Komunitas Kemijen merupakan upaya pelibatan masyarakat Kemijen untuik melawan korupsi desa. Foto: Ilustrasi: Peta Semarang
Komunitas Kemijen merupakan upaya pelibatan masyarakat Kemijen untuik melawan korupsi desa. Foto: Ilustrasi: Peta Semarang

Melawan Korupsi dari Semarang Timur

Tulisan ini adalah salah satu bukti keberhasilan penerapan demokrasi deliberatif yang terjadi di Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang dalam mengawal sistem pemerintahan tingkat Desa oleh Komunitas Kemijen yang disajikan secara ringkas dan jelas. Tulisan ini penting dan menarik untuk dikaji sebab, pertama Komunitas Kemijen berhasil menerapkan demokrasi deliberatif dan kedua Komunitas Kemijan dapat memutus tindak korupsi yang dilakukan oleh pegawai pemerintah desa.

Memahami Demokrasi Deliberatif

Demokrasi deliberatif dapat diartikan sebagai musyawarah, omong-omong, berunding, memberikan nasihat satu sama yang lain, berbincang-bincang, dan pertarungan wacana. Demokrasi ini juga merupakan usaha-usaha untuk memperdalam tingkat demokrasi yang sudah ada dengan cara memperkuat jaringan masyarakat sipil (civil society).

Ruang publik tersebut tidak hanya dimaknai sebagai institusi atau organisasi yang sah, melainkan adalah komunikasi antar masyarakat itu sendiri yang bersifat otonom, tanpa intervensi dari pemerintah. Upaya mewujudkan jaringan masyarakat yang kuat ini diperlukan prasyarat komunikasi sebagai berikut:

Pertama, keikutsertaan di dalam sebuah adu diskursus hanya mungkin terjadi jika orang menggunakan bahasa yang sama dan secara konsisten mematuhi aturan-aturan logis dan semantis dari bahasa tersebut. Kedua, kesamaan dalam memperoleh kesempatan dalam berdiskursus hanya dapat terwujud  jika kedua belah pihak sama berlaku bertanggungjawab, sejajar dan tidak menganggap proses ini hanya sebagai sarana belaka. Ketiga harus ada aturan-aturan yang dipatuhi secara umum untuk mengamankan proses diskursus dari tekanan dan diskriminasi[1].

Untuk itu penulis akan menguraikan pertanyaan: Bagaimana demokrasi deliberatif dapat berjalan di Indonesia sebagai upaya memutus praktek korupsi?

Mengenal Komunitas Kemijen

Komunitas Kemijen adalah sebuah perkumpulan warga di kelurahan Kemijen, kota Semarang, Jawa Tengah. Komunitas Kemijen dibentuk oleh warga setempat. Komunitas ini sering disebut dengan Komjen yang dideklarasikan pada 8 Oktober 2010 — tetapi komunitas ini sudah beraktivitas sejak tahun 1999. Masyarakat yang tergabung menjadi anggota Komjen memiliki kepedulian bersama untuk membawa kelurahan Kemijen menjadi lebih baik bagi masyarakatnya.

Komjen bergerak untuk mendorong transparansi dan melakukan kontrol terhadap proses pembangunan yang dapat dilakukan oleh semua orang; tidak terkecuali orang-orang “kecil”. Sebagai contoh, warga Kemijen yang berada di daerah pesisir utara kota Semarang menemukan adanya penyimpangan proyek-proyek yang masuk di kampung mereka dan menghilangkan pungutan liar yang dilakukan oleh pihak kelurahan dengan dalil Infaq.

“Pada 2009 Komjen mengadakan sidang rakyat atas Kepala Lurah yang melakukan tindak pidana korupsi. Kepala Lurah tersebut akhirnya dimutasi dan saat ini Kelurahan Kemijen dipimpin oleh Plt[3]”.

Cerita warga Kemijen dan perlawanan terhadap korupsi baru dimulai[2].

Guna mendapatkan data yang lebih valid maka dilakukan observasi dan wawancara yang menenkankan pada siapa itu Komjen dan siapa yang berperan didalamnya. Hasil dari wawancara tersebut, anggota Komjen bernama Sukatno menuturkan bahwa Komjen beranggotakan 22 orang yang tersebar dari 11 RW. Latar belakang pendidikan anggota Komjen juga bermacam-macam. Ada yang lulusan SD, SMP, SMA dan hanya satu lulusan S1.

Hal ini tentu saja sangat menarik melihat banyak anggota justru belum sempat merasakan pendidikan tinggi, namun memiliki pola pikir yang krtisi dan tetap independen dalam melawan penyelewengan jabatan. Anggota-anggota Komjen tak kenal lelah untuk berusaha mencapai tujuan-tujuannya. Komjen dalam gerakannya bermitra dengan LSM Forum Cinta Bangsa, LBH Semarang, Pattiro Semarang, Hysteria dan lainnya, serta dengan perguruan tinggi di Semarang seperti UNDIP, UNISULA dan UNIKA.

Arah Gerakan Komunitas Kemijen

Dalam menerapkan demokrasi deliberatif, Komunitas Kemijen menggunakan mekanisme musyawarah bersama pembangunan desa (Musrembang). Dalam kegiatan ini, Komjen terus mengkritisi kebijakan pemerintah desa yang merupakan pihak yang memiliki kewenangan dalam memutuskan kebijakan. Gejolak sosial politik yang terjadi tentu saja tidak dapat dihindari, maka dari itu Komjen juga berafiliasi dengan beberapa pihak seperti akademisi, NGO/LSM serta media massa sehingga berhasil membentuk ruang publik menyediakan sumber daya politik yang berpihak kepada masyarakat Kemijen.

Kegiatan seperti inilah yang dapat meningkatkan efektivitas politik dan meningkatkan kesadaran masyarakat (citizenship). Sebuah demokrasi tidak akan terwujud tanpa adanya kesadaran dari masyarakat yang merupakan pelaku demokrasi itu sendiri. Secara eksplisit, civil society bukan sekedar arena diluar negara yang berusaha untuk mengartikulasikan kepentingan mereka. Arah gerak Komjen kemudian hadir untuk membantu masyarakat.

Komjen sadar bahwa demokratisasi dapat terwujud apabila warga mau membuka diri untuk terlibat dalam berkomunikasi dan bergaul dengan warga lainnya. Semakin intensif pergaulan antarwarga terjadi, maka peluang terjadinya kegiatan kolektif yang positif dapat terbuka lebih luas. Alhasil Komjen berhasil memberikan kontribusi di bidang infrastruktur desa serta mengawal proyek pembangunan di kelurahan serta berhasil membentuk karang taruna di bidang sosial.

Saat ini Komjen menjadi pemrakarsa utama yang mendobrak kinerja pemerintah kelurahan untuk mewujudkan good government. Hal yang lebih menarik, Bapak Sukatno (salah seorang anggota Komjen) sekarang diminta oleh Kelurahan untuk bekerja disana selama 4 bulan ini. Melalui kesempatan ini, Sukatno mengaku berhasil menghilangkan pungutan liar dengan ‘dalil Infaq seikhlasnya’ dengan cara kotak Infaq tersebut disingkirkan atas izin Bapak Lurah dan juga tegas menyatakan bahwa pelayanan kelurahan gratis.

Indonesia Masa Depan

Dalam konteks politik Indonesia, setelah jatuhnya rezim Orde Baru proses demokratisasi selalu ditekankan salah satunya melalui peran civil society. Hal ini terjadi karena setelah runtuhnya rezim Soeharto banyak partai-partai lahir. Kemunculan partai baru ditengah-tengah pergolakan politik nasional diharapkan mampu memberikan perubahan melalui pendidikan politik yang menjadi fungsi utama partai.

Komunitas Kemijen telah membuka mata kita bahwa konsistensi yang berpegang pada ideologi di medan politik bukan hal yang mustahil. Berlandaskan pada pemikiran Jurgen Habermas tentang demokrasi deliberatif, hal pertama yang dilakukan untuk membangun kesadaran politik adalah melalui program pendidikan politik dan sosialisasi politik yang dibangun dengan preferensi politik dan dampingan intelektual organik yang diperankan oleh mahasiswa, akademisi, NGO/LSM. Hal ini bertujuan untuk membentuk pola pikir masyarakat di bidang sosial dan politik bahwa kebijakan publik harus berjangkar pada kepentingan rakyat.

Pada akhirnya, kaum terpelajar harus keluar dari kamar belajar dan biarkan mereka melangkah keluar menceburkan diri kedalam organisasi revolusioner yang aktif. Perjuangan melawan korupsi membutuhkan pemimpin yang revolusioner, cerdas, tangkas, sabar dan waspada politik. Melalui pemikiran Jurgen Habermas dan Antonio Gramsci, rakyat bisa menciptakan kelas intelektualnya sendiri dan menemukan penunjuk jalan dalam memberantas korupsi.

 

Referensi:

[1]Hardiman Francisco Budi.2009. Demokrasi Deliberatif. Yogyakarta : Kansius, hlm. 145

[2]http://petasmg.com/index.php/reports/view/1077 Pada tanggal 12 Desember 2016

[3] Transparansi E-Newsletter TI-Indonesia Edisi VII – Volume VIII – November 2011, hlm. 9

Sharing is caring!
Share on Facebook13Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Tentang Limmar Alvi

Seorang jiwa muda yang memiliki mimpi menjadi pioneer pejuang anti korupsi sejak dalam pikiran maupun dalam tindakan karena permasalahan bangsa tidak dapat selesai hanya dengan bicara tanpa dasar dan kontrubusi nyata. Baca tulisan lain dari penulis ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *