Antrean panjang e-KTP. Foto: Nurul Hidayat/MetroTVNews.com
Antrean panjang e-KTP. Foto: Nurul Hidayat/MetroTVNews.com

KTP Elektronik di Kota Bekasi untuk yang Datang Subuh

Pagi hari tiba, tetapi matahari masih ufuk timur. Adzan subuh mulai berkumandang dan antrian panjang sudah tercipta di latar kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil). Termasuk saya, yang berangkat ba’da subuh dan turut mengantri bersama masyarakat Kota Bekasi.

Di pertengahan bulan September kemarin, saya kembali ke kantor Disdukcapil untuk perekaman KTP Elektronik. Ini sudah ketiga kalinya saya kembali dan baru hari ini saya mendapatkan nomor urut. Semakin siang masyarakat semakin padat demi KTP Elektronik yang katanya perekaman terakhirnya dilakukan tanggal 30 September 2016.

Tidak adanya sistem nomor antrian membuat masyarakat saling berdesakan agar menjadi bagian 200 nomor urut hari ini. Suasana panas dan keringat di kening tidak kami hiraukan. Hal yang kami pikirkan adalah kami yang datang paling pagi dan kami yang berhak untuk mendapatkan nomor urut.

Di detik-detik pintu kantor akan di buka, kami segera mengambil posisi untuk menerobos pintu dan meletakkan persyaratan di depan loket. Setelah pintu dibuka, masyarakat mulai menciptakan kericuhan dan saling dorong mendorong. Yang di belakang kami, entah apakah tidak menghiraukan kami yang sudah mengantri di depan pintu sedari pagi terjepit atau terdorong. Bahu sebelah kiri saya terasa sakit sekali akibat dorongan masyarakat dibelakang.

Saat saya berhasil meletakkan persyaratan di depan loket dan mendapat nomor urut, saya mendengar beberapa masyarakat yang sendalnya terlepas akibat dorongan di depan pintu tadi. Sambil menunggu perekaman, saya berpikir sejenak: mengapa tidak ada inisiatif untuk mengatasi nomor antrian pembuatan KTP Elektronik sehingga tidak akan terjadi kericuhan di depan pintu seperti tadi pagi?

Beberapa solusi yang saya temukan adalah:

  1. Jika saya berani dalam mengkoordinasi masyarakat yang datang lebih awal untuk mengumpulkan persyaratannya hingga memenuhi 200 nomor antrian, pasti tidak akan terjadi kericuhan seperti tadi pagi. Dan tentunya masyarakat yang datang belakangan tidak akan memaksa untuk memasuki pintu dan membuat kericuhan;
  2. Jika pegawai Disdukcapil memiliki inisiatif untuk membuat nomor antrian, pastinya tidak ada kericuhan yang terjadi akibat berebutan masuk pintu.

Sebagai masyarakat, saya merasa bahwa pelayanan di Disdukcapil perlu ditingkatkan. Memang tidak ada penambahan uang intensif untuk menangani masyarakat lebih pagi lagi sebelum jam masuk kantor (sebelum jam 08.00). Tetapi apakah masih tidak bisa juga jika meluangkan waktu 15 menit lebih awal masuk kantor untuk menangani masalah nomor antrian ini?

Setidaknya, yang perlu dilakukan adalah melibatkan para pegawai muda yang punya solusi dan inisiatif. Saya lihat beberapa pegawai yang masih energik dalam melayani masyarakat. Jika memang dibutuhkan relawan, saya siap untuk membantu menangani masalah tersebut.

Sebagai anak muda, solusi yang bisa saya lakukan dalam menangani masalah tersebut adalah: menulis nama lengkap masyarakat yang datang lebih awal sampai nomor urut 200. Sehingga dari sini, kita dapat melihat yang paling berhak dalam mendapatkan nomor urut perekaman KTP Elektronik adalah masyarakat yang datang lebih awal.

Menurut saya solusi tersebut sangat efektif jika dilakukan dengan benar, sehingga budaya tertib dan saling menghargai antar masyarakat dapat terlihat saat perekaman KTP Elektronik di Kota Bekasi.

Memang setiap solusi pasti ada tantangan. Untuk solusi tersebut, tantangan yang mungkin ditemukan adalah adanya masyarakat yang tidak menerima dan tidak mau mengikuti solusi tersebut karena pola pikirnya yang menggambarkan bahwa setiap masyarakat berhak untuk mendapatkan nomor antrian, baik yang datang subuh maupun yang datang kesiangan.

Tetapi pola pikir tersebut akan kandas ketika sampai di depan pintu masuk dan yang paling depan adalah kami, yang datang subuh. Jadi lebih baik ada solusi atau kita biarkan saja?

Sharing is caring!
Share on Facebook14Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *