Banyak cara melawan korupsi, tapi tidak sedikit yang justru juga membutuhkan korupsi. Ilustrasi: Toonpol
Banyak cara melawan korupsi, tapi tidak sedikit yang justru juga membutuhkan korupsi. Ilustrasi: Toonpol

Bahkan Memberantas Korupsi Butuh Korupsi

Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan sebuah konsep pembangunan yang dicanangkan pada resolusi PBB tahun 2015 silam. SDGs memiliki 17 tujuan dengan 169 target. SDGs diharapkan mampu mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk dapat berperan dalam pembangunan, baik muda atau tua, laki-laki atau perempuan, bahkan kaum minoritas. Peran aktif seluruh lapisan masyarakat diharapkan dapat membantu dalam menekan korupsi di negara kita, Indonesia. Mampukah?

SDGs dengan prinsip “Tidak Ada yang Ditinggalkan”, diharapkan mampu menembus kepentingan seluruh kalangan. SDGs akan mempertimbangkan pembangunan yang mampu mengakomodir semua kepentingan. Kaum perempuan yang juga merupakan tujuan dari SDGs dalam kesetaraan gender, akan memiliki hak yang sama dalam bidang pendidikan, politik dan hukum, sehingga perempuan akan lebih ‘nyaring’ dalam membahas isu-isu korupsi.

SDGs akan mengajak banyak kalangan untuk bersama-sama turut dalam pembangunan berkelanjutan yang senantiasa memperhatikan kelestarian alam. Relawan-relawan lingkungan akan secara aktif turut memantau pembangunan yang mengancam kelestarian alam, masyarakat akan menuntut suatu transparansi dari industri atau perusahaan.

Secara pribadi, pendapat saya cukup pesimis apakah SDGs mampu menekan korupsi di Indonesia. Hal ini karena mengingat begitu mudahnya seseorang melakukan tindakan korupsi, sehingga korupsi dipandang sebagai sesuatu hal lazim di negara kita. Dari korupsi skala kecil hingga skala besar, seolah hanya seperti isu ‘sekadar lewat’ di tayangan televisi, dan kemudian akan dilupakan seiring berjalannya waktu. Korupsi di Indonesia sudah merambah ke berbagai sektor dan dapat dilakukan oleh karyawan biasa hingga pejabat sekelas gubernur.

Saya pribadi memandang bahwa korupsi terjadi karena dibiasakan oleh orang-orang bermental lemah. Sulit rasanya menemukan sosok idealis yang begitu menentang keras korupsi. Orang-orang seperti ini saya yakin pasti ada, hanya saja keberadaannya mungkin hanya sepersekian dari jumlah penduduk Indonesia sendiri.

Pengalaman saya terkait korupsi pernah terjadi ketika saya bekerja di sebuah perusahaan, dimana rekan saya melakukan penggelapan dana hingga ratusan juta rupiah. Bahkan saya tak percaya bahwa beliau melakukan korupsi, karena terlihat dari gaya hidup dan kesehariannya yang begitu sederhana dan helpful.

Kasus ini kemudian naik hingga ke pengadilan, dengan maksud memberikan efek jera terhadap pelaku korupsi. Setelah proses hampir satu tahun akhirnya rekan saya dijatuhi hukuman penjara selama 1 tahun 9 bulan. Hal yang membuat saya semakin pesimis bahwa korupsi akan mudah diberantas adalah kenyataan bahwa untuk mengurus kasus korupsi pun dibutuhkan biaya yang tidak sedikit dan cenderung “undertable money” alias uang tanpa tanda terima dan ini pun termasuk dalam golongan korupsi.

Memprihatinkan, di negara kita untuk membela sebuah kebenaran pun sangat mahal.

Saya cenderung berpikir, selama korupsi masih rentan terjadi maka tujuan-tujuan dalam SDGs akan sulit tercapai. Dibutuhkan peran aktif dari semua kalangan untuk meminimalisir terjadinya korupsi. Dibutuhkan pribadi-pribadi idealis yang memerangi korupsi, dan itu dapat terjadi jika sedari dini seseorang dididik sedemikian rupa untuk menjadi seorang dengan mental kuat melawan korupsi.

Hal ini bisa dilakukan dari pendidikan dalam skala kecil (keluarga), pendidikan formal, hingga pendidikan bermasyarakat. Ada pola pikir yang terbangun yakni jika sesuatu dilakukan oleh banyak orang maka itu adalah hal yang lumrah, terlepas dari baik atau benar, tepat atau tidak tepatnya perbuatan itu. Jika korupsi semakin banyak dilakukan, maka masyarakat akan semakin menganggap korupsi lumrah dilakukan. Sangat jarang orang yang berani melakukan sesuatu di luar kebiasaan semua orang, seperti halnya dengan tidak melakukan korupsi.

Saat semua orang melakukan korupsi, berani kah kita untuk tidak melakukan korupsi? Atau justru kita terlalu takut dianggap ‘berbeda?

Sharing is caring!
Share on Facebook14Tweet about this on Twitter2Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *