bizantium di usianya masih masih amat belia, 21 tahun.

Sejarah Indonesia tidak kalah heroiknya. Di awal kemerdekaan, Sayuti Melik dan para pemuda lainnya berhasil mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dua puluh tahun kemudian, ketika Bung Karno dinilai sudah harus berhenti karena kedekatannya dengan PKI, serta melambungnya harga-harga, para pemuda kembali menyuarakan Tritura yang akhirnya menurunkan beliau. Tiga puluh tahun setelahnya, Suharto beserta para kroninya yang dinilai amat korup digulingkan lagi-lagi oleh para anak-anak muda dengan semangat reformasi.

Kini, ketika bangsa Indonesia dihadapkan dengan helatan besar yaitu Pilkada Serentak, dimana masa depan daerah-daerah ditentukan di dalamnya, seyogyanya anak muda kembali memerankan fungsi sejarahnya.

Dengan energi yang dimiliki, para pemuda bisa membangun komunitas di daerah masing-masing hingga level yang terkecil. Kemudian bersinergi antar komunitas-komunitas tersebut yang berhimpun dalam komunitas lain pada level yang lebih tinggi lagi. Dengan sinergi-sinergi yang berjenjang tersebut, tentunya akan menghasilkan energi yang lebih besar lagi sehingga dapat memberikan pengaruh yang lebih besar pula.

Hendaknya komunitas anak muda melakukan kajian mendalam untuk menemukan sosok pemimpin lokal yang mampu membaca zaman sehingga secepat mungkin memajukan daerah. Tentu kita mendamba-dambakan sosok seperti Ridwan Kamil di Bandung, Tri Rishmaharini di Surabaya, Azwar Anas di Banyuwangi, dan pemimpin-pemimpin daerah berprestasi lainnya.

Mereka hanya bisa terpilih dengan proses pilkada yang benar-benar sukses dengan LUBER dan JURDIL sebagai tolak ukur. Tanpa suksesnya pilkada, harapan lahirnya sosok-sosok terbaik akan sirna karena sang pemenang hanyalah mereka yang berada dalam oligarkhi kekuasaan maupun yang disokong oleh modal besar.

Maka dari itu, mari optimalkan energi pemuda untuk menyukseskan gelaran pilkada.

Sharing is caring!
Share on Facebook11Tweet about this on Twitter4Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Tentang Usamah Rahman

Mahasiswa semester akhir jurusan Hukum Ekonomi Syariah UNIDA Gontor. Demisioner Ketua DEMA UNIDA Gontor 2015-2016, sekarang aktif dalam Forum of Integrity (FORIN), sebuah UKM di bawah Fakultas Syariah UNIDA Gontor yang berkonsentrasi dalam penanaman nilai-nilai integritas dan anti-korupsi di Gontor. Baca tulisan lain dari penulis ini

One response to “Anak Muda: Dari Abdullah Ulwan sampai Pilkada Serentak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *