Massa aksi Operasi Cuci Mobil
Massa aksi di unjuk rasa antikorupsi di Brazil. Foto: The Guardian.

Dari Pombensin ke Skandal Besar Korupsi BUMN Brazil

Selama dua tahun terakhir, siaran berita Brazil kena rambah telenovela baru. Tapi, beda dengan telenovela yang biasa tayang sekaligus tiga di sore hari, telenovela yang merambah siaran berita Brazil ini lebih banyak melibatkan polisi berseragam dan kasus-kasus yang selalu membuat warga sakit kepala: korupsi.

Tanpa glamor dan bintang tenar, Operação Lava Jato–secara harafiah artinya Operasi Cuci Mobil (Operation Car Wash)–berawal dari investigasi pencucian uang yang terjadi di suatu pombensin. Penyelidikan kecil itu kini menjadi parade pemborgolan pejabat dan pebisnis serta penggrebekan polisi, hampir tiap hari menghiasi berita di Brazil.

Operasi Cuci Mobil sudah menyeret elite politik dan ekonomi terbesar Brazil. Sudah ada 232 orang yang diselidiki, 160 orang yang ditangkap, 93 orang yang didakwa, dan 16 perusahaan yang terlibat. Investigasi kasus ini mengungkap skandal suap dan cuci uang yang melibatkan BUMN minyak Brazil, Petrobras. Kasus ini juga menyeret bekas presiden Lula da Silva ke dalam daftar orang yang diselidiki.

Berdasarkan investigasi ini, diduga perusahaan-perusahaan konstruksi di Brazil membayar milyaran dolar suap untuk mengamankan kontrak kerja dengan Petrobras. Mereka kemudian menggelembungkan biaya untuk pengerjaan konstruksi. Sisa biaya yang digelembungkan itu lalu dibagi-bagi, di antaranya dialirkan ke partai politik pro pemerintah untuk mendanai kampanye pemilu. Salah satu partai yang mendapat aliran dana tersebut adalah Partai Pekerja, tempat da Silva bercokol.

Di antara tokoh yang tertangkap adalah Marcelo Odebrecht, bekas pimpinan perusahaan konstruksi terbesar di Amerika Selatan. Dia diganjar 19 tahun penjara atas penyuapan dan pencucian uang sebesar 30 juta dolar yang dibayarnya ke elite-elite Petrobras. Renato Duque, direktur jasa Petrobras, juga sudah dibekuk aparat. Perusahaan-perusahan lain yang terlibat misalnya adalah Camargo Correia group, OAS, UTC, and Queiroz Galvão–semuanya perusahaan besar di Brazil.

Besarnya uang yang digelontorkan dalam skandal korupsi ini masih belum mendapat angka pasti. Tapi pengadilan Brazil sudah menahan aset sebesar 270 juta dolar dan mengungkap kontrak mencurigakan sebesar 22 miliar (BBC.com, 21/11/2014). Menurut saksi, di kontrak-kontrak antara Petrobras dengan perusahaan-perusahaan konstruksi antara tahun 2003-2012 saja sudah meraup angka paling tidak 10 juta dolar (International Bar Association, 10/4/2015).

Maret lalu, tiga juta warga Brazil unjuk rasa ke jalan untuk memprotes skandal korupsi yang besar ini. Selain menyeret da Silva, kasus korupsi yang dibongkar Operasi Cuci Mobil ini juga melibatkan Dilma Rousseff, presiden Brazil yang juga berasal dari Partai Pekerja. Rousseff sendiri adalah bekas anggota dewan Petrobras. Dia menjabat selama tahun 2003-2010, persis ketika korupsi Petrobras diduga terjadi.

Warga Brazil turun ke jalan segera setelah Rousseff mengangkat da Silva, bekas presiden itu, sebagai kepala staf presiden. Tak lama setelah pengangkatan itu, jaksa yang memeriksa skandal korupsi ini mengungkap hasil sadapan telepon antara Lula dan Rousseff yang menunjukkan bahwa pengangkatan itu adalah upaya untuk melindungi si bekas presiden dari penyelidikan (The Guardian, 17/3).

Skandal korupsi ini ditengarai berkaitan erat dengan ekonomi Brazil yang terus-menerus memburuk. Tahun lalu, ekonomi Brazil turun sebesar 3,7%. Sepanjang 2016 tak ada tanda-tanda membaik. Apalagi skandal korupsi BUMN terbesar Brazil ini masih dalam penyelidikan.

Semua skandal ini berawal dari penyelidikan kecil kepolisian di Posto da Torre, sebuah pombensin di sudut kota Brasilia, ibukota Brazil.

Foto Posto da Torre dari atas.
Pombensin Posto da Torre menginspirasi polisi untuk menamai investigasinya sebagai Operasi Cuci Mobil. Foto: Will Connors/The Wall Street Journal.

Dari jauh, pombensin itu memang tak tampak aneh. Menurut pantauan The Wall Street Journal (21/6/2015), seperti pombensin lainnya, Posto da Torre memiliki 16 tempat pengisian bensin dan minimarket kecil. Ada konter kecil tempat pelanggan bisa memesan kopi dan kue-kuean. Bedanya, di tempat itu juga ada sebuah plang bertuliskan Cyber Cafe (warnet). Hanya saja tanpa ada komputer sama sekali.

Di pombensin inilah polisi menemukan keganjilan. Berjarak sekitar tiga kilometer dari balai kota, para pencuci uang sering menggunakan jasa pertukaran mata uang dan transfer uang yang tersedia di sana. Mereka membantu eksekutif Petrobras untuk mentransfer uang ke rekening luar negeri.

Eksekutif Petrobras itu kemudian ditangkap pihak kepolisian. Untuk meringankan hukumannya, si eksekutif bersepakat untuk menceritakan penggelembungan dana yang dilakukan Petrobras selama bertahun-tahun. Cerita itu kemudian membawa kepolisian untuk menyelidiki kasus ini.

Dari sinilah kemudian terungkap skandal besar yang melibatkan elite-elite politik dan ekonomi Brazil yang tadinya nyaris tak tersentuh hukum. Sebuah penyelidikan kecil rupanya dapat berujung pada pembongkaran kasus korupsi yang jauh lebih besar.

Atas keuletan investigasi ini, Transparency International (TI) mengganjar pihak kepolisian yang menangani Operasi Cuci Mobil–dikenal sebagai Operation Car Wash Task Force–sebagai pemenang International Anti-Corruption Award 2016. International Anti-Corruption Award adalah penghargaan yang diberikan TI kepada jurnalis, penegak hukum, pejabat pemerintah, dan kalangan masyarakat yang berusaha mengungkap dan melawan korupsi.

Sebelum Operasi Cuci Mobil, sebelumnya Brazil juga pernah menerima penghargaan dari TI. Di tahun 2002 Luis Roberto Mesquite menerima Integrity Award karena perannya sebagai whistle-blower.

Sharing is caring!
Share on Facebook12Tweet about this on Twitter6Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *