Seorang memegang gadget-nya
Ilustrasi foto: Pradipa PR/Youth Proactive.

Cyber Army, Mesin Propaganda yang Tak Kasat Mata

Selama setahun lebih Fiona Gabriella tak menampakkan dirinya di Twitter. Sebelum menghilang, cuitan terakhirnya tertanggal 27 Januari 2015. “Berpelukan dapat menghangatkan dan melindungi jantung serta efektif untuk mengurangi stres,” begitu bunyinya. Linimasanya memang diwarnai informasi ringan.

Fiona baru kembali aktif di Twitter di penghujung akhir tahun ini–dengan militansi baru. Salah satu cuitan awal Fiona adalah retweet foto Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang dipeluk kakak angkatnya. Lain waktu, Fiona mencuit unggahan video pendek dengan narasi, “Ahok saat nyekar ke keluarga muslimnya lepas alas kaki…. Haters Ahok harus nonton!!” Cuitan itu mendulang 81 retweet.

Bila sebelumnya linimasa Fiona cuma berisi informasi selentingan lewat, kali ini linimasanya bercorak pilkada. Sesekali ia menanggapi respon dari pengguna lain yang meledeknya. Riuh-rendah di media sosial ini biasa dianggap sebagai dinamika pemilu di Indonesia.

Persoalannya, Fiona bukanlah pemilih di DKI. Lebih tepatnya, Fiona bukanlah perempuan berambut hitam seperti yang ditampilkan di profilnya.

Sosok Fiona Gabriella sebetulnya tak pernah ada. Akun @Fiona_Gabriell adalah satu dari ribuan akun bodong yang beredar luas di jagat internet Indonesia. Akun-akun bodong ini dikelola oleh kelompok-kelompok yang biasa disebut sebagai cyber army. Mereka bertugas mempromosikan nama tokoh politik dan terkadang menjatuhkan yang lain.

Pasukan kampanye yang terselubung

Tio (27) adalah salah seorang anggota cyber army. Lelaki berkacamata ini pertama kali terlibat ketika Pilpres 2014. Saat itu dia membantu pemenangan capres yang disokong partai berwarna dominan merah.

Dia pertama kali terlibat lantaran ajakan seorang teman. Karena performanya dianggap bagus di pilpres, Tio lanjut menjajaki sebagai cyber army di pilkada lain. “Saya senang namanya kerja digital gitu,” kata lelaki yang juga berbisnis online ini. “Passion, udah gitu menghasilkan duit. Sambil menambah teman, networking.”

Tio tak bekerja sendirian. Satu tim cyber army berkisar 20 sampai 30 orang. Tim itu dipimpin seorang koordinator yang bertugas mengatur apa yang harus diterbitkan, pada jam berapa, dan detil teknis lain seperti tagar yang digunakan.

Setiap harinya koordinator memberikan instruksi apa yang harus dicapai di hari itu. Sebagian besar suplai konten–seperti meme, grafis, link berita, dan informasi terkini soal sang calon–juga datang dari koordinator. Tim cyber army tinggal mengolah dan memvariasikan saja.

Laskar ini umumnya tak memiliki kantor, bekerja secara remote dengan modal gadget, dan menerima instruksi dari grup WhatsApp. Mereka digaji setiap bulan sepanjang periode kerja. “Dulu di pilpres saya dapat 1,5 juta,” kata Tio. “[Di pilkada lain] jadi 2 juta.”

Tim cyber army menyasar beragam kanal, dari Facebook dan Twitter sampai situs berita. Di tiap kanal, setiap orang memegang dua sampai lima akun. Artinya dalam satu tim cyber army bisa ada hingga 150 akun bodong di satu kanal saja.

Pada musim pilkada cyber army memang sibuk bergerilya. Dari tanggal 9 sampai 14 Desember, @Fiona_Gabriell sudah memproduksi 32 cuitan. Akun @kasmiradewi8, dengan alias Kasmira Indah Dewi, memproduksi 153 cuitan selama tanggal 12 sampai 15 November, semua mendukung Agus Yudhoyono. Namun gerak-gerik cyber army bukan cuma terbatas di pilkada.

Taruhlah Bobby (bukan nama sebenarnya) misalnya. Sejak bulan April dia bergeliat dalam tim yang bertugas mengangkat citra Ahok. Salah satu topik yang digarap terkait skandal reklamasi Teluk Jakarta.

Seperti Tio, Bobby bekerja dalam tim. Mayoritas anggotanya sebaya, masih mahasiswa semester akhir seperti Bobby. Sebagian besar adalah mahasiswa dari kampusnya sendiri, suatu kampus negeri ternama di pinggir luar Jakarta. Karena remote, tim ini cuma bertemu tiap akhir bulan. Tiap bulan koordinator mengevaluasi kerja tim.

Setiap harinya Bobby dikomando lewat WhatsApp. “Dalam grup [WhatsApp] itu ada instruksinya. Ketika jam satu disuruh twit, tanggal sekian, maka serentak semua,” Bobby menjelaskan. Bagi yang berhalangan mencuit harus lapor lewat grup WhatsApp. Bobby sendiri mengaku sering izin. “Kerjanya ‘kan fleksibel,” katanya tersenyum-senyum. “Beda ketika ngantor, harus luangin waktu lima-enam jam per hari.”

Walau relatif santai, kerahasiaan tim cyber army sangat dijaga. Setiap pembicaraan di grup nyaris tak boleh keluar dari WhatsApp.

Bobby juga tak mengetahui siapa yang mengepalai koordinatornya itu. “[Komunikasi] saya diputus sampai kordinatornya itu,” paparnya. “Katanya sih yang di atas teman saya ini stay di kantor.”

Kantor itu, tutur Bobby, berlokasi di kawasan Tebet. Di kantor itu ada ruangan khusus tamu dan ruangan khusus pegawai. Tim cyber army dibatasi cuma di ruang tamu. Anggota tim yang mau berkunjung harus ikut bersama koordinator. “[Alamatnya] enggak pernah dikasih tahu di WhatsApp.” (Baca juga: Gerilya Kampanye dari Cyber Army Sampai ke Buzzer)

Bobby sendiri menjaga jarak dengan sesama anggota tim, meski sekampus. “Saya ‘kan jaga privasi,” sebutnya, sambil melirik-lirik sekitar saat bertemu Youth Proactive di minimarket lingkungan kampusnya. “Hubungan [kami] cuma pas kerja.” Dia juga mengaku tak banyak bercerita pada teman-teman lain di kampusnya.

Meski digaji, tim Bobby bekerja tanpa kontrak. Setiap pembayaran gaji, koordinator cyber army Bobby lebih menyukai bertemu langsung dengan tim. “Kalau misalnya enggak bisa ketemu ya lewat transfer. Tapi lebih diutamakan ketemu,” katanya. Lelaki berambut ikal ini biasanya berkumpul dengan timnya di suatu kafe berinisial HC, dekat lingkungan kampus.

Seolah-olah manusia sungguhan

Keberadaan bot pernah meramaikan Pilpres 2014. Di Pilgub DKI Jakarta, mereka masih kerap muncul. Berdasarkan analisis dari konsultan data Provetic selama 23 September sampai 9 Oktober 2016, lebih dari setengah total pembicaraan mengenai Agus Yudhoyono dan Anies Baswedan dipicu oleh akun-akun bot.

Trending topic sekarang itu kebanyakan enggak organik (tak kelihatan manusiawi, red.). Keyword-nya hampir sama, kata-katanya hampir sama,” kata Permai, digital strategist yang terlibat dalam kampanye politik digital. Menurut perempuan yang namanya minta disamarkan ini, bot umumnya cuma untuk menaikkan trending topic.

Berbeda dari akun bot, akun yang dikelola cyber army mengesankan seakan akun bodong mereka adalah manusia sungguhan.

Tim cyber army kerap memberi selingan postingan santai di sela posting politiknya. “Supaya orang kalau ngecek enggak isinya tentang Ahok semua,” kata Bobby. “Saya posting misalnya, ‘ngopi lah sini, di Lebak Bulus.'” Sewaktu membuat akun pun Bobby mencari inspirasi bermodal Google. “Searching saja ‘nama-nama paling bagus’, entar muncul. Cari foto yang menarik. Foto-foto orang, artis.”

Soal merekayasa akun, Tio sedikit lebih niat. “Saya tahu tuh akun-akun yang ngambil dari Google. Gampang banget [mengenalinya].” Tio lebih menyukai cara lain: memakai foto-foto temannya.

“Teman saya yang sudah jarang online, saya ambil fotonya,” jelas lelaki itu tersenyum-senyum. “Supaya orang yakin itu foto asli, saya enggak pernah cuma ambil satu foto.” Foto-foto itu lalu dia ganti secara bertahap, seakan-akan akun bodongnya manusia sungguhan yang baru mengunggah selfie. “Saya ada lima akun anonim, fotonya cewek cantik semua.”

Taktik ini diikuti oleh teman-teman di tim Tio. “Sembilan puluh persen isinya [pakai foto] cewek. Karena orang malas lihat cowok. Seganteng-gantengnya cowok, malas, hahaha.”

Sambil posting politik, trik ini sukses mendulang penggemar. “Rata-rata follower saya pasti di atas 200 atau 300 orang,” kata dia tertawa. Tio menjelaskan sebulan bisa bertambah sekitar 40 follower di Twitter dan ratusan di Facebook. “Dan itu saya tanpa beli lho ya. ‘Kan banyak tuh yang beli atau gratisan gitu.”

Menurut Permai memang ada juga koordinator yang memodalkan timnya dengan akun yang sudah disediakan. Permai sendiri pernah jadi koordinator dalam kelompok kecil cyber army. Dia memberikan 50 akun untuk dimanfaatkan timnya. Tak seperti akun-akun Tio dan Bobby yang memulai dari nol, akun-akun ini biasanya sudah punya banyak follower Twitter dan teman Facebook.

Menyusup ke linimasa

Sasaran kanal cyber army bisa berbagai macam tergantung tujuan. Facebook, kata Permai, adalah salah satu sasaran utama. Di kanal yang menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) ada 71,6 juta pengguna Indonesia ini, akun-akun bodong menyusup ke grup dan fanpage.

“Sudah kita kasih list. Grupnya ini, fanpage-nya ini, akun Facebook-nya yang harus dikomenin ini,” kata Permai. Akun-akun bodong itu bisa menyelinap ke 100 grup Facebook. Tak semua grupnya harus mendukung si calon–bisa saja di grup umum atau grup yang kontra.

Penampakan laman Facebook DKI Jakarta Kita.
Penampakan laman Facebook DKI Jakarta Kita. Menurut Bobby, sebagian besar isinya palsu. Foto: Screenshot DKI Jakarta Kita / Pradipa PR

Kanal lain yang digemari adalah Twitter. Walau kanal ini sudah berkurang penggunanya, Permai melihat masih banyak influencer (orang yang pendapatnya berpengaruh di media sosial) yang bisa dimanfaatkan di sana. “Kalau di Twitter, ya kekuatan influencer itu masih agak lumayan tinggi.” Tokoh-tokoh yang terlibat politik seperti Budiman Sudjatmiko, Ridwan Kamil, Yunarto Wijaya, dan lain-lain pun masih bermain Twitter.

Selain itu yang lazim disasar juga adalah kolom komentar di situs-situs berita dan media agregasi berita seperti LINE Today. Forum-forum seperti Kaskus dan Indowebster pun bisa jadi sasaran.

Tim Bobby, misalnya, bergerak di dua kanal: Facebook dan Twitter.

Di Twitter, tugas tim cyber army Bobby adalah mencuit artikel berita dan/atau meme, lengkap dengan tagar. Selain itu, ada akun-akun yang tugasnya melakukan rangkaian cuitan berseri (kultwit). Kultwit itu kemudian diarsipkan dengan perangkat Chirpstory. Chirpstory ini lalu disebarluaskan lagi oleh akun-akun yang lain. “Kita tag itu orang-orang pengamat politik, kayak Hanta Yuda,” kata Bobby.

Akun @SultoniStark misalnya, berbunyi, “Kalo emang aman buat lingkungan, mending dilanjut! #LanjutkanReklamasiJakarta http://chirpstory.com/li/324762″ Cuitan itu merujuk ke Chirpstory manfaat reklamasi Jakarta. Akun Septi Febriyanti yang ber-username @06Bavarian, mencuit, “Kalo mau maju yah harus Ahok #JakartaButuhAhok @DKIJakartaKita,” sambil mengutip retweet yang menautkan link berita.

Berdasarkan pantauan Youth Proactive, cuitan terkait reklamasi berporos pada dua akun: @annisafauziiia, yang membuat kultwit, dan @DKIJakartaKita. Setiap akun lain kerap me-retweet dan mention dua akun tersebut. Puncaknya, di tanggal 5 Agustus akun @DKIJakartaKita dibicarakan 846 kali.

Di Facebook, tim Bobby bertugas meramaikan satu laman Facebook bernama DKI Jakarta Kita, laman yang bernama sama dengan poros akun di Twitter. Robby menyebutkan bahwa fanpage itu memang digarap untuk proyek ini. Salah satu posting laman itu berbunyi, “Ternyata para nelayan sudah memberikan dukungan terhadap reklamasi Jakarta,” sambil menautkan link situs berita. Like-nya mencapai 2800, komentarnya 260, dan share-nya 25. “Kebanyakan palsu,” kata Bobby.

Bukan cuma kubu Ahok

Menurut laporan Gatra, pembicaraan di Twitter memang didominasi pembicaraan mengenai Ahok-Djarot. Kubu yang disokong PDIP–partai yang menurut Permai paling melek digital–ini adalah yang paling gencar berpropaganda di internet. Tetapi selama melakukan penyelidikan, Youth Proactive juga mencoba memantau akun-akun lain yang bergerilya di linimasa.

Salah satunya ada akun @Bayu_5etiadi. Dibuat pada 6 November, cuitan pertama akun ini adalah “selamat pagi.” Jeda dua twit kemudian, akun ini langsung memulai rangkaian kultwit dengan tagar #KepSeribuAniesSandi. Di kesempatan lain, @Bayu_5etiadi menyindir influencer yang kerap memberi twit positif pada Ahok, “Kocaknya kubu ahok itu demen nyari pembenaran.. Keliatan dari twit2 kurawa dan partai sosmed #NyariYangSantun.”

Screenshot @Bayu_5etiadi yang berkampanye
Terlahir untuk jadi juru kampanye. Foto: Screenshot dari linimasa @Bayu_5etiadi / Pradipa PR.

Di lain waktu, twit @Bayu_5etiadi bernafas Islami. “Serangan milisi rejim Assad & kawan2nya membabi buta. Semua menjadi sasaran #SaveAleppo.” Menurut temuan Lingkaran Survei Indonesia, profil pemilih Anies secara umum adalah Muslim. Konten Islami menjadi bagian dari taktik kubu Anies.

Taktik bernada Islami ini sempat muncul tanggal 12 Desember lalu dengan tagar #AniesSandiRinduRasul. Dari yang Youth Proactive amati, paling tidak ada dua akun mencolok yang meramaikan tagar ini: @BulmaCleverton dan @akukarinaa. Keduanya, seperti @Bayu_5etiadi, sama-sama dibentuk bulan November. Di linimasanya, pada lain kesempatan, akun @akukarinaa mencuit #SaveAleppo, sama dengan @Bayu_5etiadi.

Meski tim cyber army dihimbau untuk tampil sewajarnya manusia, pengelolaan akun yang teledor masih bisa dijumpai.

Lihat saja VJ Eko Siswanto alias @Eko_sisw misalnya. Tertanggal 11 Desember, akun ini menunjukkan dukungan pada Agus Yudhoyono. “Pemimpin muda berkharisma, jakarta butuh penyegaran #KitaAHY,” tulisnya. Namun bila menengok enam bulan sebelumnya, bisa ditemui cuitan pro-Ahok, “Yongs RT @DKIJakartaKita: Keep Calm #JakartaButuhAhok #JakartaButuhAhok.” Twit bertanggal 17 Juni ini mengutip akun @annisafauziiia (per 21 Desember, twit ini sudah dihapus).

Tadinya mendukung Ahok jadi mendukung Agus
Akun sama, admin beda. Foto: Screenshot dari cuitan @Eko_sisw / Pradipa PR

Kasmira Indah Dewi alias @kasmiradewi8 juga serupa. Di musim kampanye ini, dia rajin mencuit #KitaAHY. Namun, Maret lalu, hampir sebulan dia mempromosikan Blue Bird dengan tagar #asyikgrateees dan #TolakTransportasiIlegal, ketika terjadi demo sopir Blue Bird. Memang, kata Permai, bukan cuma politikus yang memanfaatkan cyber army. Perubahan linimasa yang drastis seperti ini, biasanya juga disertai dengan jeda, adalah keteledoran yang kerap terjadi pada akun cyber army.

Lalu, bagaimana mengenali cyber army? Sebagian akun cyber army bisa diidentifikasi dari username-nya. Beberapa punya nomor seri sekian digit pada username-nya.

Misalnya saja @Sandra72997149 alias Sandra. Ada juga akun lain seperti @DindaKa46871925 alias Dinda Kania. Ada pula @Tornado15536354 alias Tornado. Akun-akun ini menurut Permai adalah akun bodong hasil jual-beli. “Biasanya mereka mainnya nomor. Dia jualin unique ID-nya. itu rata-rata namanya hampir sama semua.” Kata dia, akun bodong hasil jual-beli ini bisa jadi pemilik akun yang sudah tak memakai lagi akunnya. “Apalagi kalau akunnya tua.”

Akun cyber army juga bisa dikenali dari siapa yang di-follow atau dijadikan temannya.

Saat tagar #BadjaJakOne mencuat di trending topic, akun @IasMardiyah memenuhi tagar tersebut. Selain @IasMardiyah, ada juga @Aya_Syari, @imDheaDe, @diannyanna90, dan @aisharana_. Empat akun yang disebut belakangan saling follow, dan keempatnya follow akun yang sama sebagai pusatnya: @IasMardiyah. Semuanya membahas program Ahok.

Menurut Bobby, itu cara paling mudah mendeteksi cyber army. “Following-followers saling berkaitan antara satu dengan yang lain,” ungkapnya. “Kita pasti tahu lah, mereka akun fake.”

Bukan satu-satunya

Tim tempat Bobby bekerja bukanlah satu-satunya tim. Dia diinformasikan bahwa ada tim cyber army lain. “Kita ada bagian offense, ada bagian defense,” kata dia. Setiap kali ada akun tak dikenal yang mention atau berseberangan pendapat, Bobby biasanya bertanya apakah akun itu dari tim tetangga di kubu yang sama atau bukan. Supaya Bobby tahu apakah mereka perlu ditanggapi.

Sepanjang dia mengoperasikan akun-akun bodong, Bobby juga menyebutkan bahwa ada tim yang menyediakan konten. Dari meme, grafis, link berita yang mesti dipromosikan, sampai perkembangan terbaru soal Ahok, semuanya bukan datang dari timnya. Konten itu disalurkan ke koordinator, kemudian baru ke anggota tim. Mereka lalu sekadar posting saja.

Memang, tim cyber army cumalah satu dari bagian digital campaign politik yang lebih besar.

***

Catatan (24/12): Artikel ini sebelumnya mencantumkan informasi ambigu tentang siapa yang menyuplai konten (seperti meme dan grafis) bagi cyber army. Pembaharuan tertanggal 24 Desember memperjelas bahwa sebagian besar konten berasal dari koordinator, bukan cyber army sendiri.

Sharing is caring!
Share on Facebook147Tweet about this on Twitter130Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page
Tulisan ini adalah bagian 1 dari 3 bagian liputan khusus tentang Propaganda di Dunia Maya.

FOKUS

Propaganda di Dunia Maya
wp-content/uploads/2016/12/2016-12-21-lipsus-buzzer-part1v2-1170x512.jpg
  1. Bagian 1 Cyber Army, Mesin Propaganda yang Tak Kasat Mata Anda sedang membaca bagian ini
  2. Bagian 2 Gerilya Kampanye dari Cyber Army Sampai ke Buzzer
  3. Bagian 3 “Buzzer Muncul Karena Elite Politik Menganggap Publik itu Bodoh”

2 responses to “Cyber Army, Mesin Propaganda yang Tak Kasat Mata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *